INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Sabtu, 26 September 2015

Emang Kalau Cantik Gak Boleh Ngapa-Ngapain Ya?

Mungkin bukan hanya saya -- yang merasa kesal dan kurang nyaman -- ketika (pengguna) media sosial seperti berlomba, memunculkan foto-foto perempuan berwajah cantik dari berbagai profesi, beberapa waktu silam. Mulai dari polisi cantik, penjaga tol cantik, lurah cantik, satpol PP cantik, sopir bis cantik, petugas pom bensin cantik, penjual nasi cantik, tukang sapu jalan cantik, sampai tukang tambal ban cantik. Tak cuma itu, media online pun ikut-ikutan 'berburu' yang serba cantik, dan memberitakan (hampir) setiap hari.

Kalau saya merasa kesal, dan juga tidak nyaman, tentu bukan karena 'tidak normal' --ataupun munafik -- karena tidak suka melihat foto perempuan cantik. Tetapi, alasan saya, kejadian dan aktivitas tersebut, dilihat dari segi kehidupan sosial, sangat tidak beretika. Karena, tidak menempatkan perempuan pada 'proporsi' yang sebenarnya. Maksudnya, tujuan penyebaran foto tersebut, lebih pada menempatkan perempuan sebagai 'obyek' yang hanya dinikmati sebagai kesenangan, sebagai pemuas indera penglihatan semata.

Saya tidak sependapat, kalau hal tersebut hanya dipandang sebagai 'guyonan' semata, apalagi kalau sampai disebut 'fenomena' sesaat. Karena, terlalu naif memanfaatkan kelebihan fisik perempuan, sebagai bahan candaan di media sosial. Apalagi, media sosial adalah ruang publik yang bisa diakses siapa saja, tidak mengenal gender, usia, pendidikan dan strata sosial. Sehingga, setiap ada foto baru -- dari perempuan cantik dengan profesi yang berbeda -- pasti akan segera dibahas dan dikomentari, cenderung (berkesan) melecehkan.

Pemikiran saya, munculnya foto-foto itu, akhirnya lebih berdampak pada munculnya image baru, bahwa perempuan cantik 'tidak cocok' masuk pada profesi tersebut. Kalau toh ada yang 'terlanjur' menggelutinya -- seperti dalam foto-yang beredar -- maka dikesankan mereka adalah perempuan istimewa. Salah tempat.

Gampangnya, sebagai misal, ketika ada perempuan muda, dengan wajah 'tidak cantik', membuka jasa tambal bal di depan rumahnya, akan dianggap biasa saja. Paling-paling disebut sebagai dampak dari kemiskinan dan putus sekolah. Atau, korban ketidakmampuan orangtua menyekolahkan ke jenjang lebih tinggi. Coba bandingkan, dengan kondisi dan profesi yang sama, tetapi perempuan itu berparas cantik. Pasti akan berbeda cara pandang dan perlakuannya bukan? Dalam hal ini, sudah ada benih diskriminasi.

Contoh lebih konkrit, beberapa waktu lalu, di media online -- dan tentu saja media sosial -- sempat ramai beredar foto seorang perempuan cantik berusia 19 tahun, penjual kue tradisional di jembatan penyeberangan, di Jakarta. Kalau dipikir secara akal sehat, sangat biasa 'gadis' seusia itu membantu orangtua atau keluarganya, mencari tambahan penghasilan dengan berjualan kue di area umum, bukan? Terlepas berparas cantik, biasa saja, atau (maaf) jelek.

Tetapi, karena masyarakat (baca: di media sosial) sudah 'terlanjur' tersugesti dengan kebiasaan sebelumnya, penyebaran foto perempuan yang 'serba cantik' tadi -- dan di blow-up di media online juga -- maka jadilah hal itu 'seolah-olah' hal yang luar biasa. Sehingga, gadis tersebut menjadi gunjingan dan 'tontonan', bahkan dijadikan model dadakan di salah satu media online, serta ditawari untuk main sinetron segala. Tidak masuk akal, hanya karena cantik (dan kebetulan jualan kue), langsung ditawari profesi yang sebetulnya perlu skill yang tinggi.

Sekali lagi, saya tidaklah alergi dengan 'kebiasaan' media sosial yang sering memunculkan hal mengejutkan pada komunitas penggunanya. Apalagi kalau (bisa) memberikan dampak dan nilai positif pada masyarakat. Tetapi, sebaliknya, kalau sudah diluar akal sehat -- sampai merendahkan martabat kaum perempuan segala -- tidaklah elok.


Terlepas pro dan kontra, sangat celaka kalau hal seperti ini selalu ditolerir, dengan alasan apapun. Benar, kecantikan memang anugerah yang patut disyukuri. Tetapi, kalau dieksploitasi dengan cara -- dan tempat -- yang salah, itu adalah 'pelecehan', diakui atau tidak!
Share:

Jumat, 11 September 2015

Menyoal Lirik Lagu Dangdut yang 'Pasaran' Itu

Di awal, saya harus permaklumkan, ini bukan bentuk 'konfrontasi' saya dengan pembaca, yang kebetulan penggemar musik dangdut. Seperti sering saya sampaikan, membaca 'Secangkir Teh' -- untuk bisa menikmati 'kesegaran' maknanya -- harus sampai tuntas, jangan hanya terpancing dengan judulnya semata. Itulah, kalau memang anda penggemar dangdut, sangat disarankan membaca tulisan ini sampai tuntas. Lha yang bukan penggemar dangdut gimana? Ya tetap harus baca sampai selesai, tanggung banget berhenti baca, apalagi sudah (baca) sampai satu alenea gini.

Oke, kita serius. Begini, disadari atau tidak, ternyata kalau diperhatikan dengan seksama, lirik lagu dangdut -- yang beredar luas di masyarakat saat ini -- sangatlah jauh dari kesan 'rangkaian kata' indah dan punya makna mendalam. Bahkan, maaf, kesannya pasaran dan asal-asalan. Mulai dari pilihan judul lagu yang 'mengundang' sampai lirik yang 'gak nyambung' sudah menjadi ciri khas (mayoritas) lagu dangdut saat ini. Saya bilang mayoritas lho ya, berarti tidak semua lagu dangdut. Kalau diprosentase 80% (asal-asalan) banding 20% (bagus).

Contoh konkritnya, hampir semua idiom yang sedang trend di masyarakat, pasti muncul lagu dangdutnya, seperti: capek deh, sakitnya tuh disini, cinta klepek-klepek, miscall cinta, disitu kadang saya merasa sedih, buka sitik jos, dan masih banyak lagi. Tak penting, apakah rangkaian satu kalimat ke kalimat berikutnya, pada lirik lagu itu, nyambung apa enggak. Nyatanya, tetap diterima baik para penggemar dangdut, dan tak jarang menjadi hits.

Saya tentu tak sekedar beropini. Untuk memperkuat tulisan, saya sengaja -- seminggu belakangan -- mendengarkan lagu-lagu dangdut minimal 1 jam sehari, di radio RDI (Radio Dangdut Indonesia) Jakarta, frekuensi 97,1 MHz. Ya sambil nulis untuk Rubrik 'Secangkir Teh' ini. Biasanya, sebelum atau sesudah sholat Subuh. Asik juga, apalagi jempol kaki sering tidak mau diajak kompromi, selalu ingin goyang, begitu dengar lagu dangdut.

Tak dapat dipungkiri, pilihan pada lirik sederhana, ternyata bisa menjadi sisi positif dari dangdut. Menurut saya, lirik apa adanya ini adalah 'kekuatan' dangdut itu sendiri, untuk mendekatkan pada penggemarnya. Terutama dangdut panggung, yang memerlukan gerakan (baca: goyang) konstan, baik dari penyanyi maupun penonton. Sehingga komunikasi yang paling efektif, adalah lirik lagu yang mudah dicerna dan dihafal tadi.

Lihat saja, lagu-lagu yang dinyanyikan Juwita Bahar, Ayu Tingting, Cita Citata, Jenita Janet, Saskia Gotik -- beberapa penyanyi dangdut generasi baru yang sedang ngetop saat ini -- hampir semua liriknya 'pasaran', tapi menjadi hits dan bisa dihafal siapa saja, sampai pelosok kampung. Tak ketinggalan, panggung organ tunggal pun menjadikan lagu-lagu tersebut sebagai sajian utama, dengan genre dangdut yang beragam: dangdut koplo, dangdut house, dangdut jaipong, dangdut tarling, sampai dangdut pantura yang heboh itu.

Namun, sebaliknya, tidak semua lagu dangdut berlirik ala kadarnya. Diluar Rhoma Irama dan Elvi Sukaesih -- yang melegenda dan selalu menjaga reputasi dangdut, termasuk 'kedalaman' liriknya -- masih ada penyanyi dangdut papan atas yang tetap menjaga (lirik) lagunya agar tidak terkesan 'murahan', seperti: Evie Tamala, Ikke Nurjanah, Cici Paramida, Nelly Agustin atau juga Errie Susan.

Khusus Errie Susan, saya sangat terkesan dengan lagu 'Bunda' yang sangat kuat pada liriknya. Musiknya juga berkelas, tertata rapi. Intro yang memainkan gitar akustik 'berkejaran' dengan biola, selingan piano dan saksofon yang tidak dipaksakan, juga suara gendang dan seruling khas dangdut yang tetap dominan, membuat dangdut benar-benar elegan dan tidak murahan.


Pastinya, apapun itu, seperti kata Project Pop 'dangdut is the music of my country', sebuah warisan (musik) yang harus tetap kita jaga keberadaannya. Yang tidak suka, jangan 'mengganggu', apalagi main hujat. Mumpung masih pagi, mending kita nikmati 'Goyang Dumang': ayo goyang dumang..., biar hati senang..., pikiran pun tenang..., galau jadi hilang....
Share:

Selasa, 08 September 2015

Kalau Punya Hak Jawab, Kenapa (Harus) Menghujat?


Yang namanya opini -- baik dalam bentuk artikel, kolom, atau tulisan ringan -- tetaplah sebuah pendapat (tertulis), yang bersifat subyektif. Ya, subyektifitas ide dan buah fikiran dari penulis, tentang tema yang ditulisnya. Karena mengandung unsur subyektif, tentu masih terbuka untuk diperdebatkan kebenarannya. Artinya, yang membaca opini, tak perlu gusar ataupun terpancing emosi, ketika apa yang dibacanya tidak sesuai dengan pandangan dan pendapatnya. Adalah sah-sah saja kalau memang punya pendapat yang berbeda dengan apa yang dibacanya.
Nah, demikian pula dengan tulisan di 'Secangkir Teh' ini. Karena semua yang saya tulis murni buah pikiran -- yang melintas dalam otak dan benak saya -- maka anda, para pembaca, tidak harus setuju dengan yang saya uraikan, meski (sudah) saya sisipkan data statistik dan angka-angka pendukung tulisan yang bikin pusing sekalipun. Ingat lho, saya tidak pernah 'memaksa' pembaca, untuk mengikuti 'pendapat' yang tertuang di opini-opini yang (sudah) saya tulis itu.
Share:

Senin, 07 September 2015

Drama Ironi Itu Berjudul 'Dana Desa'


Masih segar dalam ingatan, bagaimana -- setahun silam -- dua kandidat (calon) presiden saling 'koreksi' terkait dana desa, dalam debat calon presiden. Dengan argumen masing-masing, dua kandidat, Pak Prabowo dan Pak Jokowi, mengungkap jurus masing-masing untuk mengangkat citra desa, melalui dana bantuan pemerintah yang jumlahnya tidak sedikit itu.
Kini, setahun setelah presiden terpilih, 'janji' itu mulai direalisasikan. Berdasar Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, untuk tahun 2015 pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp 20,77 triliun, untuk disalurkan pada 74.094 desa di seluruh Indonesia. Memang, penyalurannya tidak sekaligus, tetapi dibagi 3 tahap, yaitu 40% bulan April, 40% bulan Agustus, dan 20% bulan Oktober.
Share:

Minggu, 06 September 2015

Pilih Mana, Andy Noya Atau Tukul Arwana?


Membicarakan acara televisi, pasti tidak ada habisnya. Apalagi kalau sudah mengarah pada pilihan favorit, ini yang -- paling sering -- bikin bersitegang, karena sudah mengarah pada selera, yang masing-masing individu punya pilihan sendiri. Unsur subyektifitas lebih berperan. Nah, saya justeru tergelitik untuk 'masuk' (dan membahas) di pusaran itu. Masuk pada subyektivitas sebuah pilihan favorit acara televisi, khususnya yang bernama talkshow.
Begini, saya lama-lama agak risih, kalau dalam diskusi kecil informal -- ngobrol santai -- entah dengan teman kerja atau di lingkungan tempat tinggal, yang membanding-bandingan sebuah acara talkshow di televisi. Biasanya, masing-masing 'mempertahankan' pilihan acara talkshow yang digemari, dengan segala argumennya. Kalau sudah begini, seperti biasa, saya lebih sering hanya menjadi pendengar setia, menonton sajian live talkshow dadakan.
Share:

Sabtu, 05 September 2015

Merindukan 'Keluarga Cemara' yang Sebenarnya


Kurang bijak rasanya, kalau saya hanya bisa mengkritik tayangan (baca: sinetron) yang kurang mendidik, utamanya yang diperuntukkan anak-anak, tanpa memberi 'penyeimbang' dengan mengulas sinetron yang bernilai edukatif. Apalagi, ada salah satu pembaca 'Secangkir Teh' yang secara terbuka balik mengkritik saya, "Daripada Mas Prie repot-repot membahas sinetron 'Si Madun' yang katanya kurang mengedukasi anak-anak, apa tidak sebaiknya menulis tentang sinetron anak yang sudah jelas punya nilai edukatif. Mas Prie punya contoh?"
Okay.., saya harus konsekuen. Berani mengkritik, harus memberi bukti. Cuma, pengetahuan saya tentang sinetron tidaklah banyak, karena memang bukan penggemar sinetron. Hanya sesekali, kalau lagi menemani anak-anak -- atau ada ulasan menarik di koran -- saya menyempatkan nonton sinetron. Dan apa boleh buat, saya terpaksa harus mengatakan, sinetron sekarang rata-rata 'payah' unsur edukasinya, karena lebih mengutamakan 'selera pasar' dan rating, juga demi mengeruk iklan.
Share:

Jumat, 04 September 2015

Lombok? Jauh Gak dari Bali?


Bukan karena saya pernah berkunjung ke Lombok -- bahkan pernah berdomisili untuk beberapa tahun -- kalau (lagi-lagi) menulis tentang pulau berjuluk 'Seribu Masjid' ini. Tetapi, lebih pada kepedulian terhadap aset wisata yang ada di negeri ini. Aset, karena Lombok menyimpan potensi wisata yang luar biasa, yang bisa dikembangkan dan dieksplorasi, untuk menjadi (salah satu) daerah tujuan wisata andal di Indonesia.
Terus terang, ada perasaan kecewa -- dan senyum kecut -- membaca promosi wisata Lombok, di harian terbesar Indonesia. Terlepas itu sebuah artikel iklan (advertorial), tetapi 'kesan' Lombok itu kecil sangat kelihatan, sehingga perlu membawa nama Bali sebagai pengatrolnya. Bukannya apa, kalau advertorial itu ditujukan wisatawan mancanegara, dan dimuat media luar negeri, mungkin bisa dimaklumi. Karena memang Bali sudah mendunia. Tapi ini kan koran lokal, yang ditujukan wisatawan domestik?
Share:

Kamis, 03 September 2015

Memaknai Pesan 'Abadi' Dari Sunan Drajat


Saya agak tercenung -- dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya: duduk diam tafakur karena memikirkan sesuatu dalam-dalam -- saat melihat-lihat rubrik 'Foto Pekan Ini' di harian Kompas, tentang Pondok Pesantren Sunan Drajat. Bukan terpesona sajian fioto-foto yang artistik, dengan kualitas jurnalistik yang prima itu. Tetapi, karena membaca sepenggal teks yang menuliskan 4 point ajaran Sunan Drajat, yang begitu dalam maknanya. Minimal menurut persepsi saya.
Apalagi, rasanya belum begitu lama saya mengunjungi makan Sunan Drajat, yang terletak di daerah Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Memang tidak khusus datang ke Lamongan untuk ziarah. Tetapi (hanya) kebetulan, saat saya sekeluarga -- sepekan di awal bulan Ramadhan tahun kemarin -- mudik ke Malang, melalui jalan darat. Di perjalanan, kami sengaja 'mampir' sejenak di masjid dan makam-makam para penyebar agama Islam, yang ada di sepanjang pantai utara pulau Jawa. Mudik, sekaligus wisata religi.
Share:

Rabu, 02 September 2015

Lho, Kok Gak Muncul. Teh-Nya Habis Ya?


Gara-gara sampai jam 5 sore -- saat saya menulis ini -- 'Secangkir Teh' belum muncul juga di fanpage MasPrie dan facebook SugengPribadi, saya mendapat pertanyaan bernada 'protes' dari beberapa pembaca setia. Setidaknya ada 8, yang sempat saya baca: di whatsapp ada 3, sms ada 2, dan 3 lagi via BBM. Saya belum cek yang ada di inbox.
Hampir semua mempertanyakan alasan tidak munculnya rubrik ini. Cukup beragam, mulai dari pertanyaan standar 'Mas Prie lagi sakit?' atau 'Kehabisan ide ya, Mas?' juga 'Apa stok tehnya lagi kosong?' sampai yang (setengah) menuduh 'Pasti paket internet Mas Prie lagi habis..!' Alhamdulillah, semua sudah saya jawab -- secara tertutup -- dan tidak perlu diekspos disini. Pokoknya, karena 'satu dan lain hal' rubrik ini mengalami keterlambatan hari ini.
Share:

Selasa, 01 September 2015

Organisasi Itu Seperti Pacar, Selalu Bikin Kangen


Agar tidak bias, di awal tulisan perlu dijelaskan, bahwa organisasi yang saya maksud -- dan akan dibahas -- adalah spesifik organisasi kegiatan ekstrakurikuler, yang ada di sekolah ataupun kampus. Sebuah organisasi yang tentunya sudah familiar bagi (mayoritas) pembaca, terlepas apa bentuk kegiatannya.
Terus terang, tulisan ini terinspirasi artikel yang ditulis tim trainer 'Experd' di Kompas Karir, beberapa hari berselang. Dan sekaligus untuk menjawab 'kegelisahan' sebagian pembaca 'Secangkir Teh', teman-teman sesama (mantan) anggota organisasi, yang dulu pernah berkegiatan di sekolah ataupun kampus dengan saya.
Share:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com