INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 01 Oktober 2017

Mimpi Besar Delia

Aku tak bisa menahan tawa – bahkan langsung ngakak – ketika sebuah pesan melalui aplikasi WhatsApp (WA) dengan terus terang meminta agar perjalanan hidupnya ditulis di Inspirasi Pagi. Pesan yang aku baca seusai makan malam senin kemarin itu sangat lucu bagiku, karena ditulis oleh Delia, adik kelasku di SMA yang dulu sangat aku kenal kesehariannya.


“Apa menariknya? Kayaknya kamu dulu gitu-gitu aja deh hidupnya. Males ah!” aku menjawab sekenanya, penuh canda seperti dulu. Tapi Delia nampaknya serius. Adik kelas satu tahun dibawahku – yang dulu terkenal cerewet – meyakinkan bahwa perjalanan hidupnya pasti bisa menginspirasi orang lain, selain ada tujuan mulia, “Demi keutuhan keluarga besarku yang tidak akur, Mas Prie!” begitu tulis Delia, ibu satu orang putri ini.

Karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan – sehingga tidak sempat untuk melakukan wawancara langsung – aku minta Delia menuliskan kisahnya secara lengkap. Nanti aku tinggal menanyakan beberapa hal yang aku anggap penting, untuk menambah kelengkapan cerita.

Tidak aku sangka, ketika dua hari kemudian aku menerima kiriman cerita kehidupan Delia – yang terakhir bertemu denganku sekitar 25 tahun silam – aku hanya bisa menggelengkan kepala, tak menyangka perjalanan hidup cewek penyuka puisi ini begitu berliku, terjal dan hampir tak ada akhir.
Seperti yang diceritakan via WA, ternyata Delia adalah anak ke-3 dari 7 bersaudara. Padahal, saat sekolah dulu, aku tahunya Delia hanya punya satu kakak perempuan saja. Ayah Delia seorang guru SD. Kondisi perekonomian yang pas-pasan, membuat keluarga Delia hidup penuh keprihatinan, dan harus beberapa kali pindah rumah kontrakan.

“Jangankan punya rumah sendiri, untuk bayar SPP sekolah saja harus nunggak berbulan-bulan, sehingga tiap semester aku tidak bisa ambil raport,” kenang Delia. Dan lanjutnya, “Tapi di pergaulan dengan teman-teman sekolah aku tetap berusaha ceria, meski sering juga di bully karena kemiskinanku.”

Lulus SMA, Delia memutuskan ikut pamannya yang punya usaha jualan daging di salah satu pasar tradisional, di daerah Malang selatan. “Meski tidak banyak, tapi aku bisa bantu bayar SPP adik-adikku dan mebelikan pakaian yang pantas dipakai, dari hasil membantu jualan daging,” ungkap Delia.

Bahkan, pengorbanan Delia bertambah, ketika keluarganya hampir diusir pemilik rumah kontrakan dan harus dibayar dimuka untuk 3 tahun sekaligus. Delia harus merelakan uang tabungan dan menjual semua perhiasan, agar keluarganya bisa tetap menempati rumah itu. “Dari situ aku mulai berfikir, dan bertekad ingin membuatkan rumah untuk orang tua,” lanjut Delia.

Delia tak sekedar bertekad, karena tahun 1994 – enam tahun setelah ikut pamannya jualan daging – memutuskan menjadi Tenaga kerja Wanita (TKW) dan ditempatkan di Saudi Arabia. Setiap 3 bulan sekali, separoh gajinya dikirim ke Malang untuk keperluan keluarganya, dan sisanya ditabung. “Genap 2 tahun kontrakku habis. Aku kembali ke malang, dan uang tabungan aku belikan tanah,” Delia menulis dengan emosi tertahan, nampak dari struktur kalimat yang tak beraturan.

Tak tahan dengan kondisi kemiskinan yang (masih) melanda keluarganya, Delia hanya bertahan 2 minggu di rumahnya, dan memutuskan mendaftar kembali ke Agen PJTKI di daerah Singosari, Malang. Ironisnya, selama satu bulan di penampungan – sebelum diberangkatkan ke negara tujuan – tak satupun keluarganya, baik bapak, ibu, kakak maupun adik-adiknya, yang menjenguk.

Padahal, “Berapa jauh sih rumahku dengan kantor PJTKI? Aku jadi TKW sebenarnya untuk siapa? Terus terang saat itu aku sempat punya pikiran tak akan menikah. Aku dendam pada kemiskinan, aku tak ingin adik-adikku mengalami hal sepertiku,” lagi-lagi nada getir diungkapkan oleh Delia.

“Alhamdulillah, aku ditempatkan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Majikanku seorang dokter warga negara asing. Seperti saat di Saudi, tiap tiga bulan sekali aku kirim separoh gajiku ke malang, untuk nyicil beli material, agar bisa mulaimembangun rumah,” Delia melanjutkan ceritanya. Sayangnya, lagi-lagi Delia hanya sekali kontrak, tepat 2 tahun kontraknya tidak diperpanjang. Majikannya harus balik ke negaranya.

Tapi ada hikmahnya, dua bulan sebelum kembali ke Indonesia, Pak Harto lengser dari kursi presiden, yang berakibat harga dollar yang biasanya Rp. 8.500 melonjak jadi Rp. 16.000. “Aku sujud syukur, seluruh tabunganku aku kirim ke Malang, dan minta rumah segera dibangun. Allah sungguh maha besar, saat akan pulang ke Indonesia aku diberi hadiah 10 bulan gaji oleh majikan karena kerajinan dan kejujuranku. Saat itu aku mulai berani bermimpi,” sebuah harapan besar diungkapkan oleh Delia.

Benar saja, sampai di Malang, Delia melihat rumahnya 50 persen sudah dibangun. Dengan sisa uang yang ada, Delia melanjutkan membangun rumah sampai selesai dan mengisi dengan perabot lengkap. Dalam benaknya, Delia merasa betapa bahagianya orangtua, kakak dan adik-adiknya, dengan upayanya selama 4 tahun di negeri orang. “Saat itu aku memutuskan tak ingin berangkat lagi jadi TKW. Aku ingin usaha kecil-kecilan di rumah, dengan modal sisa uang dari majikan di Abu Dhabi.

Nyatanya, jauh api dari panggang. Delia hampir tak percaya ketika orangtua dan saudara-saudaranya mengingkari hasil jerih payahnya. Delia tak dianggap sama sekali. “Dunia seperti gelap seketika, aku tak percaya yang aku lihat di depan mataku. Di negeri orang aku bersudah payah, jatuh dari tangga lantai 2 tak aku rasakan, semua demi mengangkat martabat keluarga. Hasilnya, aku dianggap tidak ada,” kembali nada frustasi terlihat di tulisan Delia.

Dengan segala perih dihatinya – sekaligus belajar sabar dan ikhlas – Delia kembali daftar jadi TKW, memilih yang tujuan Uni Emirat Arab. “Tekadku Cuma satu, cari uang untuk punya rumah sendiri!” papar Delia.

Sebuah keberuntungan berpihak pada Delia, karena di Dubai, salah satu kota di Uni Emirat Arab, mendapat majikan Mohammed bin Rashid Al maktoum – sekarang Wakil Presiden dan Perdana menteri Uni Emirat Arab, juga Emir Dubai – yang merupakan putra presiden Uni Emirat Arab saat itu. Kebaikan dan perhatian majikannya yang luar biasa, membuat rasa kecewa Delia pada keluarga jadi sirna, “Aku bahkan ingin menata masa depan 4 adikku, setidaknya bisa menjadi kebanggaan keluarga,’ tekad Delia.

Tak diduga, majikannya yang membaca profil Delia sebagai TKW – belum menikah tetapi sudah bolak-balik ke negeri Arab – terketuk hatinya, “Beliau tanya kenapa dan buat apa aku jadi TKW, yang aku jawab untuk menghidupi keluarga dan beli rumah. Tanpa aku sangka Beliau memberi uang seharga rumah di Indonesia dan akan dipotong gajiku setiap bulannya. Uang langsung aku kirim ke Malang untuk dibelikan rumah seharga 20 juta dan 10 juta untuk renovasi,” tutur Delia.

Layaknya sebuah cerita telenovela, duka Delia tak berakhir juga. Kebohongan demi kebohongan keluarganya – yang sering minta dikirim uang dengan dalih untuk keperluan pendidikan adik-adiknya – nyatanya makin membuat Delia tertekan. “Aku dapat cerita sebenarnya justeru dari tetangga yang memang sengaja aku telepon. Aku stress dan sering sakit, bahkan dirawat di rumah sakit selama 3 bulan karena jatuh dari lantai 2 rumah majikan,” kembali nada pilu dilontarkan Delia.

Karena kondisi kesehatannya, Delia minta pulang dan putus kontrak sebelum waktunya. Majikannya membebaskan semua hutang-hutang dan malah memberi uang saku 1 tahun gaji, untuk merawat kesehatannya. “Sampai di Malang semua cerita tetanggaku benar adanya. Tidak ada nampak hasil jerih payahku selama ini, aku merasa telah dikhianati semua keluargaku, kering sudah air mataku,” sebuah ungkapan rasa kecewa bercampur marah dari Delia.

Saat itu juga Delia memutuskan merenovasi rumah yang sudah dibelinya – terpisah dari rumah pertama yang dibeli untuk keluarganya – dan memutuskan menikah tahun 2004, dengan pemuda yang masih satu daerah. “Awalnya memang aku keukeh untuk tidak menikah, tapi aku juga memikirkan kondisi kesehatan dan perlu orang yang melindungiku. Aku ingin hidup tenang, aku sudah lelah,” ungkap Delia.

Meski sudah berkeluarga dan hidup terpisah dari keluarga besarnya, konflik masih terus terjadi. Apalagi setelah bapak dan ibu Delia meninggal dunia, berebut surat rumah menjadi bagian yang tidak pernah usai, yang dilakukan saudara-saudaranya.

Seperti yang ditulis di akhir ceritanya, Delia mengungkapkan, “Mas Prie, aku sudah ikhlas dengan semua yang aku upayakan bertahun-tahun, demi saudara-saudaraku. Yang aku inginkan, janganlah mereka terus mengganggu dan memusuhiku. Berilah senyuman untuk putriku jika bertemu, seperti juga yang aku lakukan pada mereka ketika masih kecil dulu, menyayanginya. Supaya putriku juga tahu, bahwa ibunya ini masih punya saudara yang hidup rukun, bukan sebatang kara!”

Begitulah, Delia sudah menjalankan tugas dan bakti sebagai anak pada orangtua – dan juga pada saudara-saudaranya – tanpa sedikitpun memikirkan kepentingannya sendiri, selama bertahun-tahun. Balasan yang diterima yang tidak sesuai harapan, diterima Delia dengan penuh sabar dan ikhlas. Bagi Delia, dia sudah (pernah) berusaha merealisasikan mimpi-mimpi besarnya. Apapun hasilnya!


Share:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com