INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Senin, 24 Agustus 2015

Jangan Sampai Anak Kita Jadi Robot


Kalau kebetulan saat ini anda sudah menyandang status sebagai orangtua -- sudah menikah dan mempunyai putra atau putri -- coba ingat-ingat, pernahkan dalam memberi nasehat anak, yang susah disuruh belajar, terselip kata-kata "Dulu.., saat Ayah (Bunda) masih seusiamu, untuk belajar tidak pernah disuruh-suruh, tidak seperti kamu sekarang. Dulu, begitu pulang sekolah... bla... bla... bla... dst." Atau, kalau belum pun, setidaknya anda pernah mendengar seperti itu, kan?

Sabar.., saya tidak akan 'ceramah' atau menulis artikel seperti layaknya pakar psikologi, apalagi 'menggurui' anda semua tentang cara mendidik anak. Karena, saya yakin anda pasti sudah lebih pintar. Ilustrasi diatas, sengaja saya apungkan untuk menggiring fikiran ke arah yang sama, bahwa (ternyata) di sekitar kita masih banyak yang memberi nasehat anak dengan cara 'berlindung' ke masa lalu.

Begini, agar bisa lebih menghayati, ada contoh lagi yang lebih spesifik, seperti ini: Ketika anak saya yang kelas 4 SD susah disuruh belajar, meski sudah saya beritahu berulangkali secara baik-baik -- maunya tuh main komputer atau nonton televisi -- maka yang muncul adalah rasa jengkel. Dan keluarlah kalimat 'normatif' seperti diatas. Bahwa dulu ketika saya seusianya, belajar itu otomatis, tidak perlu disuruh dan dipaksa orangtua. Habis mengaji di musholla, makan malam, langsung belajar. Bahkan, saya tambah cerita, karena kebiasaan itu makanya saya pintar dan juara kelas.

Tujuannya jelas, memberi motivasi anak -- mencontohkan diri kita sebagai sosok penurut, rajin dan pintar -- dengan harapan agar anak mau meniru dan mengikuti jejak kita, belajar dengan kesadaran sendiri. Ternyata, metode itu tak sepenuhnya manjur dan mengena untuk anak-anak jaman sekarang. Bahkan malah membuat anak semakin 'tertekan' dan malas. Koq bisa?

Dari beberapa literatur yang pernah saya baca, ada perbedaan kondisi yang signifikan, antara jaman dulu -- setidaknya 30 atau 40 tahun silam, saat kita masih kecil -- dengan era saat ini, yang sudah 'dikuasai' teknologi. Jaman dulu, kita bisa mengatur waktu bermain dan belajar dengan baik, karena belum ada banyak (stasiun) televisi, belum ada komputer dan warnet, belum mengenal gadget dan rental play station. Bandingkan dengan fasilitas jaman sekarang, jaman anak-anak yang dikelilingi produk teknologi canggih. Itu berpengaruh pada pola pikir anak.

Adanya perbedaan yang mencolok itu, menjadikan nasehat 'perbandingan' jadi kurang relevan lagi. Ternyata, anak-anak sulit membayangkan dengan baik, kondisi macam apa yang ada di jaman orangtuanya. Sebaliknya, sifat kritis dan daya nalar anak-anak sekarang jauh lebih berkembang, dibanding jaman kita dulu, yang lebih patuh -- dan menerima tanpa syarat -- pada nasehat dan perintah orang tua.

Artinya, bukannya anak-anak sekarang tidak penurut, tetapi harus ada penjelasan lanjutan dari setiap nasehat atau perintah yang kita berikan pada mereka. Hal yang cukup logis, karena anak-anak juga menyerap informasi (lain) dari teknologi yang ada, selain dari aturan normatif yang kita terapkan di rumah. Sehingga, kita -- para orangtua -- harus siap secara bijak untuk memberikan penjelasan logis, sebagai penjabaran dari apa yang kita sampaikan, baik berupa nasehat maupun perintah. Ternyata ini lebih bisa diterima logika anak-anak, dibanding dengan sekedar memberikan 'perbandingan' masa lalu.

Demikian juga ketika kita memberi motivasi dengan mecontohkan keberhasilan studi kita di masa lalu -- anak yang pandai, selalu mendapat rangking & juara kelas -- nyatanya (mayoritas) anak-anak justeru menganggap ini sebagai 'tekanan' yang malah menjadikan demotivasi, ketika merasa tidak sanggup menyaingi dan menenuhi harapan orang tuanya.

Lagi-lagi, seperti biasa, tulisan ini tidak akan memberikan kesimpulan. Kecuali, saya hanya mengajak anda sekalian -- para orangtua -- untuk lebih bijaksana dalam mendidik anak, tidak ego dan merasa paling benar. Tak ada yang menginginkan (kelak) anak-anak kita jadi 'robot' bukan?

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com