INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Kamis, 20 Agustus 2015

Ketika Ruang Tamu Pindah ke Kafe


Kalau saya menulis kata 'ruang tamu' pada judul tulisan ini, pasti yang terbayang di benak anda -- entah ruang tamu yang ada di rumah atau kantor -- adalah seperangkat sofa, meja tamu, rak buku, jendela dan beberapa aksesoris atau pajangan untuk pemanis ruangan. Tapi, pernahkah terbersit di benak anda, terutama yang tinggal di kota-kota besar, menghitung berapa banyak teman atau relasi yang anda terima di ruang tersebut dalam beberapa bulan terakhir?

Pertanyaan itu perlu diapungkan, karena suka atau tidak, di masyarakat urban perkotaan yang identik dengan kesibukan, sudah agak lama muncul aktivitas dan gaya hidup yang merubah lokasi ruang tamu. Yang tadinya teman atau relasi cukup diterima di ruang tamu yang sudah ada -- di rumah atau kantor -- kini ada kecenderungan 'dipindah' ke tempat rendezvous, seperti kafe misalnya.

Agar tidak salah mengartikan, secara harfiah -- dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) -- kafe adalah tempat minum kopi yang pengunjungnya dihibur oleh musik. Sedang kata (asli) café, dalam bahasa Perancis dapat diartikan kopi dan juga tempat minum kopi.

Nah, pindahnya fungsi ruang tamu ke tempat alternatif -- seperti café itu tadi -- kalau ditelaah lebih mendalam, sebenarnya bukan hanya sebagai bagian dari gaya hidup semata. Lebih dari itu, juga sebagai solusi dari kebutuhan untuk bersosialisasi yang lebih praktis, yang disebabkan makin kompleksnya kerumitan yang ada di daerah perkotaan.

Konkritnya, tingkat kemacetan yang tinggi menyebabkan perjalanan dari satu kantor ke kantor lain -- untuk keperluan bertemu relasi atau bisnis -- bisa menyita waktu panjang. Sehingga diambil langkah praktis dengan mengambil tempat yang berlokasi strategis dan mudah dijangkau kedua belah pihak, seperti cafe, yang kini banyak bertebaran di area pusat bisnis, gedung perkantoran, mall maupun hotel. Keuntungannya, tidak sekedar menghemat waktu, tetapi juga praktis dari segi konsumsi yang biasanya sudah tersedia di tempat itu.

Dan memang, memindah ruang tamu ke kafe, akhirnya bukan hanya untuk keperluan bisnis semata. Untuk kebutuhan sosialita seperti bertemu teman lama, dengan alasan kepraktisan dan berkurangnya waktu di rumah -- ditambah jarak tempuh yang kadang cukup jauh -- bertemu di kafe sepulang kerja atau saat waktu luang, adalah pilihan yang (dianggap) tepat. Seperti diungkap psikolog Dwi Septinawati, di harian Kompas, "Bertemu di kafe dengan rekan dan melakukan rapat evaluasi di tempat itu terasa lebih nyaman, karena lokasi kafe merupakan titik tengah dari posisi masing-masing. Selain itu bisa menghemat waktu dan tenaga, apalagi kalau waktunya sempit."

Memang, ada plus minus dari trend yang menggejala di kaum urban perkotaan ini. Secara umum, sebenarnya bertemu dan berkumpul di rumah -- dengan teman atau relasi -- justeru lebih aman dan hemat. Meski, kadang muncul situasi canggung dan kurang nyaman saat kita berinteraksi dengan tamu. Sedang jika bertemu di kafe, suasananya lebih menarik dan tidak membosankan, meski ada minusnya juga, yaitu boros di pengeluaran.

Nyatanya, dalam perkembangannya, gaya hidup seperti ini bukan monopoli orang kantoran semata. Tetapi juga menggejala di kalangan anak muda dan pelajar, yang menjadikan kafe sebagai tempat kongkow dan (kadang) mengerjakan tugas kuliah atau sekolahnya. Tentu, kalau yang dimaksud hanya dalam konteks mengikuti trend, selama masih koridor norma yang positif, itu bisa ditolerir. Karena bisa jadi ini bagian dari aktualisasi dan mencari jati diri.

Uniknya, dalam dimensi yang berbeda, memindahkan fungsi ruang tamu -- ke tempat semacam kafe, seperti: rumah makan, saung, lesehan, pondok makan, sampai pemancingan -- kini bukan lagi monopoli kaum urban perkotaan. Di masyarakat pinggiran kota juga sudah (ikut-ikutan) menggejala, mulai dari temu kangen sekolah, ulang tahun anak, sampai arisan keluarga pun sudah tidak diadakan di (ruang tamu) rumah lagi.

Sekarang, bagaimana dengan anda, juga -- ikut-ikutan -- sering ke kafe, atau malah setia dengan ruang tamu rumah?

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com