INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 23 Agustus 2015

Kenapa (Harus) Malu Menyajikan Makanan Kampung?


Ada kebiasaan, setiap ada acara atau kegiatan seremonial -- institusi pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan -- yang melibatkan pejabat, dapat dipastikan panitia akan menyiapkan konsumsi yang beraneka macam, untuk disajikan di meja depan, yang khusus untuk undangan kehormatan. Pokoknya membuat kesan 'makmur', agar tidak membuat malu panitia, meski kadang hidangan tersebut hanya dicicipi sekedarnya saja oleh sang pejabat.

Terus terang saya tidak dalam kapasitas menggugat 'kebiasaan' tersebut, apalagi sampai mengatakan itu tidak benar. Bukan, saya hanya sering bertanya dalam hati, apakah hiya -- para pejabat (level apapun) yang hadir pada acara-acara tersebut -- memang menginginkan dijamu seperti itu, ataukah ini hanya inisiatif 'tuan rumah' sebagai azas kepantasan semata?

Bukannya apa, saya juga sering datang ke berbagai acara seremonial semacam itu -- beberapa diantaranya saya berkesempatan duduk di kursi empuk deretan terdepan -- dan saya melihat ketimpangan, yaitu deretan paling depan (biasanya pejabat dan undangan kehormatan) disuguhi penuh hidangan, sedangkan deret belakangnya kadang tidak mendapat apapun, bahkan air minum sekalipun. Memprihatinkan bukan?

Itu baru kasus pertama. Yang kedua, jika toh seandainya seluruh tamu undangan yang hadir dibagi konsumsi juga, kadang porsi yang diberikan malah justeru berlebih dan dipantas-pantaskan. Sering saya dengar -- apalagi kalau saya jadi bagian dari panitia -- kalimat seperti ini: "jangan pakai piring styrofoam ah, mending kotak karton saja, lebih praktis dan pantas", atau: "kuenya jangan cuma dua macam dong, gak pantas, kelihatan pelit", bahkan ada yang bilang: "sebaiknya konsumsinya prasmanan, ambil sendiri-sendiri, biar tidak terkesan dijatah". Kalimat yang lebih parah lagi: "kuenya jangan seperti itu ah, malu-maluin, itu kan makanan kampung".

"Terus maunya Mas Prie itu apa sih? Protes melulu, bikin sebel!" Mudah-mudahan ada (beberapa) pembaca yang menggerutu begitu. Ya, kalau tanya maunya saya -- lebih tepatnya pemikiran saya -- kenapa sih tidak kita rubah saja pola 'penyambutan' tamu pejabat dalam sebuah acara (seremonial), dari segi sajian hidangannya. Jangan berlebihanlah.

Maksudnya, polanya dirubah dengan konsep lebih rasional dan merakyat. Rasional, dengan melihat macam acara, banyak undangan dan budget yang ada. Merakyat, dengan menghidangkan sajian yang biasa dikudap masyarakat pada umumnya. Toh jujur saja, para pejabat -- atau siapapun yang duduk di deretan kursi depan -- itu sudah terbiasa dengan kudapan enak dalam keseharian. Jangan 'dimanja' lagi dengan hidangan kudapan sejenis, yang naga-naganya juga jarang dimakan.

Jadi kenapa tidak sesekali diberi hidangan makanan tradisional dan 'khas kampung' ataupun jajanan pasar misalnya? Pasti lebih mengena dan surprise, karena jarang ditemui oleh beliau-beliau itu. Bahkan, hidangan tradisional itu, bisa membangkitkan nostalgia makanan ataupun jajanan masa kecilnya, bisa jadi kan? Demikian juga dengan undangan umum lain -- kalau memang dapat konsumsi -- yang simple dan sewajarnya saja, karena mereka hadir bukan semata-mata untuk cari makanan kecil.

Intinya, sudah waktunya kita sudahi cara-cara kontra-produktif dalam memberi 'jamuan' sebuah acara seremonial. Saya sebenarnya sangat apresiasi dengan himbauan pemerintah, beberapa waktu silam, yang 'mengharuskan' menyajikan makanan tradisional berbahan lokal -- untuk acara-acara instansi pemerintah, walau di hotel sekalipun -- sebagai bagian pola hidup sederhana dan rasa empati pada 'susahnya' kehidupan rakyat kecil. Ironisnya, program itu kini sudah nyaris tak terdengar lagi.

Menurut hemat saya, lebih 'bernilai' ketika kita mengangkat martabat makanan kampung sebagai bagian kehidupan keseharian -- dalam konteks acara seremonial tadi -- daripada mengangkat harkat dan martabat pejabat (yang hadir sebagai undangan kehormatan, dengan menyajikan hidangan yang dilebih-lebihkan) agar kita bernilai di mata mereka. Gimana, betul apa betul ?

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com