INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Sabtu, 05 September 2015

Merindukan 'Keluarga Cemara' yang Sebenarnya


Kurang bijak rasanya, kalau saya hanya bisa mengkritik tayangan (baca: sinetron) yang kurang mendidik, utamanya yang diperuntukkan anak-anak, tanpa memberi 'penyeimbang' dengan mengulas sinetron yang bernilai edukatif. Apalagi, ada salah satu pembaca 'Secangkir Teh' yang secara terbuka balik mengkritik saya, "Daripada Mas Prie repot-repot membahas sinetron 'Si Madun' yang katanya kurang mengedukasi anak-anak, apa tidak sebaiknya menulis tentang sinetron anak yang sudah jelas punya nilai edukatif. Mas Prie punya contoh?"
Okay.., saya harus konsekuen. Berani mengkritik, harus memberi bukti. Cuma, pengetahuan saya tentang sinetron tidaklah banyak, karena memang bukan penggemar sinetron. Hanya sesekali, kalau lagi menemani anak-anak -- atau ada ulasan menarik di koran -- saya menyempatkan nonton sinetron. Dan apa boleh buat, saya terpaksa harus mengatakan, sinetron sekarang rata-rata 'payah' unsur edukasinya, karena lebih mengutamakan 'selera pasar' dan rating, juga demi mengeruk iklan.
Justeru, kalaupun tetap harus memilih sinetron anak-anak 'terpuji' -- memakai ukuran unsur edukasi dan nilai kemanusiaan yang menonjol -- saya tidak ragu memilih 'Keluarga Cemara' adalah yang terbaik. Sinetron seri yang ditayangan tahun 1996-2002 di stasiun televisi RCTI, dilanjutkan tahun 2004-2005 di Trans7, bisa menjadi contoh bagaimana sebuah sinetron anak-anak harusnya disajikan.
Tidak seperti model sinetron saat ini, yang alur ceritanya cenderung terabaikan dan dipaksakan -- mengikuti selera pasar, apalagi kalau episodenya panjang -- dalam 'Keluarga Cemara' alur cerita justeru terjaga, mengalir dengan lancar. Konflik yang muncul begitu alami, tidak ada kesan dipaksakan atau sebatas tempelan belaka. Bisa jadi karena Arswendo Atmowiloto, penulis buku 'Keluarga Cemara', ikut terlibat langsung dalam proses produksi, sehingga dari sisi idealisme (kedalaman) isi cerita, bisa tetap dipertahankan.
'Keluarga Cemara' berkisah tentang sebuah keluarga yang hidup dalam kesederhanaan, demi mempertahan prinsip hidup kejujuran. Adalah Abah, seorang pimpinan sebuah perusahaan -- karena memegang prinsip kejujuran dalam bekerja -- lebih memilih mundur dan 'mengasingkan' diri (bersama keluarganya) ke sebuah kampung yang jauh dari hiruk pikuk kota. Disinilah 'petualangan' hidup Abah dan Emak, dengan 3 putrinya: Euis, Cemara (Ara) dan Agil, dimulai. Dari kehidupan serba berkecukupan, drastis menjadi serba adanya. Abah menjadi penarik becak, Emak membuat kue, Euis dan adik-adiknya berjualan kue keliling.
Hebatnya, tidak ada eksploitasi kemiskinan. Tidak juga mengumbar kesedihan. Kondisi 'gegar budaya' yang dialami keluarga Abah (diperankan aktor kawakan, Adi Kurdi), Emak (Lia Warokka), Euis (Ceria HD), Cemara (Anisa Fujianti), dan Agil (Pudji Lestari), berjalan apa adanya, seperti layaknya keluarga yang terkena 'musibah' pada umumnya. Konflik demi konflik dijalani Abah dengan sabar dan bijaksana, juga Emak yang tetap mendukung (kebijakan) Abah, meski sangat manusiawi -- dan ini juga sebagai kekuatan -- kadang Emak nampak lelah dengan kehidupan yang berat, meski tetap memberikan didikan dan pemahaman dengan lembut pada anak-anaknya.
Apakah sinetron ini (masih) relevan dengan kehidupan zaman sekarang? Jawabannya: tentu saja! Karena, makin berkembangnya zaman semakin muncul 'kekuatan' dari sinetron ini. Meski sangat langka, orang (baca: keluarga) yang tetap mempertahankan nilai keluhuran dalam hidup dan bermasyarakat, tetaplah ada dan diperlukan. Bahkan, bisa menjadi teladan, ditengah makin suburnya pola hidup hedonisme dan serba instan pada masyarakat kita.
Entahlah, kenapa sampai sekarang belum muncul (lagi) sinetron anak -- lebih tepatnya sinetron keluarga -- yang setara 'Keluarga Cemara'. Bagi saya, ini bukan sekedar kerinduan pada tayangan yang edukatif dan bermutu, tetapi lebih pada kerinduan munculnya (banyak) 'Keluarga Cemara' yang nyata di negeri ini. Minimal, karena terinspirasi oleh tayangan 'Keluarga Cemara', mungkinkah?

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com