INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 25 Februari 2018

Akhir Obsesi Wulan

Malam belum begitu larut, baru sekitar pukul setengah sepuluh malam. Karena hampir seharian silaturahmi ke beberapa teman, aku memutuskan untuk mampir ke rumah makan Padang yang ada di daerah Blimbing, pinggiran utara kota Malang. Bersama adikku yang setia menemaniku – sekaligus menjadi sopir – selama libur mudik ke Malang, aku menikmati menu makanan yang sudah biasa aku santap di Jakarta.
Selagi makan, tanpa aku sadari seorang perempuan separoh baya ditemani gadis umur 20-an tahun, berhenti di samping meja tempat aku makan sambil tersenyum dan menyapa, “Selamat malam, maaf ini Sugeng, kan? Aku Wulan, teman SMP dulu, ingat nggak?”
Aku menoleh ke arah suara, dan tersenyum sambil mengangguk. Aku ingat, dua perempuan ini tadi hampir bersamaan masuk ke rumah makan dengan aku, tapi mereka mengambil tempat di meja ujung dekat kasir. Jujur, rangkaian kalimat yang diucapkan itu membuatku berfikir keras, karena memang aku lupa siapa Wulan ini. Setelah berbasa-basi sejenak, aku baru ngeh kalau Wulan memang pernah menjadi teman sekelasnya waktu di SMP, kalau tidak salah kelas 2. Dan malam itu kami sempat bertukar nomor telepon, sekedar untuk menyambung tali silaturahmi sebagai teman lama.
Hampir lima bulan sejak bertemu di Malang itu, aku lupa dan tidak berkomunikasi lagi dengan Wulan, apalagi kesibukan aktivitas keseharianku di Jakarta yang begitu padat. Sampai suatu pagi, saat aku di perjalanan ke kantor, Wulan mengirim pesan via WhatsApp yang isinya mengabarkan bahwa ia sedang ada di Bogor, menghadiri acara wisuda putri bungsunya yang baru menyelesaikan kuliahnya di Institut Pertanian Bogor (IPB). “Kalau ada waktu datang ke Bogor ya, Geng. Reuni kecil-kecilan,” begitu Wulan menulis, yang aku balas bahwa aku akan usahakan datang seusai jam kantor.
Sore hari sepulang kerja, aku kontak Wulan, mengabarkan kalau aku sedang on the way ke Bogor, untuk menemuinya di hotel tempat ia dan keluarganya menginap. Dalam perjalanan itulah aku berusaha untuk merangkai ingatan masa SMP, setidaknya untuk mendapat gambaran siapa dan bagaimana Wulan teman sekelasku ini. Tak banyak yang bisa aku ingat, selain Wulan adalah gadis remaja berambut sebahu dan berwajah hitam manis, dengan tekad dan semangat tinggi untuk menempuh pendidikan. Rumahnya yang ada di pelosok kampung – sekitar lima kilometer dari SMP – ditempuh dengan jalan kaki setiap hari, pulang pergi.
Ingatan lain yang bisa aku dapat, saat kelas 1 dan 2 Wulan masuk kategori siswi aktif di kegiatan ekstrakurikuler dan selalu mendapat ranking kelas. Sayangnya, saat kelas 3 berubah drastis, Wulan jadi pendiam dan sering menyendiri, nilai-nilai pelajarannya pun sangat pas-pasan. Tidak ada yang tahu alasan pastinya kenapa berubah total, selain kabar desas-desus bahwa Wulan akan dinikahkan dengan pemuda pilihan orang tuanya selepas SMP.
Padahal, Wulan punya keinginan dan cita-cita tinggi menjadi seorang dokter, “Lulus SMP nanti saya akan pindah ke Surabaya, ikut Bu Dhe disana. Saya mau disekolahkan SMA dan kemudian kuliah di kedokteran, supaya bisa jadi dokter dan mengabdi di kampung saya yang terpencil itu,” ujar Wulan penuh semangat pada kami teman sekelasnya, suatu saat seusai pelajaran olahraga.
Tanpa terasa aku sampai di hotel tempat Wulan sekeluarga menginap, di sekitaran Jalan Pajajaran, Bogor. Sambutan hangat Wulan beserta 3 anaknya, plus 2 menantu dan 4 cucu, membuat capek perjalanan Jakarta-Bogor yang aku tempuh hampir 3 jam – karena bertepatan di jam macet pulang kerja – seperti langsung hilang. Setelah basa-basi menanyakan kabar keluarga, Wulan memperkenalkan anak-anaknya.
Dengan raut wajah yang penuh kebanggaan Wulan memperkenalkan putri pertamanya yang seorang dokter umum dan bersuamikan juga seorang dokter, dikaruniai 2 orang anak. Kemudian putra keduanya yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemda Kabupaten Pasuruan, ditemani istrinya yang dosen perguruan tinggi swasta di Malang, dan dikaruniai 2 anak juga.
Berikutnya putri ketiganya yang baru wisuda menjadi Sarjana Pertanian IPB, yang pernah aku lihat di Malang beberapa bulan sebelumnya. “Khusus yang ragil ini, biar menetap di kampung saja menemani ibunya, sekalian menularkan ilmunya pada petani disana. Masa punya tiga anak, sarjana semua, kok ya nggak ada yang mau berbakti pada kampungnya sendiri,” Wulan berucap sambil tersenyum dan merangkul putrinya, tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Melihat keberhasilan Wulan mendidik anak-anaknya sampai jadi semua, aku membayangkan Wulan dan suaminya hidup bahagia dan berkecukupan, walau aku tidak tahu siapa suami Wulan. Dan seperti bisa membaca pikiranku, Wulan melanjutkan ucapannya, “Kamu pasti mau bertanya tentang bapaknya anak-anak ini ya, Geng? Sudah tidak ada, meninggal pas si ragil umur 2 tahun, kecelakaan motor saat berangkat kerja ke pabrik rokok yang ada di Singosari itu lho!” Dan aku hanya bisa tersenyum sambil mengangguk.
Begitulah, aku berjumpa Wulan – teman SMP yang terakhir bertemu sekitar 30 tahun silam, saat acara perpisahan sekolah – hanya sekitar 30 menit. Banyak pertanyaan menggelayut di pikiranku, terutama bagaimana cara Wulan membesarkan putra-putrinya sampai bisa berhasil sedemikian rupa, tanpa didampingi seorang suami? Bukankah keluarga Wulan juga hidup sangat sederhana? Juga, pertanyaan-pertanyaan lain yang silih berganti muncul saat aku dalam perjalanan kembali ke Jakarta.
Barulah sekitar 2 minggu kemudian, saat Wulan menghubungi aku lagi via WA, beberapa pertanyaanku mulai sedikit terjawab. Lagi-lagi seperti tahu apa yang aku pikirkan, ternyata saat itu Wulan ingin bercerita perjalanan hidupnya dalam membesarkan anak-anaknya.
“Aku yakin kamu ingin tahu bagaimana aku berjuang sendiri membesarkan anak, sampai mereka sukses semua ya, Geng? Aku ingat saat sekolah dulu kamu itu paling kritis kalau mengajukan pertanyaan. Tak akan berhenti kalau belum terjawab semua. Maaf ya, waktu di Bogor kemarin aku belum sempat cerita,” tulis Wulan, yang dikirim dalam beberapa baris chat.
Aku hanya menjawab dengan satu dua kata dan beberapa iconic tertawa, serta memintanya bercerita saat aku istirahat makan siang saja.
Saat istirahat siang, Wulan benar-benar menghubungiku via WA, tetapi kali ini memakai aplikasi telepon. Dengan nada ceria – persis seperti Wulan yang aku kenal saat SMP – ia memancing pembicaraan dengan mengenang masa-masa sekolah di Malang dulu, menanyakan kabar beberapa teman yang sudah pindah ke luar daerah, dan akhirnya mengungkapkan kekecewaannya karena harus menuruti keinginan orang tuanya yang menikahkannya seusai lulus SMP, “Aku sangat sedih dan serasa kehilangan masa depan, karena cita-citaku musnah begitu saja. Tapi aku harus patuh pada kehendak orang tua, bagaimanapun juga pasti ada maksud baik dibalik semua itu. Itulah penyebab aku tidak semangat sekolah lagi saat di kelas tiga,” ucap Wulan, dengan suara agak tertahan.
Seperti yang ia ceritakan lebih lanjut, Wulan akhirnya hanya menjadi ibu rumah tangga, dan berharap kelak ada putra-putrinya yang bisa melanjutkan cita-citanya menjadi dokter, “Atau sarjana apa saja yang bisa mendarma baktikan ilmunya untuk kemajuan kampungnya,” ujar Wulan.
Namun Allah punya kehendak lain, suaminya diambil-Nya lebih dulu, saat Wulan perlu biasa besar untuk pendidikan anak-anaknya yang masih kecil. “Dunia seperti runtuh, Geng. Aku tak bisa berfikir apa-apa lagi dan sakit untuk beberapa minggu, anak-anak diasuh ibuku. Sampai akhirnya aku memutuskan mencari kerja, apa saja. Rumah peninggalan suami aku jual, aku kembali ke rumah orang tua agar anak-anak ada yang bantu merawat. Akhirnya aku dapat kerjaan sebagai penjaga toko kain di pasar Tumpang,” suara Wulan hampir tak terdengar, kecuali Isak tangis yang tertahan.
Untuk menetralisir suasana, aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Tapi Wulan terus melanjutkan ceritanya, “Menjadi penjaga toko hanya bertahan tiga tahun, karena si bungsu sudah masuk TK, sedang kakaknya kelas 3 dan 6 SD, perlu biaya besar. Untungnya saat itu ada famili dari bapak yang mengajak kerja di Jakarta, jadi pembantu. Aku langsung menerima. Kebetulan majikannya adalah salah satu pejabat menteri yang istrinya orang asli Malang, jadi cari pembantu yang juga orang Malang,” ucapan Wulan kali ini bernada semangat.
Dalam penuturan berikutnya, Wulan merasa beruntung karena majikannya baik dan berempati pada musibah yang menimpa keluarganya, “Biaya pendidikan anak-anak banyak dibantu majikanku, karena Beliau juga punya prinsip yang sama denganku, bahwa anak pembantu tidak harus jadi pembantu juga. Kalau bisa, harus sekolah setinggi mungkin, agar bisa mengangkat derajat orang tuanya. Kamu tahu Geng, sejak saat itu pula aku jadi semakin rajin dan semangat dalam bekerja, agar tidak mengecewakan majikan yang sudah membantu pendidikan anak-anakku.”
Tujuh tahun kemudian, tepat anak pertamanya mulai kuliah, Wulan sudah menjadi kepala bagian rumah tangga merangkap asisten pribadi majikannya, yang sudah pensiun jadi pejabat negara. “Majikanku yang laki-laki pensiun dan mengurus bisnis hotel di Bandung, sedang istrinya punya usaha catering bersama salah satu putrinya. Alhamdulillah aku diminta jadi asisten pribadi Beliau, setelah diikutkan pelatihan dan pendidikan singkat untuk menambah pengetahuanku. Dan atas permintaan Beliau pula, anak sulungku melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran salah satu universitas di Surabaya.”
Bak cerita telenovela yang berliku, genap sepuluh tahun kerja di Jakarta, Wulan sudah dipercaya memegang salah satu cabang catering di Surabaya, “Alasan ibu majikan, karena aku asli Jawa Timur. Jadi menguasai dan tahu wilayah Surabaya dan sekitarnya. Lagipula, biar aku bisa dekat dengan anak-anakku yang perlu perhatian lebih besar. Aku benar-benar bersyukur saat itu. Tidak menyangka saja!” nada bicara Wulan sudah ceria kembali.
Yang kemudian dilanjutkan, “Empat tahun pegang cabang Surabaya, ternyata berkembang pesat. Aku memutuskan berhenti dan mohon izin pada ibu majikan untuk buka catering sendiri di Malang. Beliau setuju dan mendukung penuh. Dari usaha sendiri inilah anak-anakku akhirnya bisa menyelesaikan pendidikannya, Alhamdulillah.”
Hampir satu jam Wulan bercerita lewat telepon, dan aku lebih banyak menjadi pendengar setia. Sebelum benar-benar mengakhiri, Wulan berucap, “Akhirnya aku meyakini, Allah memang Maha Segalanya, Geng. Kekecewaanku masa SMP dibalas dengan tuntas dengan keberhasilan anak-anakku. Tak ada yang tak mungkin kalau kita punya kemauan dan usaha keras. Terima kasih ya Geng, sudah mau mendengar curhatanku.”
***
Begitulah, pertemuan kembali dan pembicaraan via telepon dengan Wulan – teman sekolahku di SMP – sekitar empat tahun silam itu kembali muncul di ingatanku, saat tadi malam melihat timeline Facebook-ku yang salah satunya memuat foto Wulan sedang menimang cucu ke-5 yang baru lahir, dari putri bungsunya. Ya, memang Wulan menjadi teman FB-ku sejak beberapa hari setelah curhat via WA itu. Menyertai foto di FB tersebut, Wulan menulis caption “Hari ini, obsesi itu tuntas dengan sempurna. Terima kasih ya Allah!”
Meski aku tak paham yang dimaksud tulisan itu, tapi aku mengartikan bahwa obsesi Wulan untuk 'mengangkat derajatnya' lewat kesuksesan anak-anaknya – hasil upaya kerja kerasnya mencari nafkah sendirian – sudah dituntaskan. Sengaja aku tidak menulis komentar di status dan foto itu, agar Wulan bisa menikmati kebahagiaannya dengan utuh. Salut, Wulan!

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai karyawan swasta yang tinggal di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com