INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 03 September 2017

Suara Kakek Sofyan di Masjid Itu

Tepat dua tahun silam, di rubrik 'Secangkir Teh' ini aku menulis tentang suara seorang kakek, dari pengeras suara sebuah masjid -- yang entah dimana, karena hanya lamat-lamat, mungkin terlalu jauh dari tempat tinggalku -- setiap hari sekitar pukul 4 pagi. Suara yang awalnya tidak begitu aku hiraukan, karena sambil menunggu adzan subuh, jam 3 sampai 5 pagi adalah jadwalku menulis.


Dalam tulisan yang berjudul 'Suara Kakek di Masjid Itu...' aku ceritakan bahwa akhirnya aku menyadari bahwa suara kakek itu selalu terdengar tepat jam 4 pagi, ketika masjid lain belum membangunkan umat muslim untuk sholat subuh. Kalimat 'Ashsholaa... ashsholaa... ashsholatu qhoirum mina nauum..' yang dikumandangkan kakek itu -- dengan suara khasnya yang serak dan berat, seperti memaksa untuk dilantangkan -- seolah menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Suara itu terdengar begitu tulus, penuh penghayatan dan kepasrahan.

Kalimat yang dilantunkan kakek itu, mempunyai arti -- yang intinya -- seruan kepada umat muslim, untuk segera menjalankan sholat (subuh) karena sholat pada dasarnya lebih utama daripada tidur.
Dari sisi humanisme, aku sangat simpati pada apa yang dilakukan kakek tersebut. Bahkan, sangat menghargai dan salut pada upayanya, dalam menjalankan kehidupan spiritualnya.

Memang, saat itu aku tidak membahas secara khusus siapa jatidiri kakek itu -- dan memang tidak terfikir sama sekali -- karena yang aku bayangkan adalah seorang marbut masjid yang sudah berusia senja, yang fokus dan ikhlas pada apa yang dikerjakan secara rutin setiap harinya. Lebih lagi, pada saat mayoritas umat muslim masih nyenyak dan meringkuk di balik selimut, kakek itu sudah berupaya untuk mengajak pada kebaikan, melalui suara serak dan beratnya.

Bahkan, kalau toh kakek itu bukan seorang marbut -- penjaga yang mengurus keperluan dan kebersihan masjid -- pastilah seorang lelaki tua yang sangat rajin beribadah, yang sudah duduk tafakur di masjid, disaat marbut di tempat lain belum memulai aktivitasnya. Begitu bayangan yang bermain di fikiranku.

Nampaknya, dunia ini penuh dengan kebetulan -- tentu saja ini memang sudah kehendak dari yang Maha Kuasa -- karena empat hari setelah tulisan itu aku upload di laman facebook, sebuah pesan melalui media WhatsApp (WA) masuk di handphone-ku. Dari Pak Suhar, seorang guru SD yang sering kegiatan bersamaku di Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Intinya, Pak Suhar yang ternyata salah satu pembaca setia rubrik 'Secangkir Teh' itu menginformasikan, bahwa kakek yang aku ceritakan ada kemungkinan adalah Kakek Sofyan. Seorang lelaki tua dengan pekerjaan serabutan, yang tiap pagi memang membantu membersihkan musholla, yang letaknya tak jauh dari rumah Pak Suhar, dan berjarak sekitar 1,5 km dari perumahan tempat tinggalku. "Sudah lima bulan ini Kakek Sofyan tidur di musholla dekat rumah", begitu tulis Pak Suhar.

Menurut Pak Suhar, Kakek Sofyan setiap subuh dengan sukarela membangunkan masyarakat sekitar -- untuk menunaikan ibadah sholat subuh -- melalui pengeras suara musholla, layaknya seorang marbut. Bahkan, kalau tidak ada yang bersedia menjadi imam sholat, Kakek Sofyan biasanya berinisiatif bertindak sebagai pimpinan sholat. "Pak Sugeng pasti sudah familiar dengan Kakek Sofyan ini", begitu tulis Pak Suhar di akhir pesan WA-nya.

Ya, kalau benar yang dimaksud Pak Suhar itu adalah Kakek Sofyan, tentu aku mengenalnya. Karena Kakek Sofyan sering membantu bersih-bersih setiap aku mengadakan sebuah acara -- entah bazaar, panggung hiburan rakyat, atau peringatan hari besar -- yang aku terlibat di kepanitiaan. Biasanya, begitu acara usai, Kakek Sofyan akan menyapu sekitar areal acara, dan dengan cekatan memisahkan gelas dan botol plastik bekas minuman kemasan, dimasukkan dalam karung yang sudah disiapkan, untuk dijual di lapak pemulung.

Uniknya, Kakek Sofyan selalu menolak aku beri uang sebagai upah kerjanya -- kecuali sebungkus rokok -- karena baginya hasil menjual plastik bekas minuman kemasan yang dikumpulkannya, sudah lebih dari cukup pengganti upah. Pernah suatu saat aku paksa untuk menerima, tetapi Kakek Sofyan tetap menolak, "Bukannya saya tidak mau uang, Pak. Tetapi keperluan saya tidaklah banyak, jadi uang yang saya perlukan juga secukupnya saja," ujarnya.

Prinsip Kakek Sofyan dalam memandang keperluan hidup, memang nampak unik dan cenderung aneh bagi sebagian orang. Bagi Kakek Sofyan, uang hanya sarana memenuhi kebutuhan primer -- makan, kopi dan rokok -- semata, tak lebih. Untuk pakaian, cukup yang menempel di badan dan satu-dua setel untuk ibadah. Untuk tidur, bisa dimana saja, walau lebih sering di musholla atau masjid.

Kalaupun punya uang lebih, "Saya titip di kotak amal musholla atau masjid dimana saya numpang tidur, karena itu tempat paling aman untuk menabung, supaya saya terlindung dari niat jahat orang lain maupun diri saya sendiri," ucap Kakek Sofyan, pada saat aku ajak makan malam di rumah makan yang ada di samping kantor kecamatan Cileungsi, seusai sebuah acara pameran. Ucapan yang tulus, tanpa bermaksud berfilosifi.

Dalam beberapa kali mengobrol dengan Kakek Sofyan -- disela kegiatan yang aku adakan -- awalnya kesan tertutup sangat kental terasa, apalagi kalau aku memintanya bercerita tentang masa lalunya. Kakek yang mengaku berusia 70-an tahun ini hanya berucap pendek, "Masa lalu tidak berwarna, Pak. Semua hitam pekat!"

Namun, Kakek Sofyan mulai terbuka, ketika -- di suatu kesempatan -- aku membuka pembicaraan dengan bercerita tentang kondisi keluargaku. Dengan wajah tertunduk dan suara pelan, kakek yang di masa tuanya kini hidup sebatangkara, mengungkapkan, "Saya ini orang Betawi asli, Pak. Sebagai anak tunggal, masa muda saya penuh dengan hura-hura. Dulu bapak saya dikenal sebagai jawara dan tuan tanah di daerah Tomang," ujarnya, menyebut sebuah daerah di wilayah Jakarta Barat. Kemudian, "Saat rumah dan tanah kami kena gusur proyek jalan tol, bapak memutuskan pindah ke daerah pinggiran di Bekasi."

Saat tinggal di Bekasi inilah, kebiasaan negatif kakek yang mengaku pernah punya 5 istri ini makin menjadi-jadi. "Main perempuan, judi, mabuk-mabukan, narkoba, sampai berantem dan masuk penjara sudah menjadi kebiasaan. Uang membuat saya jadi gelap mata. Apalagi warisan dari orangtua jatuh ke saya semua," cerita kakek berbadan kurus tinggi, dengan rambut yang telah memutih dibiarkan panjang sebahu, dan selalu diikat di belakang.

"Dalam hidup yang penuh gelimang kesenangan dan maksiat, saya harus masuk rumah sakit karena penyakit paru-paru dan ginjal yang kronis. Hampir dua bulan saya dirawat. Dan itu berulang tiga kali dalam rentang dua tahun," Kakek Sofyan melanjutkan ceritanya. Dan, "Gara-gara sakit berkepanjangan, semua harta saya ludes, rumah warisan terjual, istri dan empat anak meninggalkan saya, pergi entah kemana," ada nada getir penuh kesedihan dari suaranya.

Bisa diduga, keluar rumah sakit -- seperti yang dituturkan padaku -- Kakek Sofyan limbung, stres dan hampir gila. "Tiap hari kerjaan saya hanya jalan kaki keliling pelosok Bekasi tanpa arah dan tujuan. Tidur di emperan toko atau warung, juga di pos ronda. Makan kalau ada yang ngasih dan berbelas kasihan," kenang Kakek Sofyan, tentang awal perubahan hidupnya 12 tahun silam.

Sampai akhirnya -- dua tahun kemudian -- tersasar di daerah Cileungsi, salah satu kecamatan di Kabupaten Bogor, dan mendapat pencerahan agama dari seorang tokoh agama yang ditemui di sebuah masjid. "Dari Pak Haji itu saya diajarkan agama, dituntun hidup sesuai jalan Allah. Beberapa minggu saya diminta tinggal di masjid. Alhamdulillah, hati saya mulai terbuka, ternyata saya masih punya kesempatan untuk bertobat," Kakek Sofyan mengakhiri ceritanya.

Dan nampaknya, itu adalah pertemuan terakhirku dengan Kakek Sofyan. Karena setelah itu, aku tidak pernah lagi menemukannya di setiap kegiatan yang aku adakan. Aku tidak pernah menanyakan atau mencari tahu keberadaannya, karena kebiasaan Kakek Sofyan memang berkelana dari masjid ke masjid lainnya. Sampai akhirnya aku menerima pesan WA dari Pak Suhar, perihal keberadaan Kakek Sofyan.

Bisa jadi, rasa penasaran yang aku tulis dua tahun silam, tentang misteri 'suara kakek di masjid itu' sudah tuntas terjawab, karena ternyata kakek itu adalah Kakek Sofyan. Tetapi, esensi dan tulisan -- yang sekaligus menjadi tanya besar -- nampaknya belum terjawab, masih menggantung.

Yaitu, apakah harus menunggu tua dulu, baru kita ingat pada sang Maha Pencipta? Apakah harus menunggu usia di ujung senja dulu, baru kadar ibadah kita ditingkatkan sampai titik maksimal? Sehingga, untuk menjadi marbut pun -- atau sekedar untuk membangunkan, mengingatkan, sekaligus mengajak sholat -- harus dilakukan oleh orang-orang yang berusia senja, seperti Kakek Sofyan?

Jawabannya, ada di hati kita masing-masing. Mari kita renungkan!


Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com