INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Senin, 07 September 2015

Drama Ironi Itu Berjudul 'Dana Desa'


Masih segar dalam ingatan, bagaimana -- setahun silam -- dua kandidat (calon) presiden saling 'koreksi' terkait dana desa, dalam debat calon presiden. Dengan argumen masing-masing, dua kandidat, Pak Prabowo dan Pak Jokowi, mengungkap jurus masing-masing untuk mengangkat citra desa, melalui dana bantuan pemerintah yang jumlahnya tidak sedikit itu.
Kini, setahun setelah presiden terpilih, 'janji' itu mulai direalisasikan. Berdasar Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, untuk tahun 2015 pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp 20,77 triliun, untuk disalurkan pada 74.094 desa di seluruh Indonesia. Memang, penyalurannya tidak sekaligus, tetapi dibagi 3 tahap, yaitu 40% bulan April, 40% bulan Agustus, dan 20% bulan Oktober.
Entah bagaimana mulanya, ketidak sinkronan -- dalam koordinasi? -- mulai muncul di 'lapangan', dengan tidak mulusnya dana yang sudah ditransfer ini, tidak bisa langsung diserap desa seperti yang direncanakan. Memang benar, Kementerian Keuangan sudah menjalankan tugas sesuai jadwal, tetapi sebagian besar dana yang 'dikirim' masih mengendap di rekening pemerintah daerah kota/kabupaten. Belum bisa disalurkan ke desa-desa penerima. Alasannya seragam: desa belum menyerahkan 'rencana anggaran belanja desa', sebagai persyaratan pencairan.
Lihat saja, dari data yang dikeluarkan Kementerian Keuangan, per 31 Agustus 2015 jumlah dana sudah 79,5 persen (dari Rp 20,77 triliun tadi) yang sudah didistribusikan ke 33 propinsi, tepat sesuai rencana. Namun rerata yang 'berhasil' disalurkan ke desa tak lebih dari 20%. Penyaluran tertinggi propinsi Bali yang mencapai 39,2% dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 31%. Propinsi lain pada kisaran 10% sampai 20%. Bahkan, yang bikin miris, ada 3 propinsi yang penyalurannya 0%, yaitu Kalimantan Timur, Sumatera Selatan dan Maluku.
Lucunya -- kalau boleh disebut begitu -- tidak ada yang 'merasa' bersalah dalam masalah ini. Menteri Dalam Negeri, yang bertanggung jawab dalam program dana desa ini, merasa geram dan menganggap bahwa ini karena terlalu berbelitnya birokrasi di tingkat kabupaten/kota, sehingga desa tidak bisa cepat mengambil 'jatah'nya. Pemerintah kabupaten/kota berkilah bahwa desa belum menyerahkan proposal penggunaan anggaran, sehingga tidak mungkin menyalurkan dana, kalau persyaratan belum terpenuhi. Desa sendiri beralasan bahwa sulit membuat proposal tanpa ada pendampingan dari pemerintah, bisa-bisa (kalau salah membuat) bisa tersangkut kasus hukum.
Seperti benang kusut, saling lempar tanggung jawab. Padahal, kalau mau dirunut, alurnya sudah jelas: Kementerian Keuangan sudah 'mengirim' dana ke pemerintah kabupaten kota, Kementerian Dalam Negeri sudah memberi instruksi dan arahan agar dana disalurkan ke desa selambatnya 7 hari setelah diterima pemerintah kabupaten/kota. Pun pemerintah kabupaten/kota juga sudah minta proposal anggaran ke desa sebagai syarat pencairan.
Nah pemerintah desa kesulitan membuat proposal itu karena belum ada panduan dan pendampingan. Bisa dimaklumi, kemampuan aparatur desa -- terutama desa-desa yang ada di pelosok dan pulau-pulau kecil -- sangatlah minim. Inilah sebenarnya letak masalahnya.
Artinya, harus ada kesadaran dari pemerintah -- dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi -- untuk segera mengambil langkah konkrit, menurunkan pendamping ke desa-desa, baik pendamping untuk meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah desa, maupun pendamping untuk pemberdayaan masyarakatnya. Juga, diperlukan kerjasama terpadu, untuk mengawasi kelancaran dan realisasi tranfer sampai ke desa penerima.
Bukannya apa, alangkah sayangnya dana yang begitu besar -- yang harusnya bisa menstimulus desa untuk meningkatkan pembangunan sektor riil -- ternyata (saat ini) hanya 'parkir' di rekening pemerintah kabupaten/kota. Janganlah rakyat terus-menerus disuguhi sajian 'drama ironi' dari kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya tepat sasaran ini. Sungguh bikin prihatin!

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com