INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Selasa, 08 September 2015

Kalau Punya Hak Jawab, Kenapa (Harus) Menghujat?


Yang namanya opini -- baik dalam bentuk artikel, kolom, atau tulisan ringan -- tetaplah sebuah pendapat (tertulis), yang bersifat subyektif. Ya, subyektifitas ide dan buah fikiran dari penulis, tentang tema yang ditulisnya. Karena mengandung unsur subyektif, tentu masih terbuka untuk diperdebatkan kebenarannya. Artinya, yang membaca opini, tak perlu gusar ataupun terpancing emosi, ketika apa yang dibacanya tidak sesuai dengan pandangan dan pendapatnya. Adalah sah-sah saja kalau memang punya pendapat yang berbeda dengan apa yang dibacanya.
Nah, demikian pula dengan tulisan di 'Secangkir Teh' ini. Karena semua yang saya tulis murni buah pikiran -- yang melintas dalam otak dan benak saya -- maka anda, para pembaca, tidak harus setuju dengan yang saya uraikan, meski (sudah) saya sisipkan data statistik dan angka-angka pendukung tulisan yang bikin pusing sekalipun. Ingat lho, saya tidak pernah 'memaksa' pembaca, untuk mengikuti 'pendapat' yang tertuang di opini-opini yang (sudah) saya tulis itu.
Oh hiya, kenapa saya menulis begini? Ada beberapa alasan, sebenarnya. Tapi, yang paling utama, tentu saja melihat perkembangan rubrik ini yang semakin 'tersebar luas' kemana-mana. Seperti yang pernah saya ulas -- di tulisan berjudul: 'Resiko Menulis di Ruang Publik' -- saya tidak bisa melarang pembaca untuk nge-share tulisan di 'Secangkir Teh', karena memang ini ruang publik, media sosial yang bisa diakses siapa saja. Sehingga, saya pun tidak lagi bisa mengkontrol pembaca maupun komentar yang muncul di setiap opini.
Contoh konkritnya, ada sebuah tulisan di 'Secangkir Teh' yang di share puluhan kali, sampai mencapai pageview -- jumlah sebuah halaman dibuka/dilihat/dibaca -- sampai 14.700 lebih. Luar biasa! Tetapi, begitu banyaknya yang buka (dan baca), komentarnyapun beragam, dan kadang kelewat batas. Menjurus (saling) menghujat, bukan lagi sekedar kritik atau ungkapan ketidaksamaan pandangan. Inilah yang saya khawatirkan selama ini.
Secara pribadi, tentu saja, saya tidak anti kritik. Bahkan kritik itu, bagi saya adalah 'obat' untuk menjadi lebih kuat dalam menyampaikan ide dan buah fikir, dalam tulisan selanjutnya. Yang saya tidak setuju, adalah pendapat yang diungkapkan dalam bentuk 'hujatan', yang menurut saya itu adalah bentuk ketidakmampuan untuk melakukan counter terhadap pendapat yang tidak dia setujui. Memang, dalam kasus ini, bukan saya yang dihujat. Tetapi pembaca -- kebetulan menulis komentar di tulisan saya -- yang dihujat pembaca lain. Sesama pembaca, saling menghujat.
Kejadian semacam inilah yang harus saya cegah, diantisipasi sejak awal. Karena tujuan tulisan di 'Secangkir Teh' bukanlah untuk dijadikan ajang saling hujat. Kalau tidak sependapat dengan saya, langsung saja tulis komentar, sampaikan uneg-uneg kenapa tidak sependapat. Demikian juga, jika anda kurang sreg dengan komentar pembaca yang sudah menuliskan komentar lebih dulu, silahkan ungkapkan ketidaksetujuan anda, beri argumen kenapa tidak setuju. Sehingga menjadi sebuah diskusi yang menarik dan dinamis. Asyik kan?
Tulisan 'Secangkir Teh' sebenarnya tak ada bedanya dengan (tulisan) yang ada di surat kabar atau majalah. Di media -- cetak maupun online -- pembaca mempunyai 'hak jawab' jika merasa terganggu atau dirugikan oleh tulisan yang dimuat, sehingga mendapat hak jawab untuk 'meluruskan' tulisan tersebut. Nah, di 'Secangkir Teh' juga demikian. Jika anda tidak sependapat, silahkan tulis komentar. Tidak perlu takut, khawatir, sungkan atau ragu-ragu, untuk melakukan counter. Lha itu memang sudah hak anda koq!
Cuma, kalau bisa, ya yang sopan. Tidak perlu pakai bahasa kasar dan menghujat segala. Pokoknya, jangan dipendam dalam hati, apalagi sampai sakit hati sama saya gara-gara tulisan di 'Secangkir Teh'. Kalau tetap bandel -- membuat komentar hujatan -- dengan tegas akan saya 'hapus' komentarnya, seperti yang sudah saya lakukan. Ini (bagian) hak saya untuk melindungi tulisan dan pembaca 'Secangkir Teh'. Bukan begitu, pembaca?

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com