INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 06 Agustus 2017

Luka Afni Yang Tak Tersembuhkan

Efek media sosial facebook (FB) memang luar biasa. Hal yang secara akal tak mungkin terjangkau, nyatanya dengan mudah bisa ditemukan melalui media sosial ini. Setidaknya, itu yang terjadi ketika tanpa aku duga, Afni -- ini nama adik kelasku saat masih SMA, dan hampir 30 tahun tidak ada kabar -- bisa ketemu lagi denganku, meski melalui putri tunggalnya yang menjalin pertemanan denganku di FB.


Sosok Afni dimataku adalah 'gadis luar biasa' yang tangguh menghadapi cobaan hidup. Tidak ada hubungan istimewa denganku, selain aku pernah menjadi satu-satunya teman yang tahu sejarah kelam hidupnya. Dengan pertimbangan tertentu, Afni memilihku untuk menjadi teman curhat, dikala hatinya gunda.

Aku mengenalnya saat menjadi panitia pengenalan sekolah untuk siswa baru di SMA ku. Saat itu, aku baru naik kelas 3. Dan Afni, yang mengikuti acara orientasi pengenalan sekolah bersama 300-an siswa baru lainnya, juga tidak terlihat istimewa. Yang membedakan, cuma postur tubuh yang tinggi, kulit putih dan rambut pendek sebahunya. Wajahnya biasa-biasa saja. Mungkin, kalau mau dilihat hal yang agak aneh, adalah ekspresi wajahnya yang datar dan dingin. Tidak seperti teman-teman lainnya, yang ceria dan antusias mengikuti kegiatan pengenalan sekolah, selama 5 hari tersebut.

Pun demikian ketika sudah mulai aktif masuk sekolah. Afni yang masuk siang sering datang lebih awal dari teman-temannya, dan selalu menyendiri duduk membaca buku di lorong samping ruang OSIS -- sekaligus ruang koperasi siswa dan UKS -- yang ada di ujung timur areal sekolah. Aku jadi hapal karena setiap ada jam kosong, aku selalu ke ruang OSIS sampai jam pulang sekolah, bahkan kadang sampai jam 4 sore.

Antara penasaran dan hanya iseng, suatu siang aku hampiri Afni yang sedang duduk termenung di lorong sebelah ruang OSIS. Aku menegurnya sambil tersenyum, "Kenapa melamun, Dik?"

Afni agak kaget. Langsung mendongakkan kepala, melihatku yang berdiri di hadapannya, dengan tanpa ekspresi. Tapi aku lihat matanya berkaca-kaca. Dengan suara lirih Afni menjawab, "Maaf Kak, saya lagi ingat keluarga di kampung." Setelah itu dia menunduk lagi. Karena bingung dengan suasana tersebut, aku hanya bicara sekenanya, "Makanya kumpul dengan teman yang lain, biar bisa bercanda dan melupakan kangen pada keluarga."

Tanpa aku duga, masih dengan menunduk dan mulai menangis -- aku dengar isak tangisnya -- Afni berkata dengan lirih, "Kalau Kakak berkenan, boleh saya cerita sama Kakak tentang masalah saya?" Karena tidak tahu harus berkata apa, aku hanya mengiyakan saja, dan duduk di sampingnya.

Dan siang itu, Afni mengeluarkan uneg-unegnya bahwa dia yang sudah 2 bulan bersekolah di SMA ku, kangen dengan neneknya yang ada di wilayah Malang bagian selatan -- Afni menyebut nama sebuah kecamatan -- yang selama ini merawatnya. Neneknya tinggal sendirian, dan neneknya ini pula yang selama ini merawatnya sampai lulus SMP di kecamatan tersebut.

Afni sebelumnya juga mengatakan, bahwa memilih aku untuk tempat curhat bukan tanpa alasan. Afni melihat aku -- selama jadi panitia masa pengenalan sekolah -- tidak over acting dan sok galak seperti kakak senior lainnya. "Kakak pendiam tapi murah senyum. Kakak melindungi, bukan menggoda kami. Saya percaya Kakak mau mendengar dan bisa menjaga cerita masalah saya," urai Afni masih dengan wajah menunduk. Aku hanya diam, tak tahu harus berkomentar apa.

Selama Afni cerita, aku tidak memberikan respon apa-apa, hanya diam mendengarkan. Duduk disamping Afni, di pinggiran teras yang ada di lorong samping ruang OSIS. Aku agak terperanjat, ketika Afni mengatakan, "Saya sudah punya anak, Kak. Umur satu tahun. Sekarang diasuh Ibu saya yang ada di Bojonegoro. Sebenarnya saya lahir dan besar disana. Anak saya itu yang membuat saya sering termenung, karena sampai sekarang belum pernah melihat sejak kelahirannya. Saya hanya tahu anak saya perempuan," kembali isak tangis Afni terdengar, aku tidak berani menoleh.

"Kamu sudah menikah?" sebuah pertanyaan bernada bodoh tiba-tiba terlontar dari mulutku.

Lama tidak ada jawaban. Afni terdiam, mungkin sedang mengatur emosinya. Lima menit kemudian Afni melanjutkan ceritanya, yang membuat aku benar-benar terperanjat, "Waktu kelas 2 SMP saya diperkosa Pak Lik saya, adik kandung Ibu," suara Afni tertahan, matanya memandang nanar ke depan, "Saya hamil, dan melahirkan bayi itu. Saya dikeluarkan dari sekolah," lanjut Afni, kali ini suaranya terdengar geram penuh amarah. "Akhirnya saya yang dibuang ke rumah nenek di Malang, supaya tidak jadi aib keluarga. Saya melanjutkan di SMP swasta disana," suara Afni kembali terdengar lirih.

Untungnya lorong tempat kami bicara terletak di ujung deretan ruang kelas yang hanya dipakai siswa kelas 3 yang masuk pagi, sehingga tidak banyak siswa yang berlalu lalang. Kecuali yang ada keperluan ke ruang OSIS atau jajan di koperasi siswa.

Sejak kejadian siang itu, aku masih sempat 4 atau 5 kali ngobrol dengan Afni di tempat yang sama, saat aku ada keperluan di ruang OSIS. Afni bercerita betapa marah pada orangtuanya yang malah menyalahkan Afni dan menutup rapat-rapat kejadian yang membuatnya muak pada setiap laki-laki yang mendekatinya. "Saya trauma, Kak. Saya benci laki-laki, karena telah menghancurkan dan merusak masa depan saya. Ibu lebih membela adiknya daripada menyelamatkan anaknya. Ini tidak adil!" emosi Afni meledak, pada suatu siang.

Lagi-lagi aku hanya bisa menyarankan agar dia lebih banyak membaur dengan teman-teman lainnya. Aku tak tahu harus memberi saran apa lagi.

Dua bulan kemudian aku sudah jarang bertemu Afni, karena memang sudah tidak jadi pengurus OSIS, dan tidak lagi datang ke ruang OSIS. Kalau toh ketemu, ketika aku pulang sekolah dan Afni sedang menyendiri, duduk baca buku di bangku taman depan ruang guru, menunggu bel masuk. Biasanya hanya senyum, atau basa-basi menyapa, "Pulang ya, Kak?" Hari-hari berikutnya bahkan aku sudah tidak pernah ketemu lagi, karena aku memang konsentrasi ke ujian akhir sekolah.

***

Hampir 30 tahun kemudian, ketika aku iseng buka beberapa akun yang menjalin pertemanan di FB-ku -- yang berjumlah lebih dari 4.800 teman -- aku melihat foto profil sosok ibu muda yang wajahnya sangat familiar bagiku, tapi aku lupa siapa. Di FB-nya hanya tertulis nama 'Mama Byan' (aku samarkan, atas permintaan ybs), lulusan Akademi Perawat, dan bekerja di salah satu Rumah Sakit di Malang.

Karena penasaran, aku inbox untuk menanyakan, kira-kira aku kenal dimana sama dia. Dua hari kemudian Mama Byan membalas inbox yang membuat aku lagi-lagi terperanjat -- seperti 30 tahun silam -- karena dia ternyata putri tunggal Afni. "Maaf ya Om, aku add FBnya tanpa memperkenalkan diri. Aku putrinya Bu Afni, adik kelas Om di SMA. Masih ingat? Ibu menyuruh aku cari FB Om Sugeng, pingin tahu kabarnya" begitu jawaban Mama Byan.

Di kesempatan lain -- satu minggu kemudian -- menjawab pertanyaanku, Mama Byan juga menulis, "Salam dari Ibu aku, Om. Ibu banyak cerita tentang Om Sugeng, satu-satunya teman sekolah yang tahu masalah Ibu," tulisnya. Dan di kalimat berikutnya menambahkan, "Setelah lulus SMA, Ibu ambil aku yang masih umur 4 tahun di Bojonegoro. Ibu memutuskan mengasuh aku sendiri, sambil bekerja di pabrik garmen. Menetap di rumah nenek, sampai sekarang."

Yang membuat aku agak tercenung ketika Mama Byan menulis, "Om Sugeng tahu enggak, Ibu tidak pernah menikah lho, karena luka hatinya pada laki-laki tak akan pernah ada obatnya. Begitu Ibu selalu cerita ke aku. Sejak nenek meninggal, aku menemani Ibu di rumah peninggalan nenek, bersama suami dan 2 anakku".

Melihat gaya Mama Byan bercerita dengan lepas dan terkesan kocak, aku hanya bisa tersenyum sekaligus miris. Karena sifatnya berbanding terbalik dengan ibunya yang pendiam dan pemurung.

Tentu bukan keberhasilan Afni mendidik anaknya sampai berhasil -- jadi perawat -- yang menjadi point dari kejadian ini. Tapi justeru ada satu hal yang harus dicermati bersama, bahwa dalam kasus ini Afni adalah korban 'ketidakadilan' dalam sebuah keluarga yang sedang dilanda aib, yang ironisnya sering terjadi di sekitar kita.

Lebih celaka lagi, mayoritas keluarga yang mengalami hal semacam ini selalu menyembunyikan aib -- dalam bentuk apapun, entah perkosaan, hamil diluar nikah, ataupun KDRT -- tanpa memikirkan dampak psikologis obyek ataupun korbannya. Tentu ini sebuah ironi!


Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com