INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Rabu, 28 Maret 2018

Bang Ripin Bermodal Ulet dan Sabar

“Besok..!” begitulah kata bahasa Indonesia yang paling sering kami teriakkan – anak-anak Dusun Krajan, Desa Pakisjajar, sebuah desa yang ada di sebelah timur Kabupaten Malang (Jawa Timur) – yang diajarkan orang tua kami, setiap Bang Ripin mendatangi rumah kami. Mungkin juga itu satu-satunya kata bahasa Indonesia yang kami kenal saat itu, karena kalau toh Bang Ripin ngomong dan bertanya apapun, jawaban kami tetap 'besok'.
Ya, Bang Ripin adalah warga pendatang dari Bandung – setidaknya begitu kalau memperkenalkan diri pada warga di desaku – yang bekerja menawarkan barang-barang keperluan rumah tangga, dengan pembayaran bisa dicicil secara harian. Pada saat itu, kalau tidak salah sekitar tahun 1974, Bang Ripin dikenal sebagai ‘mendreng’ yang bisa jadi dari bahasa Belanda mindering yang artinya kredit.
Penampilan Bang Ripin yang murah senyum dan ramah, mudah dikenali karena logat bicaranya yang kental aksen Sunda, meski keseharian selalu menggunakan bahasa Indonesia. Pun tubuhnya yang kurus tinggi – kumis tebal, ditambah cara berpakaian yang rapi dan selalu bersandal kulit – serta membawa tas kecil berisi beberapa buku catatan, menjadi ciri khas yang mudah dikenali anak-anak seusiaku, yang saat itu rata-rata masih duduk di sekolah TK.
Oh iya, teriakan 'besok' adalah tanda bahwa orang tua kami (baca: ibu) belum ada uang untuk bayar cicilan harian. Biasanya, kalau dari jauh kami lihat Bang Ripin datang, kami langsung pulang ke rumah masing-masing untuk menanyakan ke ibu, harus teriak 'besok' apa tidak. Bila kami harus bilang 'besok' – dan itu harus di depan pintu – pada saat yang sama ibu sedang sembunyi di dapur atau di kamar. Begitulah, kata 'besok' menjadi satu-satunya bahasa Indonesia yang kami hapal saat itu.
Uniknya, meski kami teriak 'besok', Bang Ripin tidak marah, bahkan tersenyum sambil mengusap kepala kami, dan sesekali mengucap beberapa kata bahasa Indonesia yang kami tidak mengerti. Sepertinya Bang Ripin sudah maklum kondisi keuangan rata-rata keluarga di desa kami, dan sebenarnya juga tahu kalau ibu ada dan sembunyi di dalam rumah.
Buktinya, meski banyak yang sering nunggak, barang yang dibawa Bang Ripin – dipikul oleh orang yang membantu Bang Ripin – makin hari makin bertambah. Barang yang awalnya hanya gelas, sendok, ember plastik, dan beberapa alat memasak, akhirnya bertambah dengan setrikaan, kompor minyak, ditambah oven arang.
Tanpa disadari, Bang Ripin telah membuat warga desaku selangkah lebih maju dalam hal kepemilikan peralatan rumah tangga, sesuatu yang sebelumnya sulit untuk dibeli. Contoh kecil, banyak keluarga yang awalnya memakai mug kecil (gelas dari seng), akhirnya beralih ke gelas kaca ataupun cangkir. Ini karena bisa ambil di Bang Ripin satu lusin atau setengahnya, dan dibayar harian dalam jangka waktu 30 atau 45 hari. Padahal kalau beli di pasar kecamatan atau kota harus bayar tunai dan itu jelas mahal, sesuatu yang pasti tidak akan terjangkau.
Bahkan, dua tahun sejak kedatangan Bang Ripin, di desaku sangat jarang ditemui saat menjelang lebaran orang saling meminjam oven arang untuk membuat kue. Rata-rata sudah punya oven sendiri, yang didapat dari membeli sistim cicil ke Bang Ripin. Padahal, tahun-tahun sebelumnya sebuah oven tiap hari bisa pindah dari rumah ke rumah lainnya, bergiliran untuk membuat kue kering. Jadi tak heran selama bulan puasa tiap hari ada saja bau harum kue dari rumah-rumah yang sedang membakar kue.
Menjelang tahun ke tiga – saat itu aku baru naik ke kelas 2 SD – Bang Ripin keliling menagih sudah menaiki sepeda dayung, demikian juga asistennya juga menggunakan sepeda yang kiri kanan boncengannya ada keranjang besar berisi berbagai macam perabot. Juga jadwal kelilingnya yang sebelumnya pagi dan siang, menjadi siang hari saja. Tak lupa penampilannya Bang Ripin pun ikut-ikutan berubah. Rambut ikal sebahunya klimis dengan minyak rambut, kumis dicukur rapi. Kemeja selalu dimasukkan ke celana, dan sandal kulit sudah berganti dengan sepatu hitam yang disemir mengkilat.
Demikianlah, dengan modal kesabaran dan keuletannya, Bang Ripin bisa menaklukkan warga di desaku melalui penjualan barang keperluan rumah tangga dengan cara kredit. Sebuah sistem perdagangan yang sebelumnya memang tidak begitu dikenal, kecuali pinjam uang sistem kredit yang menjurus ke rentenir, yang sudah familiar di masyarakat desa. Tentu tidak mudah, karena banyak kendala yang didapat Bang Ripin, terutama dari sisi bahasa dan kebiasaan yang ada di masyarakat – spesifik adat istiadat dan budaya – yang berbeda, yang harus dihadapi sendiri oleh Bang Ripin.
Keberhasilan Bang Ripin makin terlihat ketika di tahun ke lima bisa membeli rumah dan merenovasinya – di desa Pakiskembar, bersebelahan dengan desaku – dan menempatinya bersama istri dan 4 orang asistennya, yang didatangkan dari kampungnya di Jawa Barat. Kendaraannya pun juga bukan sepeda dayung lagi, tapi sepeda motor merek Honda yang saat itu lagi nge-trend. Urusan keliling, sudah diserahkan pada asistennya, Bang Ripin hanya mengurusi pengadaan barang sesuai pesanan, yang semakin banyak dan beragam.
Terlepas bahwa Bang Ripin adalah pionir 'tukang kredit' di desaku – dan nyatanya memang berhasil – ada hal yang patut dicermati, bahkan diacungi jempol. Setidaknya, dalam pandangan dari sisi ekonomi, Bang Ripin telah melakukan investasi melalui barang-barang yang diambil para pemesannya, dengan resiko terjadinya kemacetan dan wanprestasi, yang saat itu tidak terpikirkan oleh warga lokal.
Dan kalaupun perlu diberi catatan khusus, tiga hal yang menjadi kunci kesuksesan Bang Ripin adalah:
Pertama, kemampuan Bang Ripin membaca pasar, terutama kejeliannya melihat kebutuhan peralatan rumah tangga yang benar-benar diperlukan masyarakat desa, patut diapresiasi. Contoh konkretnya, adalah menawarkan kredit oven dan kompor yang saat itu harganya boleh dibilang relatif mahal.
Kedua, keuletannya menghadapi pola pikir masyarakat yang belum akrab dengan jual beli sistim cicilan harian, terutama keluarga yang berpenghasilan bukan dari dagang, atau yang tidak berpenghasilan tiap hari (harian). Tapi Bang Ripin tak gentar untuk menghadapinya dengan tetap memberikan dan menjadikan barang pada kelompok masyarakat golongan ini, meski ada pembatasan pagu kredit harga barang.
Ketiga, tentu saja kesabarannya dalam menyikapi sebagian besar konsumennya yang kurang kooperatif dalam melakukan pembayaran – dengan cara tidak menghadapi sendiri Bang Ripin jika sedang tidak punya uang – dan menyuruh anak-anak untuk bilang 'besok' seperti di awal tulisan ini.
Yang membuat aku salut, tak pernah terdengar ada konsumen Bang Ripin yang gagal bayar atau tidak bisa menyelesaikan kreditnya. Biasanya kalau ada yang sedikit macet, Bang Ripin menurunkan besar cicilan dan menambah hari masa cicilan. Sehingga barang tetap terbayar – meski lama – dan tak sampai menyita barang yang kreditnya macet. Ada win-win solution ala Bang Ripin.
***
Bersamaan dengan perkembangan jaman dan sistim perekonomian yang semakin maju, saat lulus SMA di tahun 1987, aku sudah tidak pernah melihat – ataupun mendengar – kiprah Bang Ripin lagi di desaku. Bisa jadi sudah diganti oleh para asisten dan para kolega serta generasi penerusnya, yang semakin banyak berdatangan dari daerah Tasikmalaya, asal Bang Ripin sebenarnya.
Atau, mungkin saja Bang Ripin ekspansi ke daerah pelosok desa lain yang memang belum 'dijamah' tukang kredit, yang nyatanya memang semakin banyak dan persaingan semakin ketat.
Dan itu – menjamurnya profesi tukang kredit – sudah lazim, karena setiap ada kesuksesan dalam satu hal pasti ada para pengikut (follower) yang mencoba dan berharap bisa mengikuti jejak pionirnya, dengan melakukan hal yang sama persis.
Tapi, untuk menjadi mindering selevel Bang Ripin, rasanya sulit. Karena, untuk follower bukan saja diperlukan kesabaran dan keuletan semata, tetapi juga kerja keras dan strategi menghadapi persaingan menjadi point penting yang harus dipunyai. Artinya, pionir seperti Bang Ripin, tak akan pernah ada yang bisa menyamai, diakui atau tidak!

Share:

Minggu, 25 Maret 2018

Maafkan Kami, Miss Endah

Makan malam yang agak terlambat – karena seharian harus mengikuti serangkaian acara Hari TB Sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret 2018, hari ini – membuatku tak begitu berselera. Selain penat, tiba-tiba muncul banyak hal yang membuatku merasa ‘bersalah’ karena kurang peduli pada masalah kesehatan di lingkungan sekitarku.
Setidaknya, dalam tiga tahun terakhir bergabung jadi relawan penanggulangan TB, membuatku makin paham bahwa ancaman bahaya kematian akibat penyakit Tuberkulosis (TB), begitu dekat dengan kita.
Share:

Minggu, 11 Maret 2018

Jangan Menyerah, Yasmin!

Seperti selalu berulang, kisah nyata yang rutin aku tulis di fanpage – dengan tujuan untuk menginspirasi pembaca – menarik beberapa teman, agar perjalanan hidupnya juga bisa dimuat di rubrik ini. Meski sudah aku jelaskan bahwa ada kriteria khusus untuk bisa masuk di rubrik yang memasuki tahun ke-3 ini, tapi rata-rata meyakinkan aku bahwa kisah hidupnya juga bisa dijadikan pelajaran dan menginspirasi orang lain.
Tak terkecuali Yasmin – aku memanggilnya begitu, alasannya nanti ada di bagian lain tulisan ini – yang untuk kedua kalinya mengingatkan aku, untuk menuliskan kisah hidupnya. “Sebagai kado istimewa ulang tahun Yasmin, Mas,” begitu tulis perempuan yang minggu ini memang berulang tahun ke-40, melalui media sosial WhatsApp (WA). Aku sangat paham, kata ‘istimewa’ adalah untuk menggambarkan betapa berat beban yang harus dipikul perempuan yang bekerja sebagai Head Officer di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, terutama masalah kehidupan pribadinya.
Aku mengenal Yasmin cukup lama, bahkan ketika usianya masih remaja, sekitar 22 tahun, di tahun 2000-an. Saat itu ia baru diterima sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan ternama di kawasan Jakarta Timur, tempatku bekerja. Yasmin yang berpenampilan ceria khas gadis seusianya – ditopang tubuh langsing, dengan tinggi badan sekitar 170 centimeter, dan berambut lurus sepunggung – memang cepat dikenal di lingkungan kantor, apalagi wajah cantiknya mirip-mirip remaja Jepang atau Korea.
Dan aku makin mengenal pribadi Yasmin – secara tidak langsung – dari teman sejawatku, yang berhasil menjadi pacar Yasmin setelah berjuang beberapa bulan untuk mendapatkan cintanya. Budiman, temanku itu, sering curhat setiap ada masalah dengan Yasmin, mulai dari hal yang kecil-kecil sampai rencana masa depan mereka berdua. Budiman merasa nyaman curhat padaku, mungkin karena selain seusia, ia juga mempunyai level jabatan yang sama denganku, meski departemen yang berbeda.
Sayangnya, ketika Budiman – yang usianya lebih tua 8 tahun dari Yasmin – siap melangkah ke jenjang pernikahan, petaka justru terjadi. Hubungan mereka bubar. Menurut Budiman, pihak keluarga Yasmin-lah yang memutuskan sepihak. Kekecewaan Budiman yang sangat mendalam terus berlanjut, sampai memilih untuk resign dari perusahaan dan langsung menikah dengan gadis lain, yang kabarnya masih satu kampung dengannya. Sebelum meninggalkan perusahaan, Budiman sempat banyak cerita tentang sisi negatif Yasmin. “Dia keras kepala, egois dan cenderung materialistik,” begitu sebagian yang sempat diucapkan Budiman.
Sejak itu, hampir empat atau lima tahun aku tidak lagi mendengar kabar tentang Yasmin, meski dalam kesempatan acara tertentu di perusahaan aku masih sesekali melihatnya. Sampai akhirnya aku pindah ke departemen baru, yang mengharuskan berhubungan dengan departemen tempat Yasmin, untuk urusan perizinan produk.
Karena urusan pekerjaan itu pula, aku mulai mengenal Yasmin secara langsung, yang ternyata banyak berseberangan dengan apa yang diceritakan Budiman sebelumnya. Boleh dikata Yasmin adalah pribadi yang menyenangkan, suka bercanda dan cepat familiar dengan teman sekerja. Aku menyimpulkan demikian karena seringnya bertemu Yasmin, terutama saat akan meregistrasi produk-produk yang akan di edarkan di pasaran. Tentu saja hubunganku dengan Yasmin sebatas profesional kerja semata, apalagi saat itu aku sudah berkeluarga dan mempunyai satu orang putri cantik berusia 7 tahun.
Sayangnya, meski mempunyai penampilan dan wajah yang terbilang cantik, Yasmin sangat tertutup untuk masalah hubungan asmara. Berbeda jauh dengan rekan sekerja lain yang seusia, yang sangat terbuka dengan hal-hal seperti ini. Bahkan, hampir enam tahun sebagai mitra kerja, aku belum pernah mendengar cerita tentang hubungan pribadi Yasmin dengan lawan jenisnya. Dan kalau aku tanya tentang hal ini, Yasmin hanya menjawab singkat, “Belum ada yang mau Mas, lagian Yasmin juga mau sendiri dulu kok,” begitu alasannya, dan selalu berulang.
Sampai suatu saat, sekitar tahun 2010 – usia Yasmin saat itu 32 tahun – aku bertemu di acara pernikahan teman kantor, yang kebetulan aku diminta ikut membantu tuan rumah. Yasmin datang bersama orang tuanya. Pada satu kesempatan di acara hajatan itu, secara bergurau aku menanyakan kesendirian Yasmin pada ibunya yang sudah aku kenal, “Coba Bu, hanya tinggal Reny itu saja teman Yasmin di kantor yang masih bujangan, dan hari ini dia menikah. Terus kapan nih Yasmin menyusul?” aku berkata sambil menunjuk Reny yang duduk di pelaminan. Ibu Yasmin hanya tersenyum sedikit hambar, sambil melirik anaknya yang duduk di sebelahnya.
Sejenak kemudian, “Ibu sudah tidak kurang minta Yasmin segera menikah. Umurnya sudah cukup, pekerjaan sudah mapan, terus terang ibu dan bapak juga pengen segera menimang cucu dari Yasmin,” ibu Yasmin bicara dengan nada serius. Dan seperti biasa, Yasmin langsung berucap, “Iya Ibu, tapi belum ada yang mau serius sama Yasmin. Ya sabar dong, masa mau dipaksain sih?” Yasmin sedikit merajuk. Dan nampaknya, itu pertemuan terakhirku dengan Yasmin, sebagai teman sekerja. Karena sebulan kemudian Yasmin resign dari perusahaan.
Entah berapa lama, sudah agak lupa – mungkin lima atau enam tahun kemudian – saat aku juga sudah resign dari perusahaan lama, secara kebetulan aku melihat akun facebook (FB) Yasmin yang lama tidak di update, yang langsung aku inbox untuk menanyakan kabar beritanya. Sengaja via FB, karena nomor telepon dan WA-nya tidak pernah aktif saat aku hubungi. Dari jawaban yang ditulis satu minggu kemudian, aku mendapat informasi bahwa Yasmin sudah menduduki posisi yang cukup bagus di tempat kerjanya, meski di sisi lain ternyata dia masih belum juga mendapatkan jodoh. “Sedih juga Mas, teman-teman seusia sudah pada menikah, tapi Yasmin belum juga mendapatkan pendamping,” tulisnya, seperti curhat.
Dari komunikai berikutnya, via telepon maupun WA, Yasmin sering mengungkapkan bahwa dia tidak kurang-kurang melakukan ikhtiar agar cepat mendapatkan jodoh, “Mulai dari sharing pengalaman dengan teman-teman yang sudah menikah, minta pendapat ke ustadz ataupun ustadzah, datang ke orang pintar, sampai dikenalkan pada cowok yang dianggap cocok sama Yasmin, tapi semuanya mentok. Setiap ada yang dekat dan sudah siap ke hubungan serius, selalu berakhir putus dengan alasan yang tidak jelas. Padahal Yasmin tidak pernah menuntut yang macam-macam ataupun pilih-pilih. Sampai Yasmin kadang bertanya sendiri, ada apa pada diri Yasmin sebenarya? Dosa apa yang sudah Yasmin lakukan?” papar Yasmin dengan panjang lebar, suatu ketika dengan nada emosi bercampur sedih.
Hingga, karena aku sudah kehabisan saran, Yasmin sempat aku tanya, apakah pernah ada upaya lain seperti ruqiyah misalnya – karena aku pernah punya teman sampai usia 48 tahun belum menikah, tapi setelah di ruqiyah akhirnya dapat jodoh – Yasmin justru mengatakan bahwa sudah banyak juga yang menyarankan begitu. “Kalau menurut Mas gimana?” tanya Yasmin kemudian, balik bertanya. Yang langsung aku jawab, “Hanya Yasmin yang bisa menjawab perlu atau tidaknya, dan sebaiknya konsultasikan juga dengan ibu dan bapak. Tak ada salahnya untuk mencoba, kalau itu demi kebaikan Yasmin.”
***
Begitulah, sejak peristiwa 18 tahun silam gagal melangkah ke pelaminan bersama Budiman, Yasmin seperti jauh dari jodoh. Berbagai upaya telah dilakukan, baik olehnya maupun orang tuanya, tetapi tetap kandas setiap akan menuju jenjang pernikahan. Aku juga tak paham, faktor apa yang membuatnya seperti itu, apakah ada faktor non teknis ataukah hal diluar nalar, aku juga tidak tahu.
Nyatanya, meski boleh dibilang akrab – kalau dihitung saat masih satu kantor dulu – dan dimataku Yasmin adalah gadis ideal yang sepertinya tidak sulit untuk mencari jodoh, realitanya memang berbeda seratus delapan puluh derajat. Ia selalu gagal mendapatkan jodoh, tepat menjelang hubungan serius ke pelaminan.
Yang pasti, Yasmin – aku memanggilnya demikian, karena suara khasnya yang agak sengau dan manja mirip-mirip Jasmine Pratiwi, penyiar TPI (MNC-TV), idolaku – meski terkesan pasrah perihal jodohnya yang tak juga datang, nyatanya masih punya satu harapan dan optimisme untuk mendapatkan jodoh, meski entah kapan. “Aku gak tahu Mas, kapan jodohku itu akan datang, biarlah aku sabar menunggu, sampai kapanpun..,” begitu yang ditulis Yasmin via WA, awal pekan lalu.
Ya, jangan menyerah, Yasmin. Setidaknya, dengan ditulis di rubrik ini, ada harapan untuk mendengar suara dari pembaca – yang siapa tahu berempati – untuk berbagi saran. Dan itu, tentu bisa menjadi masukan yang berharga bagi Yasmin. Mudah-mudahan!
Share:

Minggu, 04 Maret 2018

Derita Masa Senja Oma Magda

Mengisi libur akhir pekan tak selalu dengan jalan-jalan. Setidaknya itu yang aku lakukan, saat masih tinggal di rumah kontrakan – sebuah kampung di Ciracas, pinggiran Jakarta Timur – yang masih asri, sekitar akhir tahun 1990-an. Karena di hari Minggu, memang sering ada kegiatan kerja bakti warga atau pengajian ibu-ibu, sehingga aku dan istri mau tak mau harus ada di rumah, untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dan biasanya, setelah kerja bakti di pagi hari, aku gunakan bercengkerama santai di teras rumah, bersama istri yang baru aku nikahi beberapa bulan sebelumnya.
Karena kebiasaan itu pula, aku jadi hapal dengan tetangga dan pedagang yang sering lewat depan rumah. Salah satunya adalah Nek Ida, pedagang buah keliling yang menjajakan dagangannya dengan cara meletakkan sebagian buah yang dijual – diantaranya pisang, mangga, jeruk, semangka dan salak – diatas nampan bulat terbuat dari anyaman bambu. Nampan itu, kadang diletakkan di atas kepala, kadang juga ditumpuhkan pada pinggangnya. Sementara di punggungnya ada keranjang buah yang diikat dengan kain menyilang di pundaknya.
Buah yang dijual Nek Ida – begitu orang-orang memanggilnya – juga bukan yang kualitas bagus. Karena meski dibeli dari pedagang buah di pasar induk Kramat Jati, Jakarta Timur, tetapi itu adalah buah afkir yang tak lolos sortir untuk didistribusikan ke pedagang buah di pasar tradisional. Tak heran kalau buah yang dijual Nek Ida tidak lagi utuh. Buah pisang misalnya, dijual secara satuan, bukan utuh satu sisir. Demikian juga buah jeruk Bali, sudah dikupas dan dibelah-belah, tidak utuh bulat.
Penampilan Nek Ida yang agak berbeda – selalu memakai daster, bukan kain dan baju kebaya seperti perempuan seusianya pada umumnya – ditambah topi yang biasa dipakai para cady golf, serta kulit dan wajahnya yang putih bersih, menjadi gampang dikenali. Meski sebenarnya kalau disimak lagi, Nek Ida belum lama terlihat jualan di lingkungan tempat tinggalku. “Seperti orang gedongan ya, Mas. Tidak pantas jadi pedagang buah keliling,” begitu kata istriku, suatu hari.
Dari istriku pula, aku sering dapat cerita kalau Nek Ida tidak setiap hari lewat depan rumah. Bisa dua atau tiga hari sekali, atau kadang seminggu lebih tidak lewat. “Saya pernah bertanya, tapi Nek Ida cuma bilang kalau dia juga keliling ke kampung lain, jadi tidak selalu lewat sini. Lagipula, kayaknya dia bukan asli orang Betawi deh, Mas. Lihat bicara dan bahasa Indonesianya yang bagus, juga pengetahuannya yang luas banget, jadi enak kalau ngobrol dengan dia,” begitu cerita istriku di lain waktu.
Sebenarnya aku dan istriku tidak pernah membahas khusus tentang Nek Ida. Tetapi menjadi sering masuk topik pembicaraan, karena istriku yang saat itu sedang hamil anak pertama mudah sewot gara-gara nenek itu. Penyebabnya sepele, istriku sering pesan mangga muda pada nenek yang usianya sekitar 65 tahun itu, tapi tidak terpenuhi karena Nek Ida ternyata besok harinya tidak lewat depan rumah, meski ditunggu sampai sore.
Biasanya, kalau sudah sewot begitu – dan itu selalu terjadi malam hari saat aku baru pulang dari kerja – aku hanya bisa mencoba menyabarkannya, “Ya sudah, nanti-nanti kalau ngidam pengen buah mangga muda lagi, telpon Mas di kantor. Pulang kerja pasti Mas belikan, nanti Mas bisa turun sebentar di Pasar Rebo untuk beli buah kok,” ujarku pada istriku yang sengaja memutuskan berhenti bekerja setelah menikah, sambil aku rangkul pundaknya.
Hari-hari berikutnya, aku sudah mulai jarang mendengar cerita tentang Nek Ida, apalagi aku juga memenuhi janji pada istri untuk membelikan buah yang diinginkannya di kios buah yang banyak berjajar di sepanjang trotoar perempatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, saat aku pulang kerja. Bahkan pada saat memasuki kehamilan bulan ke-5, istriku malah keranjingan makan buah kiwi, yang mau tak mau aku harus beli di pusat perkulakan Makro – hanya disitu yang jual – yang lokasinya masih ada di sekitar wilayah Pasar Rebo. Lokasi yang aku lewati setiap hari, saat berangkat dan pulang kerja, dari rumah di Ciracas ke kantor di Jalan Gatot Subroto, Pancoran, Jakarta Selatan.
***
Entah di hari dan bulan apa – yang kuingat saat itu hanya beberapa hari menjelang acara tujuh bulan kehamilan istriku – pada saat aku pulang kerja, istriku tergopoh-gopoh menyambutku. Belum sempat aku menyentuh gelas berisi teh manis hangat yang sudah disiapkan di meja makan, istriku langsung bicara, “Mas, ada cerita menarik hari ini, tentang Nek Ida!” ucapan istriku begitu semangat dan intonasinya agak tinggi, seolah itu adalah berita penting yang harus segera aku dengar dan simak. Aku hanya tertawa geli, sambil berucap, “Emang semenarik apa sih? Tumben mau ngomongin Nek Ida lagi?”
Sambil meminta aku duduk di kursi makan – dan tangannya dengan cekatan menyajikan makan malam yang sudah disiapkan di meja makan – istriku menyampaikan informasi bahwa tadi siang ada tamu seorang bapak ditemani 3 orang, bertamu ke rumah. Satu orang mengaku dari kepolisian, satu orang dari Panti Werdha, dan satunya lagi Pak RT, bermaksud tanya-tanya tentang Nek Ida.
“Mereka datang kemari, karena Pak RT tahunya kita sering pesan buah pada Nek Ida. Dan bapak itu adalah anak tunggal Nek Ida, Mas,” ucap istriku dengan semangat. “Dan tahu nggak Mas, anak Nek Ida itu ternyata orang kaya yang tinggal di perumahan Kota Wisata, yang di Cibubur itu lho. Katanya kerjanya di perusahaan tambang di Kalimantan Selatan,” ucap istriku lagi, dengan masih tetap bersemangat.
Sambil menemani aku makan malam, istriku terus bercerita, bahwa awalnya Nek Ida – yang di lingkungan keluarganya dipanggil Oma Magda, karena nama aslinya Magdalena – tinggal di Semarang bersama suaminya yang purnawirawan TNI Angkatan Laut. Setelah suaminya meninggal, Oma Magda diminta anak tunggalnya tinggal bersamanya di Cibubur. Tapi Oma Magda merasa tidak cocok dengan menantu dan 2 orang cucunya yang sudah mahasiswa. Apalagi anak lelakinya itu juga sangat jarang ada di rumah, karena harus mengurus proyeknya yang ada di Kalimantan.
“Akhirnya atas usul menantunya, Oma Magda dititip di Panti Werdha yang ada di Ciracas itu lho Mas, biar punya banyak teman yang seusia katanya,” papar istriku, sambil beranjak ke dapur, membawa piring dan mangkok kotor.
Saat kembali ke meja makan – dan aku masih duduk disitu sedang mengupas jeruk – istriku melanjutkan ceritanya, “Tega banget mereka itu ya, Mas. Masak orang tua sendiri dibuang gitu, kan mereka bisa aja mengambil dan membayar perawat yang bisa menemani Oma Magda di rumah. Atau cari cara gimana supaya orang tuanya betah di rumah gitu kek,” kali ini ada nada jengkel pada ucapan istriku.
Yang langsung menambahkan lagi, bahwa selama ini Oma Magda sering kabur dari Panti Werdha, memilih berjualan buah keliling kampung – modalnya dari uang yang selalu dikirim anaknya – dan malamnya memilih menginap di depan warung atau toko di area terminal Kampung Rambutan. "Hebat juga Oma Magda itu, lari dari Panti dan naik angkot ke pasar induk Kramat Jati, terus jualan keliling ke kampung-kampung, itu kan lumayan jauh untuk seorang nenek seusianya,” kali ini istriku berkata sambil menghela nafas.
Aku tak banyak menanggapi cerita istriku yang sepertinya cukup seru. Aku hanya membayangkan, ternyata selama ini Nek Ida – atau Oma Magda, sesuai nama aslinya – selalu berpindah jualan buah keliling dari satu kampung ke kampung lain hanya untuk mencari kegiatan dan menghindari kembali ke Panti Werdha. Dia lebih memilih bersusah payah berjualan yang belum tentu menghasilkan keuntungan, daripada hidup di rumah mewah anaknya sendiri, atau juga berkumpul dengan orang-orang seusianya, walau semua kebutuhan terjamin. Sepertinya Oma Magda di masa tuanya lebih memilih susah secara lahiriah, tetapi menemukan kebahagiaan secara batin. Mungkin begitu.
Dan aku juga tidak ingin bertanya lebih lanjut ke istriku, apa rencana bapak-bapak yang tadi siang bertamu kalau sudah menemukan kembali Oma Magda. Aku hanya berucap lirih pada istriku, “Semoga kita nanti tidak mengalami hal serupa. Ini pelajaran berharga, nyatanya sebuah kebahagiaan itu tidak bisa diukur oleh kekayaan yang melimpah semata. Kita doakan saja Oma Magda bisa segera ditemukan, dan anak tunggalnya itu mendapat hidayah dari Allah untuk segera menyadari kesalahan terbesar dalam hidupnya, dengan menelantarkan ibu kandungnya sendiri.” Istriku mengangguk mengiyakan, sambil tersenyum padaku, yang terlihat semakin cantik sejak hamil anak pertama kami.
Share:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai karyawan swasta yang tinggal di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com