INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 13 Agustus 2017

Moral Nandar Tak Bisa Dibeli

Melihat tampilan secara fisik, mungkin banyak orang akan mengira dia adalah pekerja kantoran, atau setidaknya mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Karena, pemuda berusia 26 tahun -- biasa dipanggil Nandar, berkulit putih, dengan rambut dipotong agak cepak --- selalu berpakaian rapi dan trendi. Badannya yang atletis dengan wajah sekilas mirip selebritas Andika Pratama, menambah kesan Nandar adalah pemuda berpendidikan dari kalangan berada. Setidaknya, aku juga pernah mengira seperti itu.


Padahal, sesungguhnya Nandar adalah seorang tukang cukur, yang menyewa kios pinggir jalan -- patungan dengan 2 orang temannya -- di sekitar pasar Ciracas, Jakarta Timur, yang aku kenal di akhir tahun 90-an. Saat itu aku memang tinggal di daerah yang berada di pinggiran Jakarta, dekat dengan tempat kerjaku. Sehingga untuk urusan mencukur rambutpun, cukup di sekitar tempat tinggal saja.

Awal kenal dengan Nandar terbilang cukup unik. Saat aku masuk ke kiosnya, dari 3 kursi tempat untuk cukur, sudah terisi 2 orang. Sedang di bangku tunggu sisi kanan, ada 2 orang yang sedang duduk mengobrol, Nandar dan bapak-bapak setengah baya, yangbelakangan aku ketahui bapak-bapak itu adalah penjual rokok yang gerobaknya mangkal di depan kios cukur rambut.

Aku ikut duduk di sebelah 2 orang tersebut. Dan, baru juga duduk, Nandar yang duduk tepat di sebelahku, menyapaku, "Selamat siang Bang, mau cukur ya?"

Aku menoleh dan senyum sambil menjawab, "Iya. Mas juga lagi antri ya? Itu tukang cukur paling ujung orangnya lagi kemana? Kok cuma ada 2 orang yang nyukur?" tanganku sambil menunjuk kursi cukur yang kosong.

Sambil berdiri, Nandar mempersilahkan aku duduk di kursi cukur paling ujung dan berucap, "Saya yang nyukur, Bang." Dengan tetap senyum ramah, Nandar mulai merapikan kain penutup badan dan mulai mencukur rambutku, dengan model sesuai yang aku minta. Saat cukur itulah aku -- yang berinisiatif mengajaknya bicara -- jadi tahu kalau pemuda itu bernama Kusnandar, biasa dipanggil Nandar, yang lahir di Garut, Jawa Barat.

Ngobrol dengan Nandar -- yang istri dan 2 anak balitanya tinggal di kampung, di Garut -- cukup nyambung, apalagi kalau sudah masuk ke topik sepakbola, cukur rambut yang 30 menit serasa begitu cepat. Wawasan sepakbolanya luas, mulai dari seputar sepakbola Indonesia sampai klub-klub di liga Inggris, Spanyol atau Italia, Nandar cukup lancar menyebut nama pemain dan perjalanan karirnya. Nandar juga cukup antusias jika aku cerita tentang Arema Malang.

Itulah sebabnya, setiap aku cukur rambut di kios berukuran 3 x 6 meter itu -- tiap 2 bulan sekali -- selalu 'dipegang' Nandar, dan 2 temannya biasanya sudah maklum. Dan dari seringnya bertemu itu pula, aku jadi tahu liku-liku kehidupan Nandar, yang selalu diceritakan setiap aku cukur rambut. Nampaknya Nandar yang usianya 5 tahun lebih muda dariku itu sudah menganggapku saudara sendiri, "Kita ini saudara, Bang. Saudara sesama perantau di Jakarta," begitu ucapnya suatu hari.

Dibalik sikap yang ramah dan terkesan menikmati pekerjaannya sebagai tukang cukur, ternyata ada cerita pilu yang dialami Nandar di kampungnya, sehingga memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Itu diceeitakan Nandar, saat aku sudah lebih dari setahun rutin cukur -- dan dicurhati -- oleh penyuka grup musik Sheila On Seven itu.

Nandar dilahirkan sebagai anak sulung dari 4 bersaudara -- 3 adiknya perempuan -- dan sudah ditinggal Abahnya yang meninggal karena sakit, ketika umur 10 tahun. Itulah sebabnya, selepas lulus SD Nandar bekerja membantu ibunya yang hanya seorang tukang cuci, mencari nafkah untuk menghidupi dan biaya sekolah adik-adiknya, dengan menjadi tukang antar susu keliling pada tetangganya yang punya peternakan sapi perah.

"Saya bekerja pagi dan sore, dapat jatah antar susu ke 20 orang pelanggan. Tidak ada hari libur, kecuali lebaran dan tanggal merah saja. Bertahan hampir 3 tahun, karena produksi susu menurun dan ada pengurangan karyawan. Saya diberhentikan," cerita Nandar, tentang awal dia bantu cari uang untuk keluarganya.

Tak terlalu lama menganggur, "Dua minggu kemudian saya dapat kerjaan di perusahaan konveksi yang memproduksi sprei dan taplak meja, yang lokasinya masih satu kecamatan dengan saya. Alhamdulillah saya ditempatkan di bagian kurir antar bahan ke para tukang jahit rumahan yang dapat borongan dari konveksi," urai Nandar, sambil tangannya dengan cekatan memainkan gunting rambutnya. "Gajinya pun lebih besar daripada antar susu," ucapnya lagi.

Keberuntungan nampaknya berpihak pada Nandar, belum empat bulan bekerja, majikannya -- pemilik konveksi yang dikenal sebagai pengusaha perempuan sukses di daerahnya -- meminta Nandar untuk beralih menjadi pengurus rumah besar tempat tinggal pemilik sekaligus tempat usaha garmen tersebut. "Saya diminta tinggal di rumah majikan dan dijanjikan disekolahkan lagi di SMP," kenang Nandar, yang saat itu berusia 15 tahun.

Dalam penuturannya, Nandar memang disekolahkan di SMP swasta tak jauh dari rumah majikannya, dan setiap harinya Nandar lebih sering mempersiapkan segala kebutuhan pribadi majikannya itu, termasuk saat ada urusan ke luar kota. "Saya kadang-kadang juga diajak tugas keluar kota, bagian mengurus pakaian dan barang bawaan," cerita Nandar, di kesempatan lain. "Senang juga, selain bisa bepergian gratis, saya juga dapat tambahan uang saku dan oleh-oleh," tambah Nandar.

Sayangnya, saat duduk di kelas 2 SMP -- dan usianya menginjak 16 tahun -- ada keganjilan dan gelagat kurang baik yang dirasakan Nandar. "Majikan saya memang sudah cerai dari suaminya 4 tahun sebelum saya masuk, mulai berlaku aneh. Dia sering menggoda saya, dengan omongan-omongan vulgar," suara Nandar agak pelan saat mengucap kalimat itu. Dan lanjutnya, "Di hari-hari kemudian, majikan juga sering mengajak saya untuk menemaninya tidur, bahkan meminta melakukan hubungan suami istri, baik di rumah maupun saat tugas keluar kota. Tapi saya selalu menolak dengan halus. Saya takut dosa, meski sering diiming-imingi imbalan yang besar."

Karena godaan itu sudah terlalu sering datang, atas seizin ibunya, Nandar memutuskan berhenti bekerja, dengan kinsekwensi sekolahnya juga ikut berhenti. "Memang saya butuh uang Bang, tapi ajaran agama dan juga nasehat Ibu dan almarhum Abah tetap saya pegang. Pantang berbuat dosa dan maksiat dalam mencari rejeki," ucapan Nandar begitu tegas.

"Saya sempat 3 bulan menganggur, sebelum ikut paman saya di Cimahi, menjadi penjaga toko bangunan milik paman. Di tahun ke-4, pada umur 20 tahun saya menikah, dan kemudian memutuskan merantau ke Jakarta, jadi tukang cukur, sampai sekarang. Saat ini istri dan 2 anak saya ikut Ibu saya di Garut," Nandar mengakhiri ceritanya, berbarengan dengan selesainya pijitan di pundakku, yang menjadi bagian service cukur di kiosnya.

Memang, setelah Nandar cerita kehidupannya itu, aku masih rutin menjadi pelanggannya, dan selalu mengobrol dengan topik yang berbeda-beda. Tapi satu point yang menurutku patut menjadi catatan tersendiri, adalah sikap tegas Nandar dalam mempertahankan moral dari godaan negatif majikannya, yang begitu kuat.

Artinya, Nandar tak bisa dibeli dengan kemewahan untuk 'menggadaikan' moralnya. Padahal, di kondisi Nandar yang hidup miskin dan usia penuh gejolak -- saat itu 16 tahun -- mestinya dengan mudah bisa digoyang oleh hal bersifat kesenangan duniawi. Dan nampaknya, Nandar adalah pengecualian.


Inilah kelebihan Nandar yang bisa jadi sangat jarang dimiliki remaja seusianya -- saat itu -- termasuk orang dewasa sekalipun. Diakui atau tidak, ini sebuah teladan !
Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com