INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Senin, 31 Agustus 2015

Kata Abang Sayur, Tempe 'Mengecil' Karena Dollar Naik


Layaknya antrian untuk mendapat jatah air bersih -- yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, sebagai dampak musim kemarau panjang -- harga-harga kebutuhan pokok juga tak mau kalah, satu demi satu 'antri' untuk naik harga. Awalnya cuma daging sapi, daging ayam dan cabe, yang beranjak naik, sejak menjelang bulan puasa silam. Nyatanya, di minggu ke-2 Agustus malah diikuti bawang merah, beras dan kedelai.

Tentu saja, saya tidak akan membahas masalah kenaikan harga ini layaknya para 'pakar' yang dalam beberapa hari ini rajin muncul di acara dialog televisi, baik lokal maupun nasional. Di 'Secangkir Teh' cukup dibahas sembari minum teh hangat dan menyantap tempe mendoan -- yang karena alasan harga lagi mahal -- tidak disertai cabe rawit dan sambal kecap, seperti biasanya.

Nah, mumpung 'ngomongin' tempe, ternyata jenis makanan yang sedang didaftarkan ke Unesco -- badan internasional yang mengurusi masalah kebudayaan -- sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia, minggu-minggu ini lagi jadi 'trending topic' pembicaraan ibu-ibu dan tukang sayur di komplek perumahan. Sepele saja, yang diributkan kenapa dengan harga yang sama seperti biasanya, tapi ukuran tempe jadi mengecil. Kata abang tukang sayur sih, karena pengaruh harga dollar yang lagi naik (sok tau ya?).

Kita abaikan apa jawaban tukang sayur pada ibu-ibu tersebut. Karena jawaban pastinya -- yang info validnya saya dapat dari harian Kompas -- saat ini harga kedelai di tingkat pengecer mengalami kenaikan. Dampaknya, pengusaha tempe rumahan dibuat pusing, ada dua pilihan untuk antisipasinya: menaikkan harga jual atau memperkecil ukuran tempenya. Dan beberapa pengusaha tempe di wilayah Jakarta Timur dan Bogor memilih opsi 'memperkecil ukuran' tempe sampai 5 persen dari ukuran semula.

Gara-gara itu pula, ini untuk informasi saja -- khususnya yang suka kuliner pinggir jalan di malam hari -- sudah seminggu lebih sebagian pedagang makanan warung tenda pecel lele & pecel ayam di sepanjang Jalan Raya Bogor dan Jalan Alternatif Cibubur (Jakarta Timur), membuat 'penyesuaian' menunya. Ukuran potongan ayam dan tempenya dikurangi dari biasanya, menyusut lebih kecil. Harganya sih rata-rata masih tetap, belum naik.

Nah, untuk masalah kedelai, ada hal menarik yang patut disimak. Yaitu informasi yang diberikan importir kedelai -- seperti diketahui kedelai bahan baku tempe masih import dari Amerika Serikat -- sebenarnya harga kedelai di negeri asalnya masih stabil, belum ada kenaikan, bahkan sekarang justeru lagi masuk musim panen. Kalau toh ada kenaikan, diperkiran pada awal tahun depan. Begitu.

Memang, pemerintah tidak tutup mata untuk mengatasi masalah kedelai ini. Untuk mengantisipasi kenaikan harga -- kedelai import -- di awal tahun depan misalnya, pemerintah mencoba memenuhi stock kedelai dengan mengintensifkan produksi dalam negeri. Caranya, memanfaatkan sisa musim tanam tahun ini dengan diversifikasi tanaman kedelai di lahan-lahan produktif.

Masalahnya, ini pemikiran saya, apa ketersediaan air untuk menanam kedelai tersebut tercukupi, mengingat saat ini hampir di semua daerah di Indonesia mengalami kekeringan. Untuk areal lahan produktif -- kalau benar yang dimaksud adalah persawahan -- mungkin tidak ada kendala. Ah, biarkan pemerintah saja yang memikirkan jalan keluarnya.

Kembali ke masalah tempe tadi -- masih belum tuntas dibahas, karena berhubungan dengan hajat hidup rakyat kecil -- nampaknya akan 'berbuntut panjang' dampaknya. Bukan hanya hidangan tempe (sebagai lauk) di meja makan yang akan berkurang, atau pedagang pecel lele yang sudah 'kreatif' mempertipis ukuran tempenya, tetapi juga para penjual gorengan, warteg dengan tempe orek-nya, serta industri kripik tempe tentu terkena dampak juga.

Sambil menghabiskan satu tempe mendoan terakhir, saya jadi (ikut) berfikir, kenapa makin hari perekonomian negara kita tak makin membaik. Jangan-jangan -- seperti kata abang tukang sayur tadi -- ini (juga) gara-gara dollar yang semakin perkasa. Bisa jadi kan?

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com