INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Kamis, 03 September 2015

Memaknai Pesan 'Abadi' Dari Sunan Drajat


Saya agak tercenung -- dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya: duduk diam tafakur karena memikirkan sesuatu dalam-dalam -- saat melihat-lihat rubrik 'Foto Pekan Ini' di harian Kompas, tentang Pondok Pesantren Sunan Drajat. Bukan terpesona sajian fioto-foto yang artistik, dengan kualitas jurnalistik yang prima itu. Tetapi, karena membaca sepenggal teks yang menuliskan 4 point ajaran Sunan Drajat, yang begitu dalam maknanya. Minimal menurut persepsi saya.
Apalagi, rasanya belum begitu lama saya mengunjungi makan Sunan Drajat, yang terletak di daerah Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Memang tidak khusus datang ke Lamongan untuk ziarah. Tetapi (hanya) kebetulan, saat saya sekeluarga -- sepekan di awal bulan Ramadhan tahun kemarin -- mudik ke Malang, melalui jalan darat. Di perjalanan, kami sengaja 'mampir' sejenak di masjid dan makam-makam para penyebar agama Islam, yang ada di sepanjang pantai utara pulau Jawa. Mudik, sekaligus wisata religi.
Salah satunya, makam Sunan Drajat yang berada di area perbukitan dan dikelilingi pepohonan yang luas. Sekedar info tambahan, selain tersedia fasilitas umum -- masjid, rumah makan, tempat istirahat, toilet dan parkir -- di area makam juga ada Museum Sunan Drajat, yang bisa diakses secara gratis. Tentu ini sebuah bentuk kemudahan untuk mengenal sejarah budaya, terutama bagi dunia pendidikan.
Oh hiya, agar tidak salah persepsi, dengan menulis ini bukan berarti saya mulai masuk ke ranah agama -- tema yang saya hindari dalam menulis di 'Secangkir Teh' -- tetapi semata-mata lebih pada bentuk kontemplasi diri, terhadap sebuah ajaran yang bersifat universal, yang tidak terbatas hanya diperuntukkan satu kelompok atau golongan tertentu saja. Ajaran (ke arah) kebajikan, yang memang harus dijalankan seluruh manusia di muka bumi ini.
Sekarang, mari kita simak, ajaran Sunan Drajat tadi -- yang masih dipegang teguh dan menjadi bagian dari yang diajarkan pada lebih 7.000 santri Pesantren Sunan Drajat di Paciran, Lamongan (Jawa Timur) -- yang sengaja saya sertakan kutipan dalam bahasa Jawa (bahasa aslinya), sebagai berikut:
- Menehono teken wong kang wuto (memberi tongkat pada orang buta) ;
- Menehono mangan wong kang luwe (memberi makan orang yang lapar) ;
- Menehono busono marang wong kang wudo (memberi busana orang yang telanjang) ;
- Menehono ngeyub marang wong kang kodanan (memberi tempat berteduh orang yang kehujanan).
Memang, (kelihatan) sangat sederhana, ajaran dan pesan Raden Qosim -- nama lain Sunan Drajat -- yang disampaikan pada santrinya, ratusan tahun silam ini. Tetapi sesungguhnya, mengandung makna pesan moral yang luar biasa didalamnya. Kalau mau diurai, bukan sekedar dimaknai secara harfiah, maka satu persatu bisa diartikan begini: 1. Berilah ilmu, agar orang menjadi pandai; 2. Sejahterakanlah orang miskin; 3. Ajarilah kesusilaan orang yang tidak punya rasa malu; 4. Berilah perlindungan orang-orang yang menderita.
'Pesan' ini (makin) terasa penting dan diperlukan, ketika direfleksikan dengan kondisi kehidupan jaman sekarang. Dalam pemikiran saya, ditengah carut-marutnya kondisi masyarakat -- dengan kompleksitas permasalahan yang ada -- rasanya ajaran ini bisa dijadikan acuan dan panduan untuk 'meluruskan' jalan hidup yang (kadang) tidak memiliki arah dan misi yang jelas.
Entah itu ditujukan untuk para pemimpin, yang memang punya kewajiban melindungi, mengayomi dan mensejahterakan rakyatnya. Atau, untuk individu-individu yang masih memerlukan 'pegangan' ajaran kehidupan, untuk bisa saling memberi dan berbagi dengan sesama.
Karena, pesan dari Sunan Drajat ini, adalah sebuah ajaran yang -- jika mau diterjemahkan dalam arti luas -- bersifat universal. Dan kalaupun harus ditarik benang merahnya, akan mengerucut pada satu 'ajaran' penting untuk kita semua, yaitu: "berbuatlah kebaikan pada sesama". Sebuah pesan abadi, dan tidak akan pernah tergerus zaman. Begitulah yang saya maknai.

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com