INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 11 Juni 2017

Jangan Panggil Aku Wanto


Setiap pulang mudik ke Malang, satu kebiasaan yang selalu aku lakukan -- sebagai bentuk kerinduan pada kampung halaman -- adalah menikmati kuliner lokal. Tak terkecuali sore itu, ditemani keponakan yang baru lulus SMA, aku memutuskan untuk makan bakso yang ada di depan pasar Pakis. Entahlah, walau sudah lebih 25 tahun meninggalkan tanah kelahiran, tapi bakso Malang masih menjadi makanan favorit yang selalu bikin kangen.


Di warung tenda bakso, aku sengaja memilih kursi yang menghadap jalan raya, supaya bisa leluasa menikmati Pakis -- sebuah kecamatan di timur kota Malang -- di sore hari, yang menurutku sudah banyak mengalami perubahan, dibanding saat aku meninggalkannya beberapa puluh tahun silam. Terutama lalu lintas di jalan raya yang cukup ramai dilalui kendaraan roda dua dan empat, seperti layaknya daerah pinggiran kota di wilayah Depok, Tangerang atau Bekasi, yang jadi penyangga ibukota negara, Jakarta.

Disaat aku menikmati bakso yang lezatnya luar biasa -- terutama kuah yang terasa gurih kaldu dan aromanya -- masuk sepasang laki-laki dan perempuan, mungkin suami istri, yang aku perkirakan usia 35-40 tahun. Yang laki-laki berperawakan gagah berambut cepak, sedang yang perempuan berpenampilan modis, serasi dengan kulit putih dan rambut berombak yang digerai sepundak.

Nampaknya pasangan itu beli bakso tidak makan di tempat, karena 15 menit kemudian sudah keluar tenda sambil membawa tentengan tas kresek hitam -- berisi bakso yang barusan dibeli -- menuju mobil sedan putih, yang diparkir di seberang jalan, persis berhadapan dengan warung tenda bakso.
Tiba-tiba Evan, keponakanku yang duduk di sebelah kananku, mencolek lenganku sambil berkata, "Emang Om gak kenal sama tante barusan itu? Itu kan teman sekolah Om jaman SD dulu."

Aku kaget dan hanya tertawa kecil. "Ngaco ah, teman SD Om gak ada yang putih kayak gitu, hehehe..."

Sambil ikut tertawa, Evan -- yang tanpa aku minta -- menjelaskan bahwa perempuan itu adalah Wanto, teman SD yang memang sudah lemah gemulai saat sekolah dulu. "Kata Mama dulu pernah sekelas sama Om. Soalnya Mama juga sering potong rambut ke salon Tante Lusi itu. Emang dulu nggak seperti itu ya, Om?" Evan mengakhiri ucapannya dengan sebuah pertanyaan.

Aku belum sempat menjawab pertanyaan Evan, karena tiba-tiba bayanganku menuju masa-masa sekolah SD di akhir tahun 70-an. Saat di kelas 4, suatu pagi guru kelas memperkenalkan murid baru, namanya Siswanto, dipanggil Wanto. Badannya tegap, kulitnya putih dan selalu senyum, cukup tampan untuk ukuran anak di sekolahanku. Tapi begitu bicara untuk memperkenalkan diri, suaranya lembut dan mirip perempuan. Kami sekelas sempat tertawa, tetapi Bu Guru mengingatkan kami tidak boleh meledek sesama teman, apalagi teman baru.

Ternyata rumah Wanto tidak jauh dari rumahku, hanya berjarak sekitar 50 meter saja. Ia tinggal bersama Ibu dan adik perempuan yang masih duduk di bangku TK, bernama Nia. Ibunya menikah lagi dengan seorang duda -- tetanggaku -- sehingga pindah dan tinggal di desaku. Sebelumnya mereka tinggal di kecamatan lain. Karena tetanggaan itu pula, Wanto sering ikut bermain bersama teman-teman seusia yang berada di sekitar rumahku. Anehnya, Wanto lebih senang permainan yang biasa dimainkan anak perempuan, seperti masak-masakan, lompat tali, bola bekel atau dakon (congklak).

Pun demikian di sekolah, Wanto lebih sering bermain dengan teman-teman perempuan. Tak pernah mau diajak bermain sepakbola, kasti, ataupun gobak sodor. Aku dan teman-teman laki-laki lainnya sampai heran dengan sikapnya. Karena tingkah laku dan perangainya yang mirip perempuan itu pula, Wanto sering diolok-olok dan kami panggil 'Wandu' ( = banci, waria ; bahasa daerah Malang). Anehnya, Wanto tidak pernah marah. Bahkan, ketika teman-teman perempuan sering memanggilnya dengan nama 'Wanti', dia malah nampak senang.

Keanehan Wanto makin menjadi ketika menjelang lulusan SD -- di akhir kelas 6 -- karena hampir setiap hari, saat ke sekolah selalu memakai bedak dan lipstik, bahkan kadang-kadang pinsil alis, layaknya perempuan dewasa. Untuk ukuran sekolah di desa, tentu saja sangat janggal dan aneh. Wali kelas pun sering menegur agar Wanto berlaku wajar layaknya anak laki-laki lainnya.

Yang memprihatinkan, perangai Wanto yang seperti perempuan itu 'menular' pada dua orang teman sepermainanku, Farhan dan Hamid, yang masih satu sekolah tapi beda kelas. Farhan dan Hamid awalnya tumbuh sebagai anak laki-laki tulen, yang suka main layangan, perang-perangan dan cari jangkrik di tegalan (ladang) seusai pulang sekolah. Tetapi, entah karena pengaruh Wanto yang sangat kuat -- sejak kelas 5 SD sudah menjadi 'tiga serangkai' -- kedua temanku itu lambat laun jadi berubah, meski tidak setotal Wanto. Sering main masak-masakan dan juga nge-dance bareng, menirukan penari latar penyanyi yang mereka tonton di televisi.

Lulus SD, Wanto kembali ke daerah asalnya, ikut neneknya. Demikian juga dengan Nia, adiknya. Dan sejak itu aku sudah tidak pernah ketemu, apalagi mendengar kabarnya. Memang, saat SMA aku pernah melihatnya di rumah ibunya, dengan penampilan rambut panjang sebahu dan -- tentu saja -- memakai pakaian modis seperti layaknya cewek ABG saat itu. Tapi itu hanya sekilas, dan melihatnya pun juga dari jauh. Justeru yang masih sering ketemu adalah Farhan dan Hamid, yang setelah pisah dari Wanto sedikit demi sedikit kembali berperangai normal, seperti remaja laki-laki lainnya.

***

Karena penasaran, pulang dari jajan bakso di pasar Pakis, aku minta adikku -- yang suka ke salon Wanto, dan ternyata sudah berganti nama menjadi Lusi -- untuk bercerita. "Ya nggak berubah Mas, masih sama seperti dulu. Bahkan sekarang sudah lebih dari perempuan beneran. Punya pacar dan suami-suamian, juga punya salon yang buka cabang di Pakis sini, yang di rumah ibunya itu tuh," begitu adik perempuanku mulai ceritanya. Dan dari adikku pula, aku mendapat penjelasan kenapa Wanto bisa menjadi seperti itu.

"Katanya sih ibunya dulu pengen banget punya anak perempuan. Begitu terobsesinya sampai-sampai saat Wanto lahir yang jelas laki-laki, tetap saja diperlakukan ibunya seperti anak perempuan. Pakaian, mainan sampai cara ngomongnya diajarin kayak anak perempuan. Bahkan ketika lima tahun kemudian lahir adiknya yang bernama Nia itu, Wanto sudah terbiasa dan terlanjur diperlakukan sebagai perempuan di rumahnya. Wanto sendiri yang sering cerita gitu sama pelanggan salonnya," papar adikku.

Dan nyatanya, sejak lulus SMP Wanto sudah mengganti namanya dengan Lusi, dan bekerja di salon yang ada di desanya. Bersamaan dengan perubahan secara fisik, lima tahun kemudian 'Lusi' sudah membuka salon sendiri, dan hidup sebagai 'suami istri' dengan seorang pegawai instansi pemerintah, yang terpikat dengan kecantikan dan kemolekan Lusi. "Cuma bertahan tiga tahun, habis itu pisah karena pegawai itu pindah tugas ke Lumajang. Setelah itu gonta-ganti pacar, dan yang sekarang ini katanya orang angkatan (tentara)," adikku mengakhiri ceritanya.

Aku tercenung, seusai mendengan cerita tentang Wanto. Tanpa bermaksud menghakimi, bahwa Wanto sudah memilih jalan hidupnya, itu adalah hak individunya. Tetapi, bahwa Wanto adalah korban ke-ego-an orangtuanya, itu tidak bisa dipungkiri dan bisa jadi benar adanya. Karena banci, atau apapun sebutannya, tentu bukan karena takdir saat dilahirkan, tetapi lebih karena ada 'sesuatu' penyebab di awalnya.


Setidaknya, seperti yang dialami oleh Wanto, eh... Lusi!
Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com