INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Senin, 31 Agustus 2015

Kata Abang Sayur, Tempe 'Mengecil' Karena Dollar Naik


Layaknya antrian untuk mendapat jatah air bersih -- yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, sebagai dampak musim kemarau panjang -- harga-harga kebutuhan pokok juga tak mau kalah, satu demi satu 'antri' untuk naik harga. Awalnya cuma daging sapi, daging ayam dan cabe, yang beranjak naik, sejak menjelang bulan puasa silam. Nyatanya, di minggu ke-2 Agustus malah diikuti bawang merah, beras dan kedelai.

Tentu saja, saya tidak akan membahas masalah kenaikan harga ini layaknya para 'pakar' yang dalam beberapa hari ini rajin muncul di acara dialog televisi, baik lokal maupun nasional. Di 'Secangkir Teh' cukup dibahas sembari minum teh hangat dan menyantap tempe mendoan -- yang karena alasan harga lagi mahal -- tidak disertai cabe rawit dan sambal kecap, seperti biasanya.

Nah, mumpung 'ngomongin' tempe, ternyata jenis makanan yang sedang didaftarkan ke Unesco -- badan internasional yang mengurusi masalah kebudayaan -- sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia, minggu-minggu ini lagi jadi 'trending topic' pembicaraan ibu-ibu dan tukang sayur di komplek perumahan. Sepele saja, yang diributkan kenapa dengan harga yang sama seperti biasanya, tapi ukuran tempe jadi mengecil. Kata abang tukang sayur sih, karena pengaruh harga dollar yang lagi naik (sok tau ya?).

Kita abaikan apa jawaban tukang sayur pada ibu-ibu tersebut. Karena jawaban pastinya -- yang info validnya saya dapat dari harian Kompas -- saat ini harga kedelai di tingkat pengecer mengalami kenaikan. Dampaknya, pengusaha tempe rumahan dibuat pusing, ada dua pilihan untuk antisipasinya: menaikkan harga jual atau memperkecil ukuran tempenya. Dan beberapa pengusaha tempe di wilayah Jakarta Timur dan Bogor memilih opsi 'memperkecil ukuran' tempe sampai 5 persen dari ukuran semula.

Gara-gara itu pula, ini untuk informasi saja -- khususnya yang suka kuliner pinggir jalan di malam hari -- sudah seminggu lebih sebagian pedagang makanan warung tenda pecel lele & pecel ayam di sepanjang Jalan Raya Bogor dan Jalan Alternatif Cibubur (Jakarta Timur), membuat 'penyesuaian' menunya. Ukuran potongan ayam dan tempenya dikurangi dari biasanya, menyusut lebih kecil. Harganya sih rata-rata masih tetap, belum naik.

Nah, untuk masalah kedelai, ada hal menarik yang patut disimak. Yaitu informasi yang diberikan importir kedelai -- seperti diketahui kedelai bahan baku tempe masih import dari Amerika Serikat -- sebenarnya harga kedelai di negeri asalnya masih stabil, belum ada kenaikan, bahkan sekarang justeru lagi masuk musim panen. Kalau toh ada kenaikan, diperkiran pada awal tahun depan. Begitu.

Memang, pemerintah tidak tutup mata untuk mengatasi masalah kedelai ini. Untuk mengantisipasi kenaikan harga -- kedelai import -- di awal tahun depan misalnya, pemerintah mencoba memenuhi stock kedelai dengan mengintensifkan produksi dalam negeri. Caranya, memanfaatkan sisa musim tanam tahun ini dengan diversifikasi tanaman kedelai di lahan-lahan produktif.

Masalahnya, ini pemikiran saya, apa ketersediaan air untuk menanam kedelai tersebut tercukupi, mengingat saat ini hampir di semua daerah di Indonesia mengalami kekeringan. Untuk areal lahan produktif -- kalau benar yang dimaksud adalah persawahan -- mungkin tidak ada kendala. Ah, biarkan pemerintah saja yang memikirkan jalan keluarnya.

Kembali ke masalah tempe tadi -- masih belum tuntas dibahas, karena berhubungan dengan hajat hidup rakyat kecil -- nampaknya akan 'berbuntut panjang' dampaknya. Bukan hanya hidangan tempe (sebagai lauk) di meja makan yang akan berkurang, atau pedagang pecel lele yang sudah 'kreatif' mempertipis ukuran tempenya, tetapi juga para penjual gorengan, warteg dengan tempe orek-nya, serta industri kripik tempe tentu terkena dampak juga.

Sambil menghabiskan satu tempe mendoan terakhir, saya jadi (ikut) berfikir, kenapa makin hari perekonomian negara kita tak makin membaik. Jangan-jangan -- seperti kata abang tukang sayur tadi -- ini (juga) gara-gara dollar yang semakin perkasa. Bisa jadi kan?

Share:

Minggu, 30 Agustus 2015

Falsalah 'Kenangan', Bermula dari Pengalaman


Kali ini saya tak bisa menahan tawa, bukan lagi sekedar senyum seperti biasanya, saat membaca komentar Gus Jun -- lengkapnya Ahmad Junaidi, akademisi sekaligus ustadz -- yang dengan entengnya menulis bahwa saya penganut aliran 'filsafat kenangan'. Celakanya, Gus Jun tidak memberikan 'bocoran' apa maksud dari kata itu.

Jujur saja, saya tidak masalah Gus Jun sedang bercanda atau serius. Karena bagi saya, Gus Jun adalah teman yang baik -- saya ketemu beliau sekitar 6 tahun silam pada sebuah acara di almamater SMA -- dan smart, yang terlihat dari tulisan dan status akun FB-nya. Tapi, bisa jadi Gus Jun, juga sedang 'meniru' tradisi kalangan kyai pesantren tradisional, yang sering melontarkan 'hal ringan' meski sebenarnya sarat makna.

Oh hiya, mumpung ini hari Minggu, saya buat topik obrolan yang ringan-ringan saja, supaya bisa melengkapi libur akhir pekan anda, di penghujung Agustus ini. Namun ingat, seringan apapun obrolan -- sebisa mungkin -- tetap harus ada 'makna' positif didalamnya. Dan nampaknya, apa yang ditulis Gus Jun, komentar dalam tulisan 'Secangkir Teh' sabtu kemarin, sangat tepat kalau dibahas pagi ini.

Terus terang, saya dari semalam berfikir keras untuk coba menterjemahkan 'Falsafah Kenangan' pemberian Gus Jun. Secara harfiah, kata itu dapat diartikan sebagai gagasan, pemikiran dan sikap batin saya -- dalam menulis -- yang berbasis kenangan masa lalu. Kenangan yang tak sebatas ingatan akan sebuah peristiwa tertentu semata, tetapi juga experience, pengalaman dalam menjalani hidup. Itu arti yang saya dapat.

Lho, koq malah serius gini ya? Katanya tadi mau santai dan ringan-ringan saja? Pasti pembaca juga sudah ada yang protes dalam hati, "Jangan berat-berat bahasanya Mas Prie, ini bukan lagi dengerin orasi ilmiah lho!"

Baik.., baik.., saya coba sederhanakan. Saya sepakat kalau Gus Jun memberi predikat tulisan saya beraliran 'Falsafah Kenangan' -- nampaknya ini faham baru dalam dunia kepenulisan, masih fresh -- karena memang (hampir) di semua tulisan 'Secangkir Teh' saya masukkan pengalaman pribadi, sebagai bagian penguat dari tulisan itu sendiri. Pengalaman hidup keseharian, yang saya jadikan argumen dari topik yang saya tulis.

Contohnya gini, ketika saya menulis ketidak setujuan terhadap kebijakan pemerintah yang membebaskan tenaga kerja asing tidak harus menguasai bahasa Indonesia, maka saya berargumen berdasar pengalaman saya bekerja dengan orang asing. Atau, ketika saya mengkritik wisata pulau Lombok, itu berdasar pengalaman saya saat berkunjung kesana.

Juga -- dalam salah satu tulisan -- saya begitu getol memuji layanan PT. Kereta Api yang prima, ya karena saya sudah membuktikan sendiri. Jadi semua berdasar kenangan (dari pengalaman) saya. Bukan kata orang, atau berdasar literatur semata.

Jadi pembaca tidak perlu su'udzon -- berburuk sangka pada saya -- seolah saya sombong, sok ngerti banyak hal, selalu membanggakan pengalaman masa lalu, yang tertuang dalam setiap tulisan di rubrik ini. Sebenarnya bukan itu masalahnya. Mengapa saya menulis lebih mengedepankan experience, karena saya tidak pandai secara teori dan dasar keilmuannya.

Makanya, dalam beberapa tulisan, secara terbuka saya mengakui, bahwa saya bukanlah ilmuwan, bukan akademisi, bukan staf ahli, bukan teknokrat, bukan politisi ataupun juga psikolog, yang menulis mutlak berdasar literatur dan bidang keilmuan, secara ilmiah. Saya hanyalah penulis, yang menuangkan ide dan pemikiran dalam sebuah tulisan features, berdasaran pengalaman -- sesekali disisipkan data dan literatur -- sebagai penguat tulisan. Itu saja.

Lantas? Ya 'the show must go on' lah. Jalan terus. Mau disebut aliran apapun, 'Secangkir Teh' akan tetap muncul seperti biasa. Mau nulis atau cerita apapun, rubrik ini akan setia hadir tiap pagi. Juga, ada ataupun tidak yang baca -- ini kebangetan, masa hiya sih pembaca tega ninggalin? -- saya akan tetap menulis di fanpage ini. Tak ada yang berubah, semua berjalan seperti biasa. Okay?


Share:

Sabtu, 29 Agustus 2015

Move On, Lupakan Romantisme Masa Lalu


Pernahkah anda mendapat 'nasehat' -- atau setidaknya mendengar -- seperti ini: "Jangan berharap akan bertemu teman seperti yang pernah kamu lihat saat sekolah dulu, karena saat ini dia juga sudah berubah tua, sama seperti kamu". Benar, itu adalah 'warning' bagi mereka yang akan menghadiri reuni sekolah, entah SMP atau SMA, agar tidak punya impian terlalu tinggi, membayangkan bertemu teman yang (dulu) masih unyu-unyu dan brondong.

Tidak dapat dipungkiri, reuni sekolah memang selalu memunculkan sisi dramatis sekaligus melankolis, apalagi jika setelah kelulusan tidak berjumpa sama sekali. Tetapi, ya itu tadi, pada dasarnya teman sekolah yang tidak pernah ketemu tersebut juga mengalami proses (hampir) sama -- kuliah/bekerja, menikah, punya anak -- sehingga saat bertemu pun sudah mulai sama-sama berumur dan menua.

Ilustrasi diatas hanya untuk mengantar pada satu pemahaman, sekaligus 'mematahkan' mitos, bahwa reuni tidaklah benar sebagai ajang CLBK (baca: Cinta Lama Bersemi Kembali) bagi mereka yang saat sekolah dulu pernah menjalin 'cinta monyet', cinta terpendam atau sekedar 'secret admirer'. Karena, rentang waktu tidak ketemu -- bisa 15, 20 atau 25 tahun lebih -- telah terjadi proses kematangan dalam bersikap dan menjalani hidup, pada setiap individu. Sehingga, cerita jaman sekolah adalah bagian masa lalu belaka.

Pengalaman saya mengadakan (dan mengikuti) reuni, baik terbatas satu angkatan maupun lintas angkatan (reuni akbar), menunjukkan bahwa mitos CLBK belum pernah terbukti. Bahkan, di grup alumni -- utamanya teman SMA -- di media sosial friendster, facebook, whatsapp dan blackberry messengers, yang pernah saya ikuti, hal ini justeru menjadi topik diskusi paling hangat, tanpa pernah menghasilkan 'pasangan' CLBK dari grup tersebut.

Pengalaman unik lain, adalah ketika saya mengasuh grup 'Radio Online 87' -- dengan listeners teman satu angkatan saat SMA -- yang khusus memutar lagu-lagu nostalgia, yang bisa membawa pada suasana jaman sekolah dulu. Meriah dan disambut antusias. Bahkan muncul hal yang tak terduga. Misal, teman yang dulu saat sekolah pendiam, setelah lama tak berjumpa (ternyata) sekarang jadi cerewet. Anda ingin tahu lagu apa yang diminta para listeners tersebut?

Simak saja: Untuk Sebuah Nama (Meriam Bellina), Kereta Senja (Masni Towijoyo), Bukit Berbunga (Uci Bing Slamet), Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), Birunya Cintaku (Hellen Sparingga), Sephia (Sheila On-7), Don't Cry (Gun's & Roses), Jangan Ada Dusta Diantara Kita (Broery Marantika), Kisah Kasih di Sekolah (Obbie Mesakh), Pupus (Dewa 19), Hampa (Ari Lasso), Mantan Terindah (Kahitna), dan puluhan lagu lainnya, yang temanya stereotype: cinta remaja.

Belum lagi ucapan dan komentar, yang biasa menyertai lagu yang diminta, semua seperti berlomba 'memuntahkan' apa yang tersimpan di hati saat masa sekolah dulu. Semua yang pernah terpendam -- hampir 30 tahun silam -- diungkap dengan gamblang, tanpa perlu 'takut' dan 'malu' untuk ditertawakan atau ditanggapi negatif. Ini menunjukkan bahwa usia 40-an keatas, sudah punya kematangan dalam mengolah 'rasa' dan kejadian masa remaja, dengan akal sehat dan bijaksana. Ya, bijaksana bersikap dan menyikapi.

Gambaran diatas, mungkin belum mewakili mayoritas (komunitas) alumni sekolah secara umum. Tetapi, setidaknya ada persamaan dari semuanya, bahwa sebenarnya (mengenang) kejadian di masa sekolah yang berhubungan dengan cinta, asmara dan sejenisnya, adalah sekedar romantisme sesaat masa lalu.

Kalau toh ada yang masih 'memendam' rasa sampai sekarang -- dan berharap bertemu dan merajut kisah lama dengan 'idamannya' dalam sebuah reuni -- hemat saya ini sebuah kesalahan besar. Sebaiknya segera lupakan fikiran itu. Ingat, masa lalu (hanya) sebuah kenangan, tapi masa kini (jelas) sebuah kenyataan. Jadi, tunggu apa lagi, ayo move on !

Share:

Jumat, 28 Agustus 2015

Gara-Gara 'Liar', Om Jaya Suprana Siap di Bully


Tergelitik juga untuk (segera) membuat ulasan dari salah satu 'Surat Pembaca' harian Kompas, edisi Kamis (27/8/2015). Bukannya apa, surat yang berjudul 'Warga Liar' itu unik, terutama cara penulisan kalimat yang panjang -- tanpa tanda jedah -- yang bisa membuat kehabisan nafas siapapun, saat membacanya. Meski demikian, bukannya ingin berhenti. Makin panjang kalimat, makin kita dibuat penasaran untuk terus membaca, sampai titik.

Lebih unik lagi ketika di akhir surat, kita dengan jelas membaca (siapa) penulisnya. Meski disitu hanya ditulis: Jaya Suprana, Jakarta Selatan. Tanpa alamat lengkap, layaknya dua penulis surat pembaca lain, yang ada di rubrik 'Surat Kepada Redaksi' tersebut.

Ya, meski di Jakarta Selatan bisa jadi banyak nama Jaya Suprana, saya haqul yakin penulis surat itu adalah Om Jaya Suprana yang 'juragan jamu' dan pendiri Museum MURI Indonesia. Saya melihat, dari ciri kalimat yang panjang dan gaya bahasa 'sambung menyambung menjadi satu' itu, adalah trademark-nya Om Jaya, salah seorang idola saya. Cerdas dan terkesan jenaka. Persis sama gayanya -- yang saya sudah hafal diluar kepala -- saat Om Jaya memandu acara talk show di televisi, atau body language beliau saat memainkan piano.

Oh hiya, dalam surat pembaca tersebut, Om Jaya merasa prihatin dengan penggusuran warga di Kampung Pulo (Jakarta Timur) beberapa hari lalu, untuk keperluan normalisasi sungai Ciliwung. Lebih prihatin lagi -- begitu Om Jaya menulis -- adalah penggunaan istilah 'warga liar' bagi masyarakat yang dianggap tidak sah bermukim di sepanjang bantaran sungai itu. Karena, secara prinsip kata 'liar' lebih layak digunakan untuk hewan atau binatang, ketimbang manusia. Tidak main-main, untuk mencari arti kata 'liar', Om Jaya harus membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Singkat cerita, meski berisiko untuk dicemooh, dicaci maki, dihujat dan di bully -- oleh para penggusur dan pendukungnya -- Om Jaya tetap memohon kepada pihak penguasa untuk tidak lagi menggunakan istilah 'warga liar' bagi segenap warga bangsa dan negara Indonesia. Juga, memohon agar warga Kampung Pulo atau siapapun yang senasib dan kebetulan hidup dalam kemiskinan, agar tidak diperlakukan (seolah-olah) musuh negara.

Begitu saja? Untuk surat pembaca Om Jaya Suprana di harian Kompas, intinya memang itu saja. Namun, menurut saya, masih ada dua hal yang patut dibahas lebih lanjut. Pertama, kemampuan pakar 'kelirumologi' -- begitu Om Jaya sering dijuluki -- ini dalam meramu sebuah kalimat panjang tanpa tanda baca jedah sejenak (baca: koma), tapi tetap bisa bikin senyum pembacanya.

Agak aneh, mau dibilang jenaka, nyatanya semua kalimat panjang itu bernada serius. Tapi, begitu kita membacanya, pasti tersenyum (seolah) ada yang lucu. Saya kira, ini adalah sebuah teknik dan kemampuan menulis tingkat 'tinggi' yang hanya dimiliki Om Jaya Suprana.

Kedua, pemakaian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk -- referensi dasar -- memperkuat sebuah tulisan. Dalam konteks tulisan Om Jaya, memang mutlak harus memakai referensi kamus, karena berhubungan dengan 'inti' keseluruhan surat. Tapi, secara umum, menurut hemat saya pemakaian KBBI dalam 'memperkuat' pemakaian kata dalam sebuah tulisan, tetap diperlukan. Tak perduli sebuah tulisan ilmiah, fiksi, atau pun tulisan ringan macam 'Secangkir Teh' ini.

Saya termasuk yang fanatik menggunakan KBBI, selain kamus Bahasa Inggris, dalam membuat tulisan. Terutama untuk crossceck arti sebuah kata serapan bahasa Indonesia, meski sudah umum digunakan dalam keseharian, seperti: provokatif, hirarki, kontroversial, harfiah, dll. Karena, saya tidak ingin pembaca menemukan kata yang tidak pada tempatnya, di tulisan-tulisan saya.

Bagi saya, ini adalah bagian tanggung jawab (seorang) penulis untuk menggunakan kata -- dalam bahasa Indonesia -- dengan baik dan benar. Sehingga, selain pembaca mendapatkan sajian tulisan ringan yang enak dibaca, secara tidak langsung pembaca juga 'belajar' menyusun kalimat dengan kata yang benar. Setuju?

Share:

Kamis, 27 Agustus 2015

Resiko Menulis di Ruang Publik

Ibarat mengemudi kendaraan di jalan bebas hambatan -- yang tanpa disadari kecepatan terus bertambah -- dalam lima hari terakhir 'Secangkir Teh' juga ikut-ikutan tancap gas dengan tema dan kritik yang tak seringan biasanya. Meski masih masuk kategori halus dan santun, rasanya kurang elok kalau tiap pagi pembaca setia disuguhi tulisan dengan tensi tinggi, tanpa selingan bertema features, sebagai ciri khas rubrik ini.

Pagi ini, saya coba mengajak pembaca untuk santai sejenak, dengan -- bersama-sama -- melakukan refleksi perjalanan 'Secangkir Teh' dalam satu bulan terakhir, yang secara rutin dan tanpa jedah hadir di fanpage ini.

Baiklah, seperti pernah saya tulis sebelumnya, untuk menulis di rubrik ini, pilihan tema kadang muncul disaat injury time -- mengikuti mood dan ide liar yang sering datang tanpa diduga -- sehingga ritme tulisan terkesan tidak stabil. Kadang tensi normal, dengan tulisan ringan yang datar-datar saja. Tapi, sesekali bisa melonjak drastis, dengan tema nyerempet politik, meski masih bisa terkontrol.

Terus terang, 'Secangkir Teh' dari awal memang menghindari tema politik, hukum dan agama, secara langsung. Selain saya (merasa) belum punya kemampuan dan pengetahuan untuk membahas materi tersebut, saya juga ingin menjaga hubungan harmonis dengan pembaca, dengan tidak 'menyeret' ke masalah sensitif dan 'membenturkan' pada perbedaan faham.

Tentu ini bukan masalah berani atau tidak, kritis atau tidak, dalam menyampaikan buah pikiran. Tetapi lebih pada sebuah pilihan. Pilihan untuk menentukan 'jalur' dalam menyampaikan sikap melalui sebuah tulisan yang berwadah tetap -- bernama 'Secangkir Teh' -- di media sosial facebook, dengan jumlah pembaca terukur dan strata pembaca yang tersegmentasi.

Saya berani mengatakan jumlah pembaca terukur, karena rubrik ini di publish di fanpage 'MasPrie' yang hanya punya 159 followers dan akun facebook 'SugengPribadi' yang punya jaringan pertemanan sekitar 2.700-an. Tak begitu banyak. Segmentasi pembaca juga jelas, dengan sebaran terbatas teman-teman (alumni) sekolah dan kuliah, teman organisasi, beberapa relasi dan sanak keluarga. Artinya, penikmat 'Secangkir Teh' sudah ter-segmented dengan jelas.

Cuma, data tinggalah data. Ada hal yang tidak saya perhitungkan sebelumnya. Beberapa tulisan -- mungkin dianggap menarik? -- di share banyak teman, sehingga jumlah pembaca jadi berlipat. Bahkan ada satu tulisan yang di share oleh teman dari teman, seperti layaknya multi level marketing. Sehingga pageview -- kalau di fanpage istilahnya 'dilihat', atau jumlah pembaca yang membuka/melihat sebuah tulisan -- yang semula stabil 400 - 500 per tulisan, jadi melonjak, sampai ada tulisan yang punya pageview lebih dari 11.974 (hanya dalam 2 hari saja!). Bagi saya ini 'beyond expectations'.

Lonjakan pembaca inilah yang membuat ekspektasi terhadap rubrik ini menjadi ikut-ikutan tinggi. Keinginan agar 'Secangkir Teh' untuk menyuarakan sikap kritis (dan vokal) terhadap persoalan sosial politik dalam negeri mulai bermunculan. Hal yang wajar sebenarnya, karena selain sudah mulai dikenal dan mempunyai pembaca setia, 'Secangkir Teh' juga sudah (terlanjur) keluar dari komunitas awalnya, dengan banyaknya yang share tulisan.

It's okay, inilah resiko menulis di ruang publik, seperti sosial media (baca: facebook) ini. Banyak keinginan, banyak tekanan, dan banyak harapan -- dari para pembaca -- dengan persepsi masing-masing. Sebuah tantangan, yang harus saya hadapi. Meski, sekali lagi, ini bukan masalah keberanian untuk lebih vokal atau tidak. Tetapi lebih pada menjaga sikap dan konsistensi tujuan awal dari 'Secangkir Teh'.

Bagi saya, untuk sementara akan membiarkan 'Secangkir Teh' berjalan apa adanya. Tetap memegang teguh prinsip tulisan ringan, dengan sesekali kritik dan sentilan halus, tanpa harus ada pihak yang marah dan tersinggung. Atau, bisa jadi (akan) ber-metaformosa dalam bentuk lain. Itu, sepenuhnya saya serahkan pada anda, para pembaca setia 'Secangkir Teh'. Maunya seperti apa?

Share:

Rabu, 26 Agustus 2015

Belajarlah (Sepakbola) Curang pada Si Madun


Apa boleh buat, saya terpaksa harus membuat judul -- yang agak-agak tendensius -- untuk tulisan hari ini, yang menyorot 'ketidakberesan' tayangan hiburan di televisi. Saya melihat, ada hal yang diluar nalar dalam dunia hiburan pertelevisian (baca: sinetron) kita. Hal tak wajar, karena menghalalkan segala cara untuk menarik simpati penonton, termasuk alur cerita dan penggambaran tokoh yang tak memperhitungkan dampak bagi penontonnya.

Secara spesifik, saya menyoroti sinetron 'Tendangan Si Madun' yang ditayangkan MNC-TV, dengan target menyasar kelompok pemirsa anak-anak dan remaja. Nampaknya, bisa jadi sinetron ini semata diproduksi sebagai hiburan keluarga, dengan mengambil sepakbola sebagai 'point' utama cerita. Pilihan tepat, karena sepakbola adalah olahraga universal yang dimainkan (dan digemari) di seluruh dunia, dari anak-anak sampai orang dewasa.

Cuma, entah kebetulan (atau sengaja?), melihat tayangan 'Tendangan Si Madun' saya seperti sedang menonton film 'Saolin Soccer' yang di-indonesia-kan. Ceritanya berkisar bermain sepakbola dipadukan dengan beladiri silat khas Indonesia, sesekali juga muncul sepakbola dengan gaya kungfu khas Bruce Lee, bahkan juga melawan tim sepakbola yang bergaya ninja.

Semuanya serba absurd -- geje alias gak jelas, kata anak sekarang -- karena sulit dilogikan bermain sepakbola dengan menggunakan tenaga dalam dan cenderung supranatural. Bagaimana masuk akal, kalau tanpa ditendang atau disentuh, bola tiba-tiba melesat sendiri dengan kekuatan super, memantul sana-sini dan (tentu saja) masuk gawang lawan.

Yang membuat saya tidak respek, adalah sifat curang dan culas dari setiap tim untuk bisa mengalahkan Si Madun, yang digambarkan secara vulgar. Entah dengan cara menggunakan pengaruh orang tua -- bermain kekuasaan, jabatan dan uang -- atau menggunakan kekuatan 'kelompok hitam' untuk menghambat kemampuan Si Madun yang didukung kekuatan 'putih'. Serba tidak mendidik dan cenderung mengajarkan menang dengan cara pintas, pada siapapun yang menontonnya.

Sehingga, saat menonton tayangan ini, mendamping putra saya yang kelas 5 SD dan TK, saya rasanya kurang nyaman. Pertama, dunia permainan sepakbola tidak digambarkan dengan sebenarnya, hanya sekedar tempelan belaka. Kedua, lebih banyak bumbu action dan alur cerita yang terlalu berat untuk dicerna anak-anak, bahkan terkesan dipaksakan. Ketiga, tidak ada nilai edukasi yang bisa didapat pemirsanya, kalau yang dimaksud adalah sportivitas dan teknik bermain sepakbola.

Artinya, kalau tujuannya agar anak-anak jadi cinta sepakbola -- dan bermain dengan benar -- setelah menonton tayangan 'Tendangan Si Madun', tentu saja masih jauh api dari panggang. Tidak kena sasaran.

Padahal, Yusuf Mahardika, pemeran Madun, punya potensi untuk jadi 'artis' sepakbola idola, karena dia pernah memperkuat tim Indonesia U-14. Sehingga, kalau 'Tendangan Si Madun' digarap dengan alur cerita yang normatif, dan Yusuf diberi keleluasaan mengeksploitasi kemampuan sepakbolanya, sinetron ini akan mempunyai nilai plus sekaligus edukasi bagi anak-anak Indonesia untuk cinta sepakbola.

Sebagai perbandingan -- karena tidak ada sinetron bertema sepakbola lainnya -- adalah film layar lebar 'Garuda Didadaku' dan 'Tendangan dari Langit' yang mengeksplorasi kemampuan sepakbola pemain utamanya, tanpa menjadikan kekuatan ceritanya memudar. Keduanya berjalan seiring, tanpa penonton (utamanya anak-anak) menyadari bahwa pada mereka sedang ditanamkan nilai-nilai sportivitas melalui olahraga sepakbola. Tidak ada trik kotor dan licik, yang digambarkan secara vulgar. Semuanya mengalir natural.

Artinya, kalau di layar lebar, yang durasinya 'dibatasi' 90 menit saja, bisa mengeksplorasi (cerita) sepakbola dengan sisi edukasi dan sportivitasnya, mengapa 'Tendangan Si Madun' -- yang mencapai ratusan episode -- tidak berusaha mengembangkan hal yang sama. Justru malah mengedepankan 'sisi gelap' sepakbola, yang dapat 'meracuni' anak-anak dengan hal negatif. Sungguh ironis bukan?

Share:

Selasa, 25 Agustus 2015

Apa Pak Presiden Tidak Bangga (Bahasa) Indonesia?


Saya tiba-tiba merasa sedih, ketika membaca berita tentang Pak Presiden Jokowi -- dalam arahannya kepada Menteri Ketenagakerjaan, minggu kemarin -- akan menghapus regulasi keharusan bagi tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia untuk wajib menguasai bahasa Indonesia. Alasannya, menjadi (salah satu) hambatan bagi para pekerja asing untuk masuk ke Indonesia, yang dalam skala lebih besar bertujuan mempermudah investor asing datang ke Indonesia.

Saya sedih, murni alasan pribadi. Bukan karena sok prihatin dengan dampak yang ditimbulkan kebijakan ini, atau hal lainnya. Setidaknya, saya teringat pengalaman tahun 1991, ketika saya bekerja part-timer di Proyek GTZ Jerman -- kerjasama pemerintah Jerman dan Indonesia -- di Lombok Timur, NTB.

Saat itu saya masih mahasiswa dan kurang menguasai bahasa Inggris. Sehingga, ketika harus berkomunikasi dengan Mr. Gunther Kohl -- yang berkebangsaan Jerman -- pimpinan tertinggi proyek, saya sangat nervous. Tapi apa yang terjadi? Pak Kohl mempersilahkan saya menggunakan bahasa Indonesia (bukan Jerman atau Inggris!) karena beliau menguasai dan mengerti, meski tetap berbahasa Inggris dengan saya.

Demikian juga saat saya sudah bekerja di salah satu perusahaan nasional yang sudah go public, di Jakarta. Ketika saya harus melaporkan penjualan ekspor perusahaan di 'Weekly Report Meeting', Pak Yogesh Dixit -- salah satu Direktur, warganegara India -- meminta saya menggunakan bahasa Indonesia, supaya bisa memaparkan lebih rinci dan detail. Dan Pak Dixit pun memimpin rapat mingguan ini dengan menggunakan bahasa Indonesia (bercampur Inggris, sesekali). Sangat komunikatif.

Saya yakin, dari dua kejadian itu -- dua pimpinan berkebangsaan asing, berkemampuan bahasa Indonesia -- adalah hasil regulasi yang mengharuskan TKA menguasai bahasa Indonesia, sebelum resmi bekerja di Indonesia. Sehingga di lapangan, tidak mengalami kendala bahasa ketika harus berkomunikasi dengan staf lokal. Itulah yang membuat saya sedih, apa jadinya (kelak) jika para TKA tidak dibekali kemampuan bahasa Indonesia.

Dengan regulasi tersebut, saya membayangkan, bagaimana para TKA dari Tiongkok, Jepang, Korea -- tiga negara dengan suplay terbesar TKA di Indonesia -- akan menguasai (kantor-kantor perusahaan) dengan bahasa mereka, dan mayoritas pekerja lokal Indonesia dipaksa untuk mengerti, terutama untuk level jabatan yang ada dibawah para TKA tersebut. Saya ragu, para TKA itu, (juga) menguasai bahasa Inggris dengan baik.

Apalagi untuk perusahaan yang masuk skala industri massal, pasti akan banyak terjadi miskomunikasi, karena, mau tidak mau, yang dihadapi TKA tersebut adalah level worker, yang berpendidikan menengah dan minim kemampuan bahasa Inggris. Selama ini, jabatan yang banyak 'diberikan' kepada TKA adalah untuk level profesional, konsultan, komisaris, direksi, manajer, supervisor dan teknisi.

Ya, saya memang tidak begitu pandai dan paham politik. Tetapi kebijakan pemerintah -- atas arahan langsung Presiden ini -- pasti akan banyak berpengaruh pada budaya dan nilai-nilai moral di negara ini. Termasuk, yang tak bisa diabaikan, menjadi lemahnya proteksi terhadap tenaga kerja lokal, mengingat masih banyaknya pengangguran di Indonesia.

Melalui rubrik 'Secangkir Teh' ini, saya ingin menyampaikan uneg-uneg pada Pak Jokowi, Presiden Republik Indonesia. Sampai atau tidak, itu urusan nomor sekian. Yang penting, anda sudah (ikut) baca, itu saya sudah senang. Begini:

"Pak Presiden, masalah politik memang urusan anda. Tetapi untuk 'Bahasa Indonesia' jelas milik kami, bangsa Indonesia. Jangan remehkan bahasa nasional (dan persatuan) dengan mengatas namakan 'demi perbaikan ekonomi' dan popularitas kelompok & golongan. Masih banyak jalan bisa anda tempuh. Tanyakan solusinya pada menteri dan para ahli -- yang katanya orang pilihan & profesional -- di sekeliling anda. Harga diri bangsa (dan bahasa) jauh lebih penting dan diatas segalanya, Pak. Kecuali, Pak Presiden sudah tidak punya kebanggaan pada bahasa Indonesia lagi!"

Share:

Senin, 24 Agustus 2015

Jangan Sampai Anak Kita Jadi Robot


Kalau kebetulan saat ini anda sudah menyandang status sebagai orangtua -- sudah menikah dan mempunyai putra atau putri -- coba ingat-ingat, pernahkan dalam memberi nasehat anak, yang susah disuruh belajar, terselip kata-kata "Dulu.., saat Ayah (Bunda) masih seusiamu, untuk belajar tidak pernah disuruh-suruh, tidak seperti kamu sekarang. Dulu, begitu pulang sekolah... bla... bla... bla... dst." Atau, kalau belum pun, setidaknya anda pernah mendengar seperti itu, kan?

Sabar.., saya tidak akan 'ceramah' atau menulis artikel seperti layaknya pakar psikologi, apalagi 'menggurui' anda semua tentang cara mendidik anak. Karena, saya yakin anda pasti sudah lebih pintar. Ilustrasi diatas, sengaja saya apungkan untuk menggiring fikiran ke arah yang sama, bahwa (ternyata) di sekitar kita masih banyak yang memberi nasehat anak dengan cara 'berlindung' ke masa lalu.

Begini, agar bisa lebih menghayati, ada contoh lagi yang lebih spesifik, seperti ini: Ketika anak saya yang kelas 4 SD susah disuruh belajar, meski sudah saya beritahu berulangkali secara baik-baik -- maunya tuh main komputer atau nonton televisi -- maka yang muncul adalah rasa jengkel. Dan keluarlah kalimat 'normatif' seperti diatas. Bahwa dulu ketika saya seusianya, belajar itu otomatis, tidak perlu disuruh dan dipaksa orangtua. Habis mengaji di musholla, makan malam, langsung belajar. Bahkan, saya tambah cerita, karena kebiasaan itu makanya saya pintar dan juara kelas.

Tujuannya jelas, memberi motivasi anak -- mencontohkan diri kita sebagai sosok penurut, rajin dan pintar -- dengan harapan agar anak mau meniru dan mengikuti jejak kita, belajar dengan kesadaran sendiri. Ternyata, metode itu tak sepenuhnya manjur dan mengena untuk anak-anak jaman sekarang. Bahkan malah membuat anak semakin 'tertekan' dan malas. Koq bisa?

Dari beberapa literatur yang pernah saya baca, ada perbedaan kondisi yang signifikan, antara jaman dulu -- setidaknya 30 atau 40 tahun silam, saat kita masih kecil -- dengan era saat ini, yang sudah 'dikuasai' teknologi. Jaman dulu, kita bisa mengatur waktu bermain dan belajar dengan baik, karena belum ada banyak (stasiun) televisi, belum ada komputer dan warnet, belum mengenal gadget dan rental play station. Bandingkan dengan fasilitas jaman sekarang, jaman anak-anak yang dikelilingi produk teknologi canggih. Itu berpengaruh pada pola pikir anak.

Adanya perbedaan yang mencolok itu, menjadikan nasehat 'perbandingan' jadi kurang relevan lagi. Ternyata, anak-anak sulit membayangkan dengan baik, kondisi macam apa yang ada di jaman orangtuanya. Sebaliknya, sifat kritis dan daya nalar anak-anak sekarang jauh lebih berkembang, dibanding jaman kita dulu, yang lebih patuh -- dan menerima tanpa syarat -- pada nasehat dan perintah orang tua.

Artinya, bukannya anak-anak sekarang tidak penurut, tetapi harus ada penjelasan lanjutan dari setiap nasehat atau perintah yang kita berikan pada mereka. Hal yang cukup logis, karena anak-anak juga menyerap informasi (lain) dari teknologi yang ada, selain dari aturan normatif yang kita terapkan di rumah. Sehingga, kita -- para orangtua -- harus siap secara bijak untuk memberikan penjelasan logis, sebagai penjabaran dari apa yang kita sampaikan, baik berupa nasehat maupun perintah. Ternyata ini lebih bisa diterima logika anak-anak, dibanding dengan sekedar memberikan 'perbandingan' masa lalu.

Demikian juga ketika kita memberi motivasi dengan mecontohkan keberhasilan studi kita di masa lalu -- anak yang pandai, selalu mendapat rangking & juara kelas -- nyatanya (mayoritas) anak-anak justeru menganggap ini sebagai 'tekanan' yang malah menjadikan demotivasi, ketika merasa tidak sanggup menyaingi dan menenuhi harapan orang tuanya.

Lagi-lagi, seperti biasa, tulisan ini tidak akan memberikan kesimpulan. Kecuali, saya hanya mengajak anda sekalian -- para orangtua -- untuk lebih bijaksana dalam mendidik anak, tidak ego dan merasa paling benar. Tak ada yang menginginkan (kelak) anak-anak kita jadi 'robot' bukan?

Share:

Minggu, 23 Agustus 2015

Kenapa (Harus) Malu Menyajikan Makanan Kampung?


Ada kebiasaan, setiap ada acara atau kegiatan seremonial -- institusi pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan -- yang melibatkan pejabat, dapat dipastikan panitia akan menyiapkan konsumsi yang beraneka macam, untuk disajikan di meja depan, yang khusus untuk undangan kehormatan. Pokoknya membuat kesan 'makmur', agar tidak membuat malu panitia, meski kadang hidangan tersebut hanya dicicipi sekedarnya saja oleh sang pejabat.

Terus terang saya tidak dalam kapasitas menggugat 'kebiasaan' tersebut, apalagi sampai mengatakan itu tidak benar. Bukan, saya hanya sering bertanya dalam hati, apakah hiya -- para pejabat (level apapun) yang hadir pada acara-acara tersebut -- memang menginginkan dijamu seperti itu, ataukah ini hanya inisiatif 'tuan rumah' sebagai azas kepantasan semata?

Bukannya apa, saya juga sering datang ke berbagai acara seremonial semacam itu -- beberapa diantaranya saya berkesempatan duduk di kursi empuk deretan terdepan -- dan saya melihat ketimpangan, yaitu deretan paling depan (biasanya pejabat dan undangan kehormatan) disuguhi penuh hidangan, sedangkan deret belakangnya kadang tidak mendapat apapun, bahkan air minum sekalipun. Memprihatinkan bukan?

Itu baru kasus pertama. Yang kedua, jika toh seandainya seluruh tamu undangan yang hadir dibagi konsumsi juga, kadang porsi yang diberikan malah justeru berlebih dan dipantas-pantaskan. Sering saya dengar -- apalagi kalau saya jadi bagian dari panitia -- kalimat seperti ini: "jangan pakai piring styrofoam ah, mending kotak karton saja, lebih praktis dan pantas", atau: "kuenya jangan cuma dua macam dong, gak pantas, kelihatan pelit", bahkan ada yang bilang: "sebaiknya konsumsinya prasmanan, ambil sendiri-sendiri, biar tidak terkesan dijatah". Kalimat yang lebih parah lagi: "kuenya jangan seperti itu ah, malu-maluin, itu kan makanan kampung".

"Terus maunya Mas Prie itu apa sih? Protes melulu, bikin sebel!" Mudah-mudahan ada (beberapa) pembaca yang menggerutu begitu. Ya, kalau tanya maunya saya -- lebih tepatnya pemikiran saya -- kenapa sih tidak kita rubah saja pola 'penyambutan' tamu pejabat dalam sebuah acara (seremonial), dari segi sajian hidangannya. Jangan berlebihanlah.

Maksudnya, polanya dirubah dengan konsep lebih rasional dan merakyat. Rasional, dengan melihat macam acara, banyak undangan dan budget yang ada. Merakyat, dengan menghidangkan sajian yang biasa dikudap masyarakat pada umumnya. Toh jujur saja, para pejabat -- atau siapapun yang duduk di deretan kursi depan -- itu sudah terbiasa dengan kudapan enak dalam keseharian. Jangan 'dimanja' lagi dengan hidangan kudapan sejenis, yang naga-naganya juga jarang dimakan.

Jadi kenapa tidak sesekali diberi hidangan makanan tradisional dan 'khas kampung' ataupun jajanan pasar misalnya? Pasti lebih mengena dan surprise, karena jarang ditemui oleh beliau-beliau itu. Bahkan, hidangan tradisional itu, bisa membangkitkan nostalgia makanan ataupun jajanan masa kecilnya, bisa jadi kan? Demikian juga dengan undangan umum lain -- kalau memang dapat konsumsi -- yang simple dan sewajarnya saja, karena mereka hadir bukan semata-mata untuk cari makanan kecil.

Intinya, sudah waktunya kita sudahi cara-cara kontra-produktif dalam memberi 'jamuan' sebuah acara seremonial. Saya sebenarnya sangat apresiasi dengan himbauan pemerintah, beberapa waktu silam, yang 'mengharuskan' menyajikan makanan tradisional berbahan lokal -- untuk acara-acara instansi pemerintah, walau di hotel sekalipun -- sebagai bagian pola hidup sederhana dan rasa empati pada 'susahnya' kehidupan rakyat kecil. Ironisnya, program itu kini sudah nyaris tak terdengar lagi.

Menurut hemat saya, lebih 'bernilai' ketika kita mengangkat martabat makanan kampung sebagai bagian kehidupan keseharian -- dalam konteks acara seremonial tadi -- daripada mengangkat harkat dan martabat pejabat (yang hadir sebagai undangan kehormatan, dengan menyajikan hidangan yang dilebih-lebihkan) agar kita bernilai di mata mereka. Gimana, betul apa betul ?

Share:

Sabtu, 22 Agustus 2015

Kini, Keretaku Tak Terlambat Lagi


'Naik kereta api, tut.. tut.. tut.., siapa hendak turut.., ke Bandung... Surabaya...' Masih ingat dengan penggalan lagu itu? Ya, lagu anak-anak yang sangat familiar -- sejak saya masih kecil -- sampai saat ini pun masih dinyanyikan anak-anak di sekolah TK. Sebuah lagu yang menggambarkan bahwa naik kereta api, moda transportasi 'murah meriah' yang sudah begitu merakyat, sangatlah menyenangkan. Benarkah demikian?

Untuk menjawabnya, saya akan berbagi pengalaman dalam menggunakan sarana transportasi ini, dalam 20 tahun terakhir.

Pertama kali saya merasakan naik kereta api, saat merantau ke Jakarta, untuk mulai 'berjuang' mencari sesuap nasi, sekitar tahun 1995. Saat itu, tidak ada pilihan lain, kereta api Matarmaja adalah satu-satunya tujuan Jakarta, dari Malang. Ada dua kelas, Bisnis dan Ekonomi, dalam satu rangkaian gerbong panjang. Bisnis menempati 3 gerbong didepan, disusul rangkaian gerbong ekonomi.

Kesan pertama, melelahkan dan berisik. Berangkat dari Malang jam 1 siang, sampai stasiun Pasar Senen (Jakarta) jam 9 pagi, keesokan harinya. Perjalanan 20 jam, karena setiap stasiun -- besar dan kecil -- kereta selalu berhenti. Di dalam kereta, suasana 'berisik', sepanjang perjalanan. Mulai dari hilir mudiknya penjual asongan, pengamen, pengemis, penyewaan bantal, tukang pijit, sampai petugas restorasi yang menawarkan minuman dan makanan.

Belum lagi saat berhenti di setiap stasiun, pengasong & penjual makanan berebut naik kereta, menjajakan dagangannya dengan suara nyaring. Mereka dengan enaknya melangkahi para penumpang yang tidur di sepanjang lorong gerbong. Yang paling menyebalkan, fasilitas toiletnya jorok dan bau. Itu yang di kelas ekonomi. Untuk kelas bisnis, agak sedikit mendingan, terutama tempat duduk yang lebih empuk dan akses pedagang asongan yang dibatasi.

Saya kurang faham, kenapa begitu crowded. Apa karena harga tiket yang murah, monopoli pengelolaan, ataukah sistem yang masih lemah. Tetapi, itulah gambaran 'sederhana' suasana kereta api di tahun 90-an -- yang anehnya -- saya tetap setia menggunakan, untuk mudik ke Malang. Sampai (akhirnya) di awal 2000-an dioperasikan kereta Gajayana, untuk kelas eksekutif, dengan harga tiket 4 kali lipat kelas ekonomi. Sesuai kelasnya, suasananya lebih nyaman. Meski di stasiun tertentu, asongan masih bisa masuk juga. Setidaknya, untuk saat tertentu, Gajayana bisa jadi alternatif jika ingin suasana nyaman dan tenang.

Ketika moda transportasi udara merambah Malang -- saat Bandara Abdurrachman Saleh dibuka kembali untuk komersial -- saya sempat beralih ke moda ini, untuk keperluan ke Malang. Bukannya apa, harga tiket maskapai penerbangan lokal tujuan Malang-Jakarta (PP) hanya beda-beda tipis dengan kereta api eksekutif jurusan yang sama. Barangkali, inilah (salah satu) alasan PT. Kereta Api Indonesia mulai berbenah, agar tidak semakin ditinggalkan penggunanya, terutama pengguna kelas menengah keatas.

Nyatanya PT. KAI benar-benar 'mereformasi' diri dalam sistem dan layanannya. Setidaknya saya merasakan sendiri di tahun 2013 dan 2014. Pembelian tiket yang awalnya manual dan harus berebut dengan calo, menjadi online dan mudah didapat, termasuk di jaringan Indomaret yang sudah merambah ke pelosok kampung. Nama di tiket harus sama dengan KTP penumpang. Stasiun juga steril dari pengasong & pengantar penumpang. Dan, terpenting, jadwal keberangkatan ontime sesuai tertera di tiket.

Demikian juga selama perjalanan, tidak ada lagi pedagang asongan, toilet bersih, dan pendingin udara yang nyala terus. Yang surprise, colokan listrik -- di tiap dinding dekat kursi -- bisa dipergunakan, baik untuk handphone maupun laptop. Itu di kelas ekonomi lho, saat saya naik kereta api Kertajaya jurusan Stasiun Semut, Surabaya. Kembali ke Jakarta, saya naik kereta Gajayana, yang tentu saja dengan layanan cukup prima.

Jadi, 'ayo kawanku lekas naik, keretaku tak terlambat lagi..' Ya, selain tak terlambat, juga nyaman dan tertib. Anda perlu membuktikan, sesekali.

Share:

Jumat, 21 Agustus 2015

Antara Dian Sastro, Ririn 'Cinta' dan Secret Admirer


Munculnya 'Secangkir Teh' rutin setiap pagi -- di fanpage 'MasPrie' dan akun facebook 'Sugeng Pribadi' -- ternyata berbanding lurus dengan banyaknya usulan dan saran yang masuk ke akun whatsapp, bbm dan inbox fb saya. Artinya, mau tidak mau, saya harus merespon satu persatu. Bahkan, ada keuntungan tersendiri dari (makin) banyaknya saran dan komentar yang masuk, yaitu bisa dijadikan inspirasi dan bahan tulisan berikutnya.

Salah satunya adalah dari Bunda Raisha. Teman di salah satu komunitas penulis -- sejak awal tahun 2000-an -- yang kini jadi Psikolog di Jakarta. Lewat media whatsapp, Bunda Raisha menyampaikan hal yang menurut saya cukup mengejutkan, karena tidak saya duga.

Karena panjang, dan agar esensinya tetap dapat, berikut transkrip 'obrolan' tersebut, yang sudah saya sunting. Beberapa basa-basi awal saya potong, penulisan kata yang disingkat dan kata bahasa daerah juga saya 'sesuaikan'. Untuk memudahkan, (BR) = Bunda Raisha, (MP) = Mas Prie.

(BR) = Salut Mas. Akhirnya kesampaian ya nulis rutin tiap hari. Aku termasuk pembaca setia lho, meski kadang malam baru bisa bacanya.

(MP) = Hiya Mbak, thanks ya. Kritiknya dong, hehehe

(BR) = Apa ya? Gini, salah satu tulisan Mas Prie ada yang terjebak dengan memori pribadi sehingga membuat inkonsistensi yang memang sepertinya disengaja, tersamar tapi mudah ditebak. Itu lho, yang tentang filmnya Dian Sastro.

(SP) = Waduh.. koq gitu? Emang ada yang janggal Mbak?

(BR) = Nah kan, masih pura-pura dan belum mau ngaku ya. Sederhana, saya kenal karakter tulisan Mas Prie sudah lama, selalu detail dan teliti dalam data. Tiba-tiba nulis film tapi foto ilustrasi sinetron, ini aneh. Ada dua kemungkinan, memang nge-fans sama Ririn, atau pernah punya secret admirer yang mirip Ririn.

(SP) = Hahaha bisa aja ah, kebetulan aja kali Mbak, kayak cenayang beneran nih...

(BR) = Yo wis kalo gak mau ngaku, ini kan kritik, yang aku sesuaikan dengan bidang keilmuanku. Tenang aja, gratis koq, diluar jam praktek, hehehe.. guyon Mas!

(SP) = Suwun Mbak, bisa untuk materi tulisan selanjutnya nih...

(BR) = Boleh.. boleh.., nanti nama asliku disamarkan ya, Mawar atau apa gitu.., suaraku juga tolong dibuat seperti Muppet, dan gambar wajahku agak di blur. Jangan lupa royaltinya.., hahaha..

Begitulah, sebuah kritik 'serius' kadang diucapkan dengan gaya bercanda, tapi mengena. Setidaknya ada tiga hal yang saya dapat dari pembicaraan tersebut. Pertama, tidak dapat dipungkiri bahwa suasana hati kadang tidak bisa dipisahkan dengan apa yang sedang kita kerjakan (baca: menulis). Bunda Raisha benar, mestinya saya memasang foto Dian Sastro -- atau yang berhubungan dengan film AADC -- dalam tulisan saya tersebut, bukan Ririn Dwi Ariyanti, meski sama-sama memerankan 'Cinta'.

Kedua, ini masalah nge-fans Ririn Dwi Ariyanti. Bisa jadi 'dugaan' Bunda Raisha juga benar. Dalam menggambarkan sosok 'Cinta' dengan detail di tulisan saya -- tanpa meremehkan akting Dian Sastro di versi layar lebar -- referensinya adalah karakter (yang diperankan) Ririn dalam serial sinetron AADC. Saya melihat Ririn cukup natural dalam memerankan 'aktivis' sekolah, dunia yang saya geluti saat SMA. Sehingga bisa menggiring saya ke memori masa-masa indah di sekolah. Hal yang wajar kalau penikmat film (dan sinetron) kemudian nge-fans pada artis yang dianggap punya karakter & disukai.

Nah, yang ketiga -- masalah 'secret admirer -- ini yang agak berat dan nervous untuk menjelaskan. Karena 'secret admirer' pada dasarnya adalah 'pengagum rahasia' pada seseorang. Ya, cuma bisa mengagumi orang secara diam-diam, tanpa 'admiring' (yang dikagumi) tahu kalau kita kagumi. Pokoknya kagum dan senangnya disimpan dalam hati, tanpa siapapun tahu.

Lantas, apakah saya pernah menjadi 'secret admirer' saat sekolah (SMP atau SMA) pada siswi yang mirip Ririn Dwi Ariyanti, saya lupa-lupa ingat. Yang pasti dalam akhir tulisan saya tempo hari, jelas tertulis di SMA saya tidak ada siswi yang secantik dan sejenjang 'Cinta'. Kalau di SMP? Entahlah...

Share:

Kamis, 20 Agustus 2015

Ketika Ruang Tamu Pindah ke Kafe


Kalau saya menulis kata 'ruang tamu' pada judul tulisan ini, pasti yang terbayang di benak anda -- entah ruang tamu yang ada di rumah atau kantor -- adalah seperangkat sofa, meja tamu, rak buku, jendela dan beberapa aksesoris atau pajangan untuk pemanis ruangan. Tapi, pernahkah terbersit di benak anda, terutama yang tinggal di kota-kota besar, menghitung berapa banyak teman atau relasi yang anda terima di ruang tersebut dalam beberapa bulan terakhir?

Pertanyaan itu perlu diapungkan, karena suka atau tidak, di masyarakat urban perkotaan yang identik dengan kesibukan, sudah agak lama muncul aktivitas dan gaya hidup yang merubah lokasi ruang tamu. Yang tadinya teman atau relasi cukup diterima di ruang tamu yang sudah ada -- di rumah atau kantor -- kini ada kecenderungan 'dipindah' ke tempat rendezvous, seperti kafe misalnya.

Agar tidak salah mengartikan, secara harfiah -- dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) -- kafe adalah tempat minum kopi yang pengunjungnya dihibur oleh musik. Sedang kata (asli) café, dalam bahasa Perancis dapat diartikan kopi dan juga tempat minum kopi.

Nah, pindahnya fungsi ruang tamu ke tempat alternatif -- seperti café itu tadi -- kalau ditelaah lebih mendalam, sebenarnya bukan hanya sebagai bagian dari gaya hidup semata. Lebih dari itu, juga sebagai solusi dari kebutuhan untuk bersosialisasi yang lebih praktis, yang disebabkan makin kompleksnya kerumitan yang ada di daerah perkotaan.

Konkritnya, tingkat kemacetan yang tinggi menyebabkan perjalanan dari satu kantor ke kantor lain -- untuk keperluan bertemu relasi atau bisnis -- bisa menyita waktu panjang. Sehingga diambil langkah praktis dengan mengambil tempat yang berlokasi strategis dan mudah dijangkau kedua belah pihak, seperti cafe, yang kini banyak bertebaran di area pusat bisnis, gedung perkantoran, mall maupun hotel. Keuntungannya, tidak sekedar menghemat waktu, tetapi juga praktis dari segi konsumsi yang biasanya sudah tersedia di tempat itu.

Dan memang, memindah ruang tamu ke kafe, akhirnya bukan hanya untuk keperluan bisnis semata. Untuk kebutuhan sosialita seperti bertemu teman lama, dengan alasan kepraktisan dan berkurangnya waktu di rumah -- ditambah jarak tempuh yang kadang cukup jauh -- bertemu di kafe sepulang kerja atau saat waktu luang, adalah pilihan yang (dianggap) tepat. Seperti diungkap psikolog Dwi Septinawati, di harian Kompas, "Bertemu di kafe dengan rekan dan melakukan rapat evaluasi di tempat itu terasa lebih nyaman, karena lokasi kafe merupakan titik tengah dari posisi masing-masing. Selain itu bisa menghemat waktu dan tenaga, apalagi kalau waktunya sempit."

Memang, ada plus minus dari trend yang menggejala di kaum urban perkotaan ini. Secara umum, sebenarnya bertemu dan berkumpul di rumah -- dengan teman atau relasi -- justeru lebih aman dan hemat. Meski, kadang muncul situasi canggung dan kurang nyaman saat kita berinteraksi dengan tamu. Sedang jika bertemu di kafe, suasananya lebih menarik dan tidak membosankan, meski ada minusnya juga, yaitu boros di pengeluaran.

Nyatanya, dalam perkembangannya, gaya hidup seperti ini bukan monopoli orang kantoran semata. Tetapi juga menggejala di kalangan anak muda dan pelajar, yang menjadikan kafe sebagai tempat kongkow dan (kadang) mengerjakan tugas kuliah atau sekolahnya. Tentu, kalau yang dimaksud hanya dalam konteks mengikuti trend, selama masih koridor norma yang positif, itu bisa ditolerir. Karena bisa jadi ini bagian dari aktualisasi dan mencari jati diri.

Uniknya, dalam dimensi yang berbeda, memindahkan fungsi ruang tamu -- ke tempat semacam kafe, seperti: rumah makan, saung, lesehan, pondok makan, sampai pemancingan -- kini bukan lagi monopoli kaum urban perkotaan. Di masyarakat pinggiran kota juga sudah (ikut-ikutan) menggejala, mulai dari temu kangen sekolah, ulang tahun anak, sampai arisan keluarga pun sudah tidak diadakan di (ruang tamu) rumah lagi.

Sekarang, bagaimana dengan anda, juga -- ikut-ikutan -- sering ke kafe, atau malah setia dengan ruang tamu rumah?

Share:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com