INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Jumat, 28 Agustus 2015

Gara-Gara 'Liar', Om Jaya Suprana Siap di Bully


Tergelitik juga untuk (segera) membuat ulasan dari salah satu 'Surat Pembaca' harian Kompas, edisi Kamis (27/8/2015). Bukannya apa, surat yang berjudul 'Warga Liar' itu unik, terutama cara penulisan kalimat yang panjang -- tanpa tanda jedah -- yang bisa membuat kehabisan nafas siapapun, saat membacanya. Meski demikian, bukannya ingin berhenti. Makin panjang kalimat, makin kita dibuat penasaran untuk terus membaca, sampai titik.

Lebih unik lagi ketika di akhir surat, kita dengan jelas membaca (siapa) penulisnya. Meski disitu hanya ditulis: Jaya Suprana, Jakarta Selatan. Tanpa alamat lengkap, layaknya dua penulis surat pembaca lain, yang ada di rubrik 'Surat Kepada Redaksi' tersebut.

Ya, meski di Jakarta Selatan bisa jadi banyak nama Jaya Suprana, saya haqul yakin penulis surat itu adalah Om Jaya Suprana yang 'juragan jamu' dan pendiri Museum MURI Indonesia. Saya melihat, dari ciri kalimat yang panjang dan gaya bahasa 'sambung menyambung menjadi satu' itu, adalah trademark-nya Om Jaya, salah seorang idola saya. Cerdas dan terkesan jenaka. Persis sama gayanya -- yang saya sudah hafal diluar kepala -- saat Om Jaya memandu acara talk show di televisi, atau body language beliau saat memainkan piano.

Oh hiya, dalam surat pembaca tersebut, Om Jaya merasa prihatin dengan penggusuran warga di Kampung Pulo (Jakarta Timur) beberapa hari lalu, untuk keperluan normalisasi sungai Ciliwung. Lebih prihatin lagi -- begitu Om Jaya menulis -- adalah penggunaan istilah 'warga liar' bagi masyarakat yang dianggap tidak sah bermukim di sepanjang bantaran sungai itu. Karena, secara prinsip kata 'liar' lebih layak digunakan untuk hewan atau binatang, ketimbang manusia. Tidak main-main, untuk mencari arti kata 'liar', Om Jaya harus membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Singkat cerita, meski berisiko untuk dicemooh, dicaci maki, dihujat dan di bully -- oleh para penggusur dan pendukungnya -- Om Jaya tetap memohon kepada pihak penguasa untuk tidak lagi menggunakan istilah 'warga liar' bagi segenap warga bangsa dan negara Indonesia. Juga, memohon agar warga Kampung Pulo atau siapapun yang senasib dan kebetulan hidup dalam kemiskinan, agar tidak diperlakukan (seolah-olah) musuh negara.

Begitu saja? Untuk surat pembaca Om Jaya Suprana di harian Kompas, intinya memang itu saja. Namun, menurut saya, masih ada dua hal yang patut dibahas lebih lanjut. Pertama, kemampuan pakar 'kelirumologi' -- begitu Om Jaya sering dijuluki -- ini dalam meramu sebuah kalimat panjang tanpa tanda baca jedah sejenak (baca: koma), tapi tetap bisa bikin senyum pembacanya.

Agak aneh, mau dibilang jenaka, nyatanya semua kalimat panjang itu bernada serius. Tapi, begitu kita membacanya, pasti tersenyum (seolah) ada yang lucu. Saya kira, ini adalah sebuah teknik dan kemampuan menulis tingkat 'tinggi' yang hanya dimiliki Om Jaya Suprana.

Kedua, pemakaian Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk -- referensi dasar -- memperkuat sebuah tulisan. Dalam konteks tulisan Om Jaya, memang mutlak harus memakai referensi kamus, karena berhubungan dengan 'inti' keseluruhan surat. Tapi, secara umum, menurut hemat saya pemakaian KBBI dalam 'memperkuat' pemakaian kata dalam sebuah tulisan, tetap diperlukan. Tak perduli sebuah tulisan ilmiah, fiksi, atau pun tulisan ringan macam 'Secangkir Teh' ini.

Saya termasuk yang fanatik menggunakan KBBI, selain kamus Bahasa Inggris, dalam membuat tulisan. Terutama untuk crossceck arti sebuah kata serapan bahasa Indonesia, meski sudah umum digunakan dalam keseharian, seperti: provokatif, hirarki, kontroversial, harfiah, dll. Karena, saya tidak ingin pembaca menemukan kata yang tidak pada tempatnya, di tulisan-tulisan saya.

Bagi saya, ini adalah bagian tanggung jawab (seorang) penulis untuk menggunakan kata -- dalam bahasa Indonesia -- dengan baik dan benar. Sehingga, selain pembaca mendapatkan sajian tulisan ringan yang enak dibaca, secara tidak langsung pembaca juga 'belajar' menyusun kalimat dengan kata yang benar. Setuju?

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com