INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 27 Agustus 2017

Tanggung Jawab Pak Diran Tak Pernah Usai

Hari belum lagi beranjak siang, masih sekitar pukul 10. Aku yang baru selesai mandi – karena habis ikut kerja bakti di kompleks perumahan – diberitahu putriku kalau ada tamu yang menunggu di teras rumah. Sambil berjalan ke teras, aku sempat berpikir, siapa hari minggu begini pagi-pagi sudah bertamu?


“Selamat pagi, Mas, maaf pagi-pagi mengganggu hari liburnya,” suara berintonasi besar dan tegas yang khas keluar dari lelaki berbadan tegap, yang langsung berdiri dari duduknya ketika aku baru sampai di pintu depan rumah. Aku menyambut uluran tangan lelaki berumur sekitar 55 tahun, yang rambutnya sudah memutih sebagian itu. Ya, tentu aku mengetahui usianya, karena dia adalah Pak Diran, teman kantor – dan pernah satu departemen denganku selama 15 tahun – yang sudah pension 4 bulan sebelum kedatangannya ini.

Setelah berbasa-basi sejenak, Pak Diran yang secara fisik masih terlihat gagah dan sigap – mirip pensiunan tentara, apalagi dengan tinggi badan sekitar 175 centimeter – menyampaikan tujuannya, “Saya kalau diperbolehkan mau jadi sopir di keluarga Mas Sugeng. Sekarang Mas Sugeng kan tinggal di Bogor, pasti juga capek kalau kerja bawa mobil dari Bogor ke Jakarta setiap hari.”

Aku sebenarnya keberatan dengan keinginan Pak Diran, selain memang usia pensiun mestinya digunakan untuk istirahat kerja dan berkumpul dengan anak cucu, aku juga belum memerlukan sopir pribadi ataupun sopir keluarga. “Bapak ngapain sih repot-repot kerja? Uang pensiun dari kantor kan sudah besar, anak-anak Bapak sudah pada kerja. Mau cari apa lagi? Lagipula aku nggak mampu menggaji Bapak seperti yang didapat dari kantor dulu,” begitu aku berargumen, mencoba menolak secara halus.

Tapi Pak Diran tetap bersikukuh mau menjadi sopir, dengan gaji berapapun, yang penting ada aktivitas keseharian. “Kalau perlu, saya akan ikut bantu-bantu di rumah Mas, barangkali ada yang perlu diperbaiki. Tidak perlu lagi panggil tukang. Saya perlu kegiatan Mas, kalau di rumah terus saya bisa sakit,” Pak Diran yang memang lulusan sekolah teknik, mencoba meyakinkanku.

Akhirnya aku tidak bisa menolak. Dan sejak saat itu – sekitar awal Juli 2009 – Pak Diran menjadi sopir di keluargaku. Selain mengantar aku ke kantor, Pak Diran juga sering antar anak-anak ke sekolah, atau juga pergi keluar kota di hari sabtu dan minggu, jika lagi liburan akhir pekan.

Jujur saja, kadang aku tidak tega, karena rumah Pak Diran di daerah Pasar Rebo (Jakarta Timur), perlu waktu 1 jam untuk sampai rumahku yang di wilayah Bogor, itupun kalau tidak macet. Sehingga tiap hari, jam 5 pagi sudah harus berangkat dari rumahnya, menggunakan sepeda motor tuanya. Pun demikian pulangnya, yang kadang jam 9 malam aku baru sampai rumah, dan Pak Diran masih harus naik motor pulang ke rumahnya di Pasar Rebo.

Hebatnya, meski usianya sudah lebih dari 55 tahun, kemampuan mengemudi mobil bapak 4 anak ini tidak diragukan lagi. Pengalaman selama bekerja yang sering mengantar kendaraan dinas sampai pulau Sumatera bagian utara, atau road show tahunan untuk launching produk baru keliling pulau Jawa, membuatnya hafal rute-rute antar kota di pulau Sumatera dan Jawa. Karena itu pula fisiknya terjaga tetap prima dan penglihatan cukup awas, sampai usia pensiun.

Dengan alasan itu pula, aku menjadi lebih tenang dan aman mengajak Pak Diran untuk melakukan perjalanan luar kota – mulai dari Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan juga pulau Madura – baik untuk keperluan dinas maupun keluarga. Bahkan, beberapa kali aku ajak mudik ke Malang di saat lebaran. Tidak ada kendala.

Yang unik, meski berasal dari Jawa Tengah, tapi Pak Diran menguasai 4 bahasa daerah – Jawa, Sunda, Batak dan Minang – selain bahasa Indonesia tentunya. “Saya lahir di Medan Mas, bapak dan ibu saya asli Jawa Tengah, yang transmigrasi ke Sumatera saat jaman Jepang. Saya pernah tinggal di Padang saat SMP, dan SMA saya pindah ke Yogyakarta. Setelah lulus sekolah, saya merantau ke Jakarta, sampai sekarang,” begitu ungkap Pak Diran di suatu kesempatan. Ada untungnya, karena kemampuan Bahasa yang kompleks ini sering membantu dalam perjalanan ke luar kota, terutama dalam hal non teknis.

Karena setiap hari ngobrol denganku, sekitar 4 bulan setelah menjadi sopir di keluargaku, akhirnya terungkap alasan utama kenapa Pak Diran ‘keukeh’ mau bekerja jadi sopir. “Saya harus menghidupi 2 orang cucu yang masih kecil, satu di TK dan satu lagi di SD. Kalau untuk makan sehari-hari, saya tidak ada masalah, tapi cucu saya kan perlu uang jajan, perlu bayar SPP, dan juga perlengkapan sekolah,” cerita Pak Diran suatu pagi, saat mengantarku ke kantor.

Dari penuturan selanjutnya, aku juga baru mengetahui, kalau ibu dari cucunya – anak ke-2 Pak Diran – sudah berpisah dengan suaminya. Sehingga anak dan 2 cucunya itu menjadi tanggungannya dan hidup serumah dengan Pak Diran. “Mereka ini darah daging saya, Mas. Jadi saya harus bertanggung jawab pada kelangsungan hidupnya. Kalau toh ibunya cucu saya ini kerja, hasilnya tak cukup untuk menghidupi 2 anaknya,” begitu alasan Pak Diran.

Lebih ironis lagi, meski sudah bekerja, 2 putranya yang lain – juga sudah menikah – ternyata masih tinggal satu rumah dengan Pak Diran. Alasannya, “Saya tidak tega kalau mereka ngontrak, mending tinggal di rumah sendiri, kumpul ramai-ramai. Mereka saya buatkan kamar sendiri-sendiri. Makanpun juga ikut saya.”

Tentu saja aku tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang pensiunan karyawan swasta harus menghidupi 3 keluarga sekaligus, hanya dengan mengandalkan penghasilan dari menjadi sopir keluarga semata? Memang, aku sempat mengingatkan – bahkan memprotesnya – bahwa sudah seharusnya anak-anaknya dididik mandiri, karena mereka sudah berkeluarga dan punya penghasilan. Tapi, lagi-lagi Pak Diran berkilah, “Selama saya masih bisa cari uang, mereka masih tanggung jawab saya, Mas. Biarkan penghasilan mereka yang tidak seberapa itu disimpan, untuk masa depan anak-anaknya.”

Dan memang, aku tidak berhak ikut campur terlalu jauh urusan internal keluarga Pak Diran. Tetapi rasa empati pada perjuangan dan upaya menghidupi keluarganya, membuatku mencarikan alternatif lain – untuk tambahan penghasilan – yaitu aku ikutkan jadi staf umum di koperasi karyawan kantor. Sehingga sambal menunggu aku pulang kerja, Pak Diran bisa memanfaatkan waktunya untuk bekerja menjadi kurir di koperasi.

Begitulah, hampir 7 tahun Pak Diran ikut bersamaku, dan sudah seperti keluarga sendiri. Dalam rentang waktu tersebut, Pak Diran dua kali terserang stroke ringan – dan beberapa minggu dirawat di rumah sakit – karena beban pikiran yang bisa jadi terlalu berat untuk orang tua seusianya. Tetapi Alhamdulillah, bisa sembuh total. Karena semangat dan kemauan untuk (kembali) bekerja yang begitu kuat.

Satu catatan khusus yang aku dapatkan, bahwa rasa tanggung jawab untuk membahagiakan anak dan cucu pada diri Pak Diran memang patut diacungi jempol. Tetapi bahwa ada batas yang tidak bisa dihindari – yaitu faktor fisik dan usia – tentulah juga harus disadari. Artinya, akan lebih baik memberi pemahaman dan melatih anak sejak awal untuk bertanggung jawab pada diri dan keluarganya, daripada memanjakan secara terus-menerus tanpa pernah tahu kapan harus dilepas.

Tapi itulah, masing-masing individu punya cara untuk menjalani hidupnya, tanpa boleh diintervensi individu yang lain. Kalau toh mau diambil sisi positifnya, ini adalah bagian pembelajaran – sekaligus cerminan yang bisa diambil sisi plus minusnya – bagaimana seharusnya kita menjalani hidup yang berimbang. Setidaknya, mendekati ideal!


Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com