INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Rabu, 19 Agustus 2015

Maaf, Saya Belum Sanggup Mbak


Sambil menunggu air mendidih untuk bikin teh -- seusai sholat Subuh tadi -- saya tercenung membaca pesan via WhatsApp dari Mbak Tanti R. Tyas, yang ada di Probolinggo. Mengaku sebagai pembaca setia 'Secangkir Teh Mas Prie', ibu guru lulusan salah satu perguruan tinggi di Malang ini menulis, "Alangkah bagusnya kalau tulisan Mas Prie diklasifikasikan dalam 7 tema tertentu, dan setiap tema ditampilkan dalam hari yang sama setiap minggunya. Misalnya Senin tema motivasi, Selasa tema ekonomi politik, Rabu tema sosialita, Kamis tema wisata dan kuliner, dst. Jadi kami tahu hari ini tulisan Mas Prie tentang apa, besok tema apa, dan seterusnya."

Terus terang, ini usulan yang sangat bagus, menurut saya. Oh hiya, sebelum saya lanjutkan (dan juga sebelum lupa), perlu saya sampaikan kepada pembaca, bahwa Gepeng -- asisten setia yang penuh dedikasi dan loyalitas, terutama saat menemani saya menulis sambil menyiapkan teh manis dan susu coklat hangat -- terhitung 17 Agustus kemarin sudah resmi pamit, untuk mengejar obsesi masa depan bersama Novi, (calon) pendamping hidupnya. 

Untuk itu saya ucapkan, "Semoga sukses dan tercapai ya Peng, jangan khawatir, sementara ini aku bisa bikin teh dan susu coklat sendiri koq, sampai nanti ada penggantimu. Maju terus, jangan patah semangat, Peng!"

Baiklah, kita kembali ke laptop -- dan usulan Mbak Tanti tadi -- bahwa membuat serial tulisan yang tematis, kalau dipaksakan sebenarnya tidak ada masalah, 'fine-fine' saja. Apalagi dengan tema-tema ringan seperti rubrik ini. Cuma, tentu ada beberapa hal yang harus saya pertimbangkan untuk memulai, diantaranya:

Pertama, TERKEKANG. Hiya, saya jadi 'terkekang' dalam menulis, karena harus mengikuti jadwal dan tema harian yang sudah ditetapkan. Padahal, seperti yang pernah saya tulis di edisi awal 'Secangkir Teh', rubrik ini bertujuan menjadi sarana melampiaskan hasrat menulis yang kadang membuncah tanpa pernah mendapat tempat untuk menuangkan, dalam wadah yang tepat dan tetap.

Kedua, TERBATAS. Menulis tidaklah sama dengan mengerjakan tugas kuliah, yang cenderung textbook. Sehingga begitu ada literatur sebagai acuan, bereslah tugas itu. Benar, dalam menulis juga diperlukan referensi, tetapi itu hanya 'cantelan' yang berfungsi memperkuat argumen dari data dan fakta yang akan disajikan. Bukan roh dari seni menulis itu sendiri. Kalau menulis hanya terbatas menyajikan data dan fakta -- sesuai jadwal dan tema -- semata, maka kreatifitas mengembangkan seni menulis akan terpasung, dan tentu saja hasilnya akan beda dan terkesan kaku (baca: tidak mengalir lancar).

Ketiga, TERPAKSA. Ini hal yang tidak saya suka, menulis karena terpaksa. Padahal ide dan inspirasi bahan tulisan itu bisa datang setiap saat, setiap waktu. Kalau tidak langsung ditulis, bisa lenyap ditelan ide-ide berikutnya. Bayangkan, kalau hari ini saya (tiba-tiba) ada ide menulis tentang kuliner kota Malang, tapi karena hari ini jadwal dan temanya tentang pendidikan, ya lenyaplah ide itu. Saya terpaksa harus menulis tentang pendidikan, meski belum ada ide dan bahan tulisannya. Celaka bukan?

Artinya -- dengan tiga fakta diatas -- saya ingin menyampaikan bahwa proses menulis itu sebenarnya tidaklah segampang yang dibayangkan. Ada proses panjang -- membaca, mengamati dan mencoba -- yang harus dilakukan terus menerus dan berkesinambungan. Bakat saja, tidaklah cukup. Kalau ada buku (panduan) yang mengatakan 'Menulis Itu Gampang', saya 95% kurang percaya. Pasti yang menulis itu seorang penulis profesional, yang menganggap gampang semua hal tulis-menulis. Padahal, awalnya dia (pasti) juga kerja keras saat baru merintis jadi penulis.

So, karena saya merasa masih penulis 'pemula', saya belum berani menerima 'tantangan' Mbak Tanti. Biarkan 'Secangkir Teh Mas Prie' -- untuk sementara waktu -- mengalir liar dengan ide dan tema bebasnya. Para pembaca pun juga bebas, mau baca penuh, baca judulnya, atau hanya senang lihat foto ilustrasinya saja. Tidak masalah, mumpung juga masih gratis (sebelum nanti, tulisan ini dijadikan buku). Pokoknya, free of charge deh!

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com