INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Rabu, 28 Maret 2018

Bang Ripin Bermodal Ulet dan Sabar

“Besok..!” begitulah kata bahasa Indonesia yang paling sering kami teriakkan – anak-anak Dusun Krajan, Desa Pakisjajar, sebuah desa yang ada di sebelah timur Kabupaten Malang (Jawa Timur) – yang diajarkan orang tua kami, setiap Bang Ripin mendatangi rumah kami. Mungkin juga itu satu-satunya kata bahasa Indonesia yang kami kenal saat itu, karena kalau toh Bang Ripin ngomong dan bertanya apapun, jawaban kami tetap 'besok'.
Ya, Bang Ripin adalah warga pendatang dari Bandung – setidaknya begitu kalau memperkenalkan diri pada warga di desaku – yang bekerja menawarkan barang-barang keperluan rumah tangga, dengan pembayaran bisa dicicil secara harian. Pada saat itu, kalau tidak salah sekitar tahun 1974, Bang Ripin dikenal sebagai ‘mendreng’ yang bisa jadi dari bahasa Belanda mindering yang artinya kredit.
Penampilan Bang Ripin yang murah senyum dan ramah, mudah dikenali karena logat bicaranya yang kental aksen Sunda, meski keseharian selalu menggunakan bahasa Indonesia. Pun tubuhnya yang kurus tinggi – kumis tebal, ditambah cara berpakaian yang rapi dan selalu bersandal kulit – serta membawa tas kecil berisi beberapa buku catatan, menjadi ciri khas yang mudah dikenali anak-anak seusiaku, yang saat itu rata-rata masih duduk di sekolah TK.
Oh iya, teriakan 'besok' adalah tanda bahwa orang tua kami (baca: ibu) belum ada uang untuk bayar cicilan harian. Biasanya, kalau dari jauh kami lihat Bang Ripin datang, kami langsung pulang ke rumah masing-masing untuk menanyakan ke ibu, harus teriak 'besok' apa tidak. Bila kami harus bilang 'besok' – dan itu harus di depan pintu – pada saat yang sama ibu sedang sembunyi di dapur atau di kamar. Begitulah, kata 'besok' menjadi satu-satunya bahasa Indonesia yang kami hapal saat itu.
Uniknya, meski kami teriak 'besok', Bang Ripin tidak marah, bahkan tersenyum sambil mengusap kepala kami, dan sesekali mengucap beberapa kata bahasa Indonesia yang kami tidak mengerti. Sepertinya Bang Ripin sudah maklum kondisi keuangan rata-rata keluarga di desa kami, dan sebenarnya juga tahu kalau ibu ada dan sembunyi di dalam rumah.
Buktinya, meski banyak yang sering nunggak, barang yang dibawa Bang Ripin – dipikul oleh orang yang membantu Bang Ripin – makin hari makin bertambah. Barang yang awalnya hanya gelas, sendok, ember plastik, dan beberapa alat memasak, akhirnya bertambah dengan setrikaan, kompor minyak, ditambah oven arang.
Tanpa disadari, Bang Ripin telah membuat warga desaku selangkah lebih maju dalam hal kepemilikan peralatan rumah tangga, sesuatu yang sebelumnya sulit untuk dibeli. Contoh kecil, banyak keluarga yang awalnya memakai mug kecil (gelas dari seng), akhirnya beralih ke gelas kaca ataupun cangkir. Ini karena bisa ambil di Bang Ripin satu lusin atau setengahnya, dan dibayar harian dalam jangka waktu 30 atau 45 hari. Padahal kalau beli di pasar kecamatan atau kota harus bayar tunai dan itu jelas mahal, sesuatu yang pasti tidak akan terjangkau.
Bahkan, dua tahun sejak kedatangan Bang Ripin, di desaku sangat jarang ditemui saat menjelang lebaran orang saling meminjam oven arang untuk membuat kue. Rata-rata sudah punya oven sendiri, yang didapat dari membeli sistim cicil ke Bang Ripin. Padahal, tahun-tahun sebelumnya sebuah oven tiap hari bisa pindah dari rumah ke rumah lainnya, bergiliran untuk membuat kue kering. Jadi tak heran selama bulan puasa tiap hari ada saja bau harum kue dari rumah-rumah yang sedang membakar kue.
Menjelang tahun ke tiga – saat itu aku baru naik ke kelas 2 SD – Bang Ripin keliling menagih sudah menaiki sepeda dayung, demikian juga asistennya juga menggunakan sepeda yang kiri kanan boncengannya ada keranjang besar berisi berbagai macam perabot. Juga jadwal kelilingnya yang sebelumnya pagi dan siang, menjadi siang hari saja. Tak lupa penampilannya Bang Ripin pun ikut-ikutan berubah. Rambut ikal sebahunya klimis dengan minyak rambut, kumis dicukur rapi. Kemeja selalu dimasukkan ke celana, dan sandal kulit sudah berganti dengan sepatu hitam yang disemir mengkilat.
Demikianlah, dengan modal kesabaran dan keuletannya, Bang Ripin bisa menaklukkan warga di desaku melalui penjualan barang keperluan rumah tangga dengan cara kredit. Sebuah sistem perdagangan yang sebelumnya memang tidak begitu dikenal, kecuali pinjam uang sistem kredit yang menjurus ke rentenir, yang sudah familiar di masyarakat desa. Tentu tidak mudah, karena banyak kendala yang didapat Bang Ripin, terutama dari sisi bahasa dan kebiasaan yang ada di masyarakat – spesifik adat istiadat dan budaya – yang berbeda, yang harus dihadapi sendiri oleh Bang Ripin.
Keberhasilan Bang Ripin makin terlihat ketika di tahun ke lima bisa membeli rumah dan merenovasinya – di desa Pakiskembar, bersebelahan dengan desaku – dan menempatinya bersama istri dan 4 orang asistennya, yang didatangkan dari kampungnya di Jawa Barat. Kendaraannya pun juga bukan sepeda dayung lagi, tapi sepeda motor merek Honda yang saat itu lagi nge-trend. Urusan keliling, sudah diserahkan pada asistennya, Bang Ripin hanya mengurusi pengadaan barang sesuai pesanan, yang semakin banyak dan beragam.
Terlepas bahwa Bang Ripin adalah pionir 'tukang kredit' di desaku – dan nyatanya memang berhasil – ada hal yang patut dicermati, bahkan diacungi jempol. Setidaknya, dalam pandangan dari sisi ekonomi, Bang Ripin telah melakukan investasi melalui barang-barang yang diambil para pemesannya, dengan resiko terjadinya kemacetan dan wanprestasi, yang saat itu tidak terpikirkan oleh warga lokal.
Dan kalaupun perlu diberi catatan khusus, tiga hal yang menjadi kunci kesuksesan Bang Ripin adalah:
Pertama, kemampuan Bang Ripin membaca pasar, terutama kejeliannya melihat kebutuhan peralatan rumah tangga yang benar-benar diperlukan masyarakat desa, patut diapresiasi. Contoh konkretnya, adalah menawarkan kredit oven dan kompor yang saat itu harganya boleh dibilang relatif mahal.
Kedua, keuletannya menghadapi pola pikir masyarakat yang belum akrab dengan jual beli sistim cicilan harian, terutama keluarga yang berpenghasilan bukan dari dagang, atau yang tidak berpenghasilan tiap hari (harian). Tapi Bang Ripin tak gentar untuk menghadapinya dengan tetap memberikan dan menjadikan barang pada kelompok masyarakat golongan ini, meski ada pembatasan pagu kredit harga barang.
Ketiga, tentu saja kesabarannya dalam menyikapi sebagian besar konsumennya yang kurang kooperatif dalam melakukan pembayaran – dengan cara tidak menghadapi sendiri Bang Ripin jika sedang tidak punya uang – dan menyuruh anak-anak untuk bilang 'besok' seperti di awal tulisan ini.
Yang membuat aku salut, tak pernah terdengar ada konsumen Bang Ripin yang gagal bayar atau tidak bisa menyelesaikan kreditnya. Biasanya kalau ada yang sedikit macet, Bang Ripin menurunkan besar cicilan dan menambah hari masa cicilan. Sehingga barang tetap terbayar – meski lama – dan tak sampai menyita barang yang kreditnya macet. Ada win-win solution ala Bang Ripin.
***
Bersamaan dengan perkembangan jaman dan sistim perekonomian yang semakin maju, saat lulus SMA di tahun 1987, aku sudah tidak pernah melihat – ataupun mendengar – kiprah Bang Ripin lagi di desaku. Bisa jadi sudah diganti oleh para asisten dan para kolega serta generasi penerusnya, yang semakin banyak berdatangan dari daerah Tasikmalaya, asal Bang Ripin sebenarnya.
Atau, mungkin saja Bang Ripin ekspansi ke daerah pelosok desa lain yang memang belum 'dijamah' tukang kredit, yang nyatanya memang semakin banyak dan persaingan semakin ketat.
Dan itu – menjamurnya profesi tukang kredit – sudah lazim, karena setiap ada kesuksesan dalam satu hal pasti ada para pengikut (follower) yang mencoba dan berharap bisa mengikuti jejak pionirnya, dengan melakukan hal yang sama persis.
Tapi, untuk menjadi mindering selevel Bang Ripin, rasanya sulit. Karena, untuk follower bukan saja diperlukan kesabaran dan keuletan semata, tetapi juga kerja keras dan strategi menghadapi persaingan menjadi point penting yang harus dipunyai. Artinya, pionir seperti Bang Ripin, tak akan pernah ada yang bisa menyamai, diakui atau tidak!

Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai karyawan swasta yang tinggal di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com