INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Rabu, 26 Agustus 2015

Belajarlah (Sepakbola) Curang pada Si Madun


Apa boleh buat, saya terpaksa harus membuat judul -- yang agak-agak tendensius -- untuk tulisan hari ini, yang menyorot 'ketidakberesan' tayangan hiburan di televisi. Saya melihat, ada hal yang diluar nalar dalam dunia hiburan pertelevisian (baca: sinetron) kita. Hal tak wajar, karena menghalalkan segala cara untuk menarik simpati penonton, termasuk alur cerita dan penggambaran tokoh yang tak memperhitungkan dampak bagi penontonnya.

Secara spesifik, saya menyoroti sinetron 'Tendangan Si Madun' yang ditayangkan MNC-TV, dengan target menyasar kelompok pemirsa anak-anak dan remaja. Nampaknya, bisa jadi sinetron ini semata diproduksi sebagai hiburan keluarga, dengan mengambil sepakbola sebagai 'point' utama cerita. Pilihan tepat, karena sepakbola adalah olahraga universal yang dimainkan (dan digemari) di seluruh dunia, dari anak-anak sampai orang dewasa.

Cuma, entah kebetulan (atau sengaja?), melihat tayangan 'Tendangan Si Madun' saya seperti sedang menonton film 'Saolin Soccer' yang di-indonesia-kan. Ceritanya berkisar bermain sepakbola dipadukan dengan beladiri silat khas Indonesia, sesekali juga muncul sepakbola dengan gaya kungfu khas Bruce Lee, bahkan juga melawan tim sepakbola yang bergaya ninja.

Semuanya serba absurd -- geje alias gak jelas, kata anak sekarang -- karena sulit dilogikan bermain sepakbola dengan menggunakan tenaga dalam dan cenderung supranatural. Bagaimana masuk akal, kalau tanpa ditendang atau disentuh, bola tiba-tiba melesat sendiri dengan kekuatan super, memantul sana-sini dan (tentu saja) masuk gawang lawan.

Yang membuat saya tidak respek, adalah sifat curang dan culas dari setiap tim untuk bisa mengalahkan Si Madun, yang digambarkan secara vulgar. Entah dengan cara menggunakan pengaruh orang tua -- bermain kekuasaan, jabatan dan uang -- atau menggunakan kekuatan 'kelompok hitam' untuk menghambat kemampuan Si Madun yang didukung kekuatan 'putih'. Serba tidak mendidik dan cenderung mengajarkan menang dengan cara pintas, pada siapapun yang menontonnya.

Sehingga, saat menonton tayangan ini, mendamping putra saya yang kelas 5 SD dan TK, saya rasanya kurang nyaman. Pertama, dunia permainan sepakbola tidak digambarkan dengan sebenarnya, hanya sekedar tempelan belaka. Kedua, lebih banyak bumbu action dan alur cerita yang terlalu berat untuk dicerna anak-anak, bahkan terkesan dipaksakan. Ketiga, tidak ada nilai edukasi yang bisa didapat pemirsanya, kalau yang dimaksud adalah sportivitas dan teknik bermain sepakbola.

Artinya, kalau tujuannya agar anak-anak jadi cinta sepakbola -- dan bermain dengan benar -- setelah menonton tayangan 'Tendangan Si Madun', tentu saja masih jauh api dari panggang. Tidak kena sasaran.

Padahal, Yusuf Mahardika, pemeran Madun, punya potensi untuk jadi 'artis' sepakbola idola, karena dia pernah memperkuat tim Indonesia U-14. Sehingga, kalau 'Tendangan Si Madun' digarap dengan alur cerita yang normatif, dan Yusuf diberi keleluasaan mengeksploitasi kemampuan sepakbolanya, sinetron ini akan mempunyai nilai plus sekaligus edukasi bagi anak-anak Indonesia untuk cinta sepakbola.

Sebagai perbandingan -- karena tidak ada sinetron bertema sepakbola lainnya -- adalah film layar lebar 'Garuda Didadaku' dan 'Tendangan dari Langit' yang mengeksplorasi kemampuan sepakbola pemain utamanya, tanpa menjadikan kekuatan ceritanya memudar. Keduanya berjalan seiring, tanpa penonton (utamanya anak-anak) menyadari bahwa pada mereka sedang ditanamkan nilai-nilai sportivitas melalui olahraga sepakbola. Tidak ada trik kotor dan licik, yang digambarkan secara vulgar. Semuanya mengalir natural.

Artinya, kalau di layar lebar, yang durasinya 'dibatasi' 90 menit saja, bisa mengeksplorasi (cerita) sepakbola dengan sisi edukasi dan sportivitasnya, mengapa 'Tendangan Si Madun' -- yang mencapai ratusan episode -- tidak berusaha mengembangkan hal yang sama. Justru malah mengedepankan 'sisi gelap' sepakbola, yang dapat 'meracuni' anak-anak dengan hal negatif. Sungguh ironis bukan?

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com