INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Selasa, 25 Agustus 2015

Apa Pak Presiden Tidak Bangga (Bahasa) Indonesia?


Saya tiba-tiba merasa sedih, ketika membaca berita tentang Pak Presiden Jokowi -- dalam arahannya kepada Menteri Ketenagakerjaan, minggu kemarin -- akan menghapus regulasi keharusan bagi tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia untuk wajib menguasai bahasa Indonesia. Alasannya, menjadi (salah satu) hambatan bagi para pekerja asing untuk masuk ke Indonesia, yang dalam skala lebih besar bertujuan mempermudah investor asing datang ke Indonesia.

Saya sedih, murni alasan pribadi. Bukan karena sok prihatin dengan dampak yang ditimbulkan kebijakan ini, atau hal lainnya. Setidaknya, saya teringat pengalaman tahun 1991, ketika saya bekerja part-timer di Proyek GTZ Jerman -- kerjasama pemerintah Jerman dan Indonesia -- di Lombok Timur, NTB.

Saat itu saya masih mahasiswa dan kurang menguasai bahasa Inggris. Sehingga, ketika harus berkomunikasi dengan Mr. Gunther Kohl -- yang berkebangsaan Jerman -- pimpinan tertinggi proyek, saya sangat nervous. Tapi apa yang terjadi? Pak Kohl mempersilahkan saya menggunakan bahasa Indonesia (bukan Jerman atau Inggris!) karena beliau menguasai dan mengerti, meski tetap berbahasa Inggris dengan saya.

Demikian juga saat saya sudah bekerja di salah satu perusahaan nasional yang sudah go public, di Jakarta. Ketika saya harus melaporkan penjualan ekspor perusahaan di 'Weekly Report Meeting', Pak Yogesh Dixit -- salah satu Direktur, warganegara India -- meminta saya menggunakan bahasa Indonesia, supaya bisa memaparkan lebih rinci dan detail. Dan Pak Dixit pun memimpin rapat mingguan ini dengan menggunakan bahasa Indonesia (bercampur Inggris, sesekali). Sangat komunikatif.

Saya yakin, dari dua kejadian itu -- dua pimpinan berkebangsaan asing, berkemampuan bahasa Indonesia -- adalah hasil regulasi yang mengharuskan TKA menguasai bahasa Indonesia, sebelum resmi bekerja di Indonesia. Sehingga di lapangan, tidak mengalami kendala bahasa ketika harus berkomunikasi dengan staf lokal. Itulah yang membuat saya sedih, apa jadinya (kelak) jika para TKA tidak dibekali kemampuan bahasa Indonesia.

Dengan regulasi tersebut, saya membayangkan, bagaimana para TKA dari Tiongkok, Jepang, Korea -- tiga negara dengan suplay terbesar TKA di Indonesia -- akan menguasai (kantor-kantor perusahaan) dengan bahasa mereka, dan mayoritas pekerja lokal Indonesia dipaksa untuk mengerti, terutama untuk level jabatan yang ada dibawah para TKA tersebut. Saya ragu, para TKA itu, (juga) menguasai bahasa Inggris dengan baik.

Apalagi untuk perusahaan yang masuk skala industri massal, pasti akan banyak terjadi miskomunikasi, karena, mau tidak mau, yang dihadapi TKA tersebut adalah level worker, yang berpendidikan menengah dan minim kemampuan bahasa Inggris. Selama ini, jabatan yang banyak 'diberikan' kepada TKA adalah untuk level profesional, konsultan, komisaris, direksi, manajer, supervisor dan teknisi.

Ya, saya memang tidak begitu pandai dan paham politik. Tetapi kebijakan pemerintah -- atas arahan langsung Presiden ini -- pasti akan banyak berpengaruh pada budaya dan nilai-nilai moral di negara ini. Termasuk, yang tak bisa diabaikan, menjadi lemahnya proteksi terhadap tenaga kerja lokal, mengingat masih banyaknya pengangguran di Indonesia.

Melalui rubrik 'Secangkir Teh' ini, saya ingin menyampaikan uneg-uneg pada Pak Jokowi, Presiden Republik Indonesia. Sampai atau tidak, itu urusan nomor sekian. Yang penting, anda sudah (ikut) baca, itu saya sudah senang. Begini:

"Pak Presiden, masalah politik memang urusan anda. Tetapi untuk 'Bahasa Indonesia' jelas milik kami, bangsa Indonesia. Jangan remehkan bahasa nasional (dan persatuan) dengan mengatas namakan 'demi perbaikan ekonomi' dan popularitas kelompok & golongan. Masih banyak jalan bisa anda tempuh. Tanyakan solusinya pada menteri dan para ahli -- yang katanya orang pilihan & profesional -- di sekeliling anda. Harga diri bangsa (dan bahasa) jauh lebih penting dan diatas segalanya, Pak. Kecuali, Pak Presiden sudah tidak punya kebanggaan pada bahasa Indonesia lagi!"

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    Arsip Tulisan

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com