INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Selasa, 18 Agustus 2015

Awas, Gangguan 'Hantu' Post Power Syndrome


Saat menghadiri sebuah acara pemberian penghargaan di salah satu kantor kelurahan di Jakarta Timur, saya kebetulan duduk di deretan kursi ke-5 -- karena datang agak terlambat -- dari kursi para undangan khusus & tokoh masyarakat, yang duduk di deretan kursi terdepan. Di deretan 'kelas umum' ini, saya berbaur dengan undangan dari organisasi kepemudaan, tokoh agama dan beberapa lagi yang mungkin ketua RW atau sekelasnya.

Lagi serius menyimak sambutan Pak Camat yang juga hadir, saya dicolek bapak-bapak sepuh (baca: sudah tua) di sebelah saya, sambil berbisik, "Mestinya saya ini duduk di deretan depan, Dik. Masak mantan Dewan Kelurahan ditempatkan disini," ujarnya, bernada protes dan sedikit mengeluh. Saya balas tersenyum sambil juga berbisik, "Mungkin deretan kursi depan terbatas, Pak. Disini juga enak koq," timpal saya, sedikit menghibur. Dalam benak saya, bapak ini sudah terkena 'Post Power Syndrome' nampaknya.

Pasti ada -- satu atau dua orang dari anda, yang baca tulisan ini -- dalam hati langsung bertanya, "Itu nama penyakit apa, Mas Prie?" Hehehe..., don't worry, saya tidak akan menyiksa pembaca dengan istilah-istilah yang membuat pusing kepala.

Begini, seperti pada artikel psikologi yang saya baca, Post Power Syndrome, adalah gejala yang terjadi di mana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, jabatannya, kecantikannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. 

Biasanya, kebanyakan terjadi pada orang usia mendekati pensiun. Pada fase usia ini, ada kecenderungan seseorang selalu ingin mengungkapkan betapa begitu bangga akan masa lalu yang dijalani dengan jerih payah yang luar biasa. Contohnya seperti yang sudah saya ilustrasikan diatas.

Banyak faktor penyebab terjadinya Post Power Syndrome. Bisa karena pensiun dini, kena PHK, kecelakaan yang menyebabkan cacat, atau habis masa jabatan. Dalam konteks yang berbeda, bisa juga disebabkan karena 'ketidaksiapan' untuk melepas (jabatan) yang diemban sebelumnya, karena merasa masih mampu untuk menjalankannya. Ini terjadi pada pucuk pimpinan di organisasi atau institusi yang memang secara periodik melakukan pergantian jabatan, semisal OSIS, senat mahasiswa, organisasi atau masyarakat dan lembaga struktural.

Jadi, menurut saya, Post Power Syndrome bisa terjadi pada pria dan wanita di seluruh lapisan masyarakat, mulai dari remaja yang baru berorganisasi, ibu-ibu yang mengkoordinir kelompok arisan, sampai pemuda yang memimpin organisasi kepemudaan, ataupun juga bapak-bapak yang duduk di lembaga pemerintahan.

Contoh konkritnya -- supaya tidak menyinggung, pengalaman saya saja sebagai misal -- saat harus lepas dari pengelola majalah sekolah SMA (karena naik kelas 3) saya seperti tidak terima kenyataan, dengan tetap berperangai 'seolah' sebagai pengelola di depan teman dan guru. Padahal semua tahu, majalah sekolah sudah dipegang adik-adik kelas 2. 

Demikian juga ketika saya purnabakti dari jabatan Sekjen Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi -- dan Ketua Umum KSR-PMI Universitas Mataram -- saya merasa jealous kalau tidak diundang di acara-acara kemahasiswaan, padahal memang sudah bukan jatah saya lagi. Saat itu saya sudah terkena Post Power Syndrome.

Lantas, adakah 'obat' penangkal Post Power Syndrome? Cuma dua, kematangan emosi dan bisa menerima kenyataan (Qana'ah/Legowo). Kematangan emosi seseorang sangat berpengaruh pada terlewatinya fase Post Power Syndrome ini. Demikian juga seseorang yang bisa menerima kenyataan dan keberadaannya dengan baik, akan lebih mampu melewati fase ini dibanding dengan seseorang yang memiliki konflik emosi.

Nah, sekarang bagi anda -- yang 'punya jabatan' dan rentan terkena Post Power Syndrome -- mulailah untuk selalu berfikir realistis dan (berusaha) menerima kondisi serta kenyataan yang ada. Karena, bagai hantu yang tak berwujud, dampak Post Power Syndrome sungguh 'dahsyat', dengan mengganggu fungsi fisik dan psikis penderitanya. Anda tak mau kan?

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com