INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 04 Juni 2017

Jalan Panjang Nilam

Agak geli juga ketika kolega jurnalis -- seorang wartawan senior -- menulis di status facebook, tentang remaja yang menikah di usia 14 tahun dan usia 17 tahun sudah menyandang predikat janda dengan satu orang anak. Aku pikir ini status untuk lucu-lucuan semata, makanya aku tersenyum lebar saat bacanya. Tetapi aku jadi terkejut, ketika tahu itu adalah nyata dan terjadi di sekitaran ibukota negara, Jakarta.


Rasa penasaran dan prihatin -- karena masih ada kejadian seperti ini -- membuat aku berusaha untuk mendapatan informasi detailnya. Atas bantuan rekan wartawan itu pula, aku bisa berkenalan dengan remaja -- sebut saja namanya Nilam -- yang mengalami nasib kurang beruntung tersebut. Untungnya, Nilam sangat koperatif. "Tidak apa-apa Pak. Saya mau bercerita semuanya," begitu tulis Nilam di WA, ketika aku meminta izin untuk menulis kisah hidupnya.

Sekilas, Nilam berpenampilan tak ada bedanya dengan remaja seusianya. Dari puluhan foto yang diunggah di akun FB-nya, remaja berwajah manis -- yang genap berusia 17 tahun di bulan April kemarin -- terlihat lincah, ceria dan trendy. Tapi, kalau dilihat dengan seksama, dari raut wajahnya nampak ada beban yang sangat berat, yang tak seharusnya ditanggung remaja seusianya.

Nilam dilahirkan di sebuh desa di Kabupaten Pekalongan (Jawa Tengah), dari keluarga yang kurang mampu. Sehingga, seperti perempuan di kampungnya pada umumnya, begitu lulus SD Nilam memutuskan merantau ke ibukota untuk mencari pekerjaan. Alasannya sungguh sederhana, "Saya ingin membantu meringankan beban orangtua." Itulah alasan Nilam, untuk nekad berangkat ke Jakarta di usia yang sangat belia. Dan seperti dapat diduga, Nilam diterima sebagai pembantu rumah tangga di daerah Tangerang.

Bisa jadi karena masih remaja -- dan belum memahami ganasnya kehidupan di kota besar -- tak berselang lama Nilam terpikat pada seorang duda tanpa anak, yang usianya sekitar 35 tahun dan mengontrak di sekitar rumah majikannya. Nilam tak menyadari tipu daya yang mengancamnya. Bagi Nilam, "Dia itu cinta pertama saya. Saya menyukainya karena perhatian pada saya."

Lagi-lagi bisa diduga, setelah enam bulan menjalani hubungan terlarang dengan lelaki perantauan itu, Nilam merasakan ada hal berbeda pada tubuhnya. "Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya bingung, kalut dan takut ketika saya diantar lelaki itu ke bidan dan saya dinyatakan hamil," dengan polosnya Nilam menceritakan akibat pergaulan bebasnya dengan lelaki yang dicintai itu. "Saat lebaran, saya tidak berani pulang kampung. Saya takut dimarahi orang tua, hamil tapi tidak punya suami," lanjut Nilam lagi.

Jalan berliku harus dilalui Nilam. Lelaki pujaannya enggan menikahinya. Nilam diajak ke Sumatera -- kampung halaman lelaki itu -- tapi hanya untuk berbohong kalau mereka sudah nikah siri. Nilam berontak, ingin dinikahi secara resmi. Upaya Nilam akhirnya terkabul, dan nikah itupun dilakukan di kampung halaman Nilam, di Pekalongan.

Kebahagiaan Nilam tidak berlangsung lama. Tepat usia 40 hari bayi laki-laki yang dilahirkan menghirup udara segar, suaminya terpikat perempuan lain dan meninggalkan Nilam begitu saja. Berbagai upaya dilakukan Nilam untuk meminta pertanggung jawaban -- nafkah untuk diri dan anaknya -- tapi sia-sia. Jalan akhir yang ditempuh Nilam adalah meminta cerai. Itupun Nilam harus mengurus sendiri, untuk mendapatkan surat cerai resmi. "Saya yang mengurus semuanya, sendirian. Termasuk semua biaya yang dikeluarkan," cerita Nilam, yang merasa sedih bercampur marah.

Menyandang predikat janda di usia belia, punya beban menghidupi anak semata wayangnya, membuat Nilam bertekad bekerja lebih keras lagi. "Saya memutuskan kembali menjadi pembantu di Tangerang. Anak saya diasuh ibu di kampung. Saya ingin menunjukkan pada mantan suami bahwa saya mampu mengasuh dan membiayai anak saya, sendirian," ungkap Nilam, yang tidak ingin menjalin hubungan serius dengan laki-laki, setidaknya sampai usianya matang untuk membina rumah tangga lagi.

Nyatanya, ketenangan Nilam dalam bekerja tidak berlangsung lama. Mantan suaminya -- yang sudah menikah lagi -- sering meneror, untuk meminta anaknya. Alasannya, seperti diungkapkan Nilam, "Daripada memberi nafkah bulanan pada anak saya, dia lebih memilih mau mengasuh sendiri anak yang ada pada saya. Bahkan dia mengancam akan mengambil dan merebut dari ibu saya yang ada di kampung." Hal ini membuat Nilam goyah dan tidak konsentrasi dalam bekerja.

Satu-satunya yang membuat Nilam agak tenang, adalah putusan pengadilan agama yang menyatakan hak asuh anak pada dirinya. Memanfaatkan media sosial -- yang diakses di sela waktu bekerjanya -- Nilam banyak mendapat masukan positif dari orang-orang yang dapat dipercayanya. Termasuk upaya hukum jika ada paksaan mengambil anak oleh mantan suaminya.

"Sangat berat beban yang harus saya tanggung, apalagi usia saya masih muda. Tapi saya tidak akan menyerah, apapun yang akan terjadi, saya harus hadapi," begitu WA terakhir yang aku terima dari Nilam.

***

Sungguh miris. Layaknya sebuah cerita sinetron, Nilam menjalani cobaan demi cobaan yang tiada henti. Satu hal positif yang patut diapresiasi, adalah tekad Nilam untuk menjalani hidup dengan lurus. "Tidak! Saya tak punya pikiran sedikitpun untuk mengambil jalan pintas, misalnya dengan menjerumuskan ke dunia hitam. Saya punya Tuhan, dan saya tidak ingin mengecewakan orang tua untuk keduakalinya." Itu jawaban tegas Nilam, ketika suatu saat aku singgung tentang banyaknya remaja terjerumus hal-hal negatif.

Ya, Nilam adalah satu dari puluhan -- atau ratusan, bahkan ribuan -- perempuan di negeri ini yang kurang beruntung nasibnya karena faktor ekonomi dan pendidikan, yang harus mengalami hal 'menyakitkan' di usia remaja. Di usia belia juga, Nilam harus menanggung beban menghidupi anak dan keluarganya di kampung.

Jalan memang masih panjang -- dan terjal -- yang harus dilalui Nilam, untuk mencapai tujuannya. Yang salah satunya, "Kelak anak saya harus jadi orang sukses dan berhasil," harapnya. Sebuah keinginan yang tentunya juga menjadi harapan orang tua manapun, di muka bumi ini.
Semoga berhasil, Nilam!


Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com