INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Sabtu, 22 Agustus 2015

Kini, Keretaku Tak Terlambat Lagi


'Naik kereta api, tut.. tut.. tut.., siapa hendak turut.., ke Bandung... Surabaya...' Masih ingat dengan penggalan lagu itu? Ya, lagu anak-anak yang sangat familiar -- sejak saya masih kecil -- sampai saat ini pun masih dinyanyikan anak-anak di sekolah TK. Sebuah lagu yang menggambarkan bahwa naik kereta api, moda transportasi 'murah meriah' yang sudah begitu merakyat, sangatlah menyenangkan. Benarkah demikian?

Untuk menjawabnya, saya akan berbagi pengalaman dalam menggunakan sarana transportasi ini, dalam 20 tahun terakhir.

Pertama kali saya merasakan naik kereta api, saat merantau ke Jakarta, untuk mulai 'berjuang' mencari sesuap nasi, sekitar tahun 1995. Saat itu, tidak ada pilihan lain, kereta api Matarmaja adalah satu-satunya tujuan Jakarta, dari Malang. Ada dua kelas, Bisnis dan Ekonomi, dalam satu rangkaian gerbong panjang. Bisnis menempati 3 gerbong didepan, disusul rangkaian gerbong ekonomi.

Kesan pertama, melelahkan dan berisik. Berangkat dari Malang jam 1 siang, sampai stasiun Pasar Senen (Jakarta) jam 9 pagi, keesokan harinya. Perjalanan 20 jam, karena setiap stasiun -- besar dan kecil -- kereta selalu berhenti. Di dalam kereta, suasana 'berisik', sepanjang perjalanan. Mulai dari hilir mudiknya penjual asongan, pengamen, pengemis, penyewaan bantal, tukang pijit, sampai petugas restorasi yang menawarkan minuman dan makanan.

Belum lagi saat berhenti di setiap stasiun, pengasong & penjual makanan berebut naik kereta, menjajakan dagangannya dengan suara nyaring. Mereka dengan enaknya melangkahi para penumpang yang tidur di sepanjang lorong gerbong. Yang paling menyebalkan, fasilitas toiletnya jorok dan bau. Itu yang di kelas ekonomi. Untuk kelas bisnis, agak sedikit mendingan, terutama tempat duduk yang lebih empuk dan akses pedagang asongan yang dibatasi.

Saya kurang faham, kenapa begitu crowded. Apa karena harga tiket yang murah, monopoli pengelolaan, ataukah sistem yang masih lemah. Tetapi, itulah gambaran 'sederhana' suasana kereta api di tahun 90-an -- yang anehnya -- saya tetap setia menggunakan, untuk mudik ke Malang. Sampai (akhirnya) di awal 2000-an dioperasikan kereta Gajayana, untuk kelas eksekutif, dengan harga tiket 4 kali lipat kelas ekonomi. Sesuai kelasnya, suasananya lebih nyaman. Meski di stasiun tertentu, asongan masih bisa masuk juga. Setidaknya, untuk saat tertentu, Gajayana bisa jadi alternatif jika ingin suasana nyaman dan tenang.

Ketika moda transportasi udara merambah Malang -- saat Bandara Abdurrachman Saleh dibuka kembali untuk komersial -- saya sempat beralih ke moda ini, untuk keperluan ke Malang. Bukannya apa, harga tiket maskapai penerbangan lokal tujuan Malang-Jakarta (PP) hanya beda-beda tipis dengan kereta api eksekutif jurusan yang sama. Barangkali, inilah (salah satu) alasan PT. Kereta Api Indonesia mulai berbenah, agar tidak semakin ditinggalkan penggunanya, terutama pengguna kelas menengah keatas.

Nyatanya PT. KAI benar-benar 'mereformasi' diri dalam sistem dan layanannya. Setidaknya saya merasakan sendiri di tahun 2013 dan 2014. Pembelian tiket yang awalnya manual dan harus berebut dengan calo, menjadi online dan mudah didapat, termasuk di jaringan Indomaret yang sudah merambah ke pelosok kampung. Nama di tiket harus sama dengan KTP penumpang. Stasiun juga steril dari pengasong & pengantar penumpang. Dan, terpenting, jadwal keberangkatan ontime sesuai tertera di tiket.

Demikian juga selama perjalanan, tidak ada lagi pedagang asongan, toilet bersih, dan pendingin udara yang nyala terus. Yang surprise, colokan listrik -- di tiap dinding dekat kursi -- bisa dipergunakan, baik untuk handphone maupun laptop. Itu di kelas ekonomi lho, saat saya naik kereta api Kertajaya jurusan Stasiun Semut, Surabaya. Kembali ke Jakarta, saya naik kereta Gajayana, yang tentu saja dengan layanan cukup prima.

Jadi, 'ayo kawanku lekas naik, keretaku tak terlambat lagi..' Ya, selain tak terlambat, juga nyaman dan tertib. Anda perlu membuktikan, sesekali.

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com