INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 04 Maret 2018

Derita Masa Senja Oma Magda

Mengisi libur akhir pekan tak selalu dengan jalan-jalan. Setidaknya itu yang aku lakukan, saat masih tinggal di rumah kontrakan – sebuah kampung di Ciracas, pinggiran Jakarta Timur – yang masih asri, sekitar akhir tahun 1990-an. Karena di hari Minggu, memang sering ada kegiatan kerja bakti warga atau pengajian ibu-ibu, sehingga aku dan istri mau tak mau harus ada di rumah, untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dan biasanya, setelah kerja bakti di pagi hari, aku gunakan bercengkerama santai di teras rumah, bersama istri yang baru aku nikahi beberapa bulan sebelumnya.
Karena kebiasaan itu pula, aku jadi hapal dengan tetangga dan pedagang yang sering lewat depan rumah. Salah satunya adalah Nek Ida, pedagang buah keliling yang menjajakan dagangannya dengan cara meletakkan sebagian buah yang dijual – diantaranya pisang, mangga, jeruk, semangka dan salak – diatas nampan bulat terbuat dari anyaman bambu. Nampan itu, kadang diletakkan di atas kepala, kadang juga ditumpuhkan pada pinggangnya. Sementara di punggungnya ada keranjang buah yang diikat dengan kain menyilang di pundaknya.
Buah yang dijual Nek Ida – begitu orang-orang memanggilnya – juga bukan yang kualitas bagus. Karena meski dibeli dari pedagang buah di pasar induk Kramat Jati, Jakarta Timur, tetapi itu adalah buah afkir yang tak lolos sortir untuk didistribusikan ke pedagang buah di pasar tradisional. Tak heran kalau buah yang dijual Nek Ida tidak lagi utuh. Buah pisang misalnya, dijual secara satuan, bukan utuh satu sisir. Demikian juga buah jeruk Bali, sudah dikupas dan dibelah-belah, tidak utuh bulat.
Penampilan Nek Ida yang agak berbeda – selalu memakai daster, bukan kain dan baju kebaya seperti perempuan seusianya pada umumnya – ditambah topi yang biasa dipakai para cady golf, serta kulit dan wajahnya yang putih bersih, menjadi gampang dikenali. Meski sebenarnya kalau disimak lagi, Nek Ida belum lama terlihat jualan di lingkungan tempat tinggalku. “Seperti orang gedongan ya, Mas. Tidak pantas jadi pedagang buah keliling,” begitu kata istriku, suatu hari.
Dari istriku pula, aku sering dapat cerita kalau Nek Ida tidak setiap hari lewat depan rumah. Bisa dua atau tiga hari sekali, atau kadang seminggu lebih tidak lewat. “Saya pernah bertanya, tapi Nek Ida cuma bilang kalau dia juga keliling ke kampung lain, jadi tidak selalu lewat sini. Lagipula, kayaknya dia bukan asli orang Betawi deh, Mas. Lihat bicara dan bahasa Indonesianya yang bagus, juga pengetahuannya yang luas banget, jadi enak kalau ngobrol dengan dia,” begitu cerita istriku di lain waktu.
Sebenarnya aku dan istriku tidak pernah membahas khusus tentang Nek Ida. Tetapi menjadi sering masuk topik pembicaraan, karena istriku yang saat itu sedang hamil anak pertama mudah sewot gara-gara nenek itu. Penyebabnya sepele, istriku sering pesan mangga muda pada nenek yang usianya sekitar 65 tahun itu, tapi tidak terpenuhi karena Nek Ida ternyata besok harinya tidak lewat depan rumah, meski ditunggu sampai sore.
Biasanya, kalau sudah sewot begitu – dan itu selalu terjadi malam hari saat aku baru pulang dari kerja – aku hanya bisa mencoba menyabarkannya, “Ya sudah, nanti-nanti kalau ngidam pengen buah mangga muda lagi, telpon Mas di kantor. Pulang kerja pasti Mas belikan, nanti Mas bisa turun sebentar di Pasar Rebo untuk beli buah kok,” ujarku pada istriku yang sengaja memutuskan berhenti bekerja setelah menikah, sambil aku rangkul pundaknya.
Hari-hari berikutnya, aku sudah mulai jarang mendengar cerita tentang Nek Ida, apalagi aku juga memenuhi janji pada istri untuk membelikan buah yang diinginkannya di kios buah yang banyak berjajar di sepanjang trotoar perempatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, saat aku pulang kerja. Bahkan pada saat memasuki kehamilan bulan ke-5, istriku malah keranjingan makan buah kiwi, yang mau tak mau aku harus beli di pusat perkulakan Makro – hanya disitu yang jual – yang lokasinya masih ada di sekitar wilayah Pasar Rebo. Lokasi yang aku lewati setiap hari, saat berangkat dan pulang kerja, dari rumah di Ciracas ke kantor di Jalan Gatot Subroto, Pancoran, Jakarta Selatan.
***
Entah di hari dan bulan apa – yang kuingat saat itu hanya beberapa hari menjelang acara tujuh bulan kehamilan istriku – pada saat aku pulang kerja, istriku tergopoh-gopoh menyambutku. Belum sempat aku menyentuh gelas berisi teh manis hangat yang sudah disiapkan di meja makan, istriku langsung bicara, “Mas, ada cerita menarik hari ini, tentang Nek Ida!” ucapan istriku begitu semangat dan intonasinya agak tinggi, seolah itu adalah berita penting yang harus segera aku dengar dan simak. Aku hanya tertawa geli, sambil berucap, “Emang semenarik apa sih? Tumben mau ngomongin Nek Ida lagi?”
Sambil meminta aku duduk di kursi makan – dan tangannya dengan cekatan menyajikan makan malam yang sudah disiapkan di meja makan – istriku menyampaikan informasi bahwa tadi siang ada tamu seorang bapak ditemani 3 orang, bertamu ke rumah. Satu orang mengaku dari kepolisian, satu orang dari Panti Werdha, dan satunya lagi Pak RT, bermaksud tanya-tanya tentang Nek Ida.
“Mereka datang kemari, karena Pak RT tahunya kita sering pesan buah pada Nek Ida. Dan bapak itu adalah anak tunggal Nek Ida, Mas,” ucap istriku dengan semangat. “Dan tahu nggak Mas, anak Nek Ida itu ternyata orang kaya yang tinggal di perumahan Kota Wisata, yang di Cibubur itu lho. Katanya kerjanya di perusahaan tambang di Kalimantan Selatan,” ucap istriku lagi, dengan masih tetap bersemangat.
Sambil menemani aku makan malam, istriku terus bercerita, bahwa awalnya Nek Ida – yang di lingkungan keluarganya dipanggil Oma Magda, karena nama aslinya Magdalena – tinggal di Semarang bersama suaminya yang purnawirawan TNI Angkatan Laut. Setelah suaminya meninggal, Oma Magda diminta anak tunggalnya tinggal bersamanya di Cibubur. Tapi Oma Magda merasa tidak cocok dengan menantu dan 2 orang cucunya yang sudah mahasiswa. Apalagi anak lelakinya itu juga sangat jarang ada di rumah, karena harus mengurus proyeknya yang ada di Kalimantan.
“Akhirnya atas usul menantunya, Oma Magda dititip di Panti Werdha yang ada di Ciracas itu lho Mas, biar punya banyak teman yang seusia katanya,” papar istriku, sambil beranjak ke dapur, membawa piring dan mangkok kotor.
Saat kembali ke meja makan – dan aku masih duduk disitu sedang mengupas jeruk – istriku melanjutkan ceritanya, “Tega banget mereka itu ya, Mas. Masak orang tua sendiri dibuang gitu, kan mereka bisa aja mengambil dan membayar perawat yang bisa menemani Oma Magda di rumah. Atau cari cara gimana supaya orang tuanya betah di rumah gitu kek,” kali ini ada nada jengkel pada ucapan istriku.
Yang langsung menambahkan lagi, bahwa selama ini Oma Magda sering kabur dari Panti Werdha, memilih berjualan buah keliling kampung – modalnya dari uang yang selalu dikirim anaknya – dan malamnya memilih menginap di depan warung atau toko di area terminal Kampung Rambutan. "Hebat juga Oma Magda itu, lari dari Panti dan naik angkot ke pasar induk Kramat Jati, terus jualan keliling ke kampung-kampung, itu kan lumayan jauh untuk seorang nenek seusianya,” kali ini istriku berkata sambil menghela nafas.
Aku tak banyak menanggapi cerita istriku yang sepertinya cukup seru. Aku hanya membayangkan, ternyata selama ini Nek Ida – atau Oma Magda, sesuai nama aslinya – selalu berpindah jualan buah keliling dari satu kampung ke kampung lain hanya untuk mencari kegiatan dan menghindari kembali ke Panti Werdha. Dia lebih memilih bersusah payah berjualan yang belum tentu menghasilkan keuntungan, daripada hidup di rumah mewah anaknya sendiri, atau juga berkumpul dengan orang-orang seusianya, walau semua kebutuhan terjamin. Sepertinya Oma Magda di masa tuanya lebih memilih susah secara lahiriah, tetapi menemukan kebahagiaan secara batin. Mungkin begitu.
Dan aku juga tidak ingin bertanya lebih lanjut ke istriku, apa rencana bapak-bapak yang tadi siang bertamu kalau sudah menemukan kembali Oma Magda. Aku hanya berucap lirih pada istriku, “Semoga kita nanti tidak mengalami hal serupa. Ini pelajaran berharga, nyatanya sebuah kebahagiaan itu tidak bisa diukur oleh kekayaan yang melimpah semata. Kita doakan saja Oma Magda bisa segera ditemukan, dan anak tunggalnya itu mendapat hidayah dari Allah untuk segera menyadari kesalahan terbesar dalam hidupnya, dengan menelantarkan ibu kandungnya sendiri.” Istriku mengangguk mengiyakan, sambil tersenyum padaku, yang terlihat semakin cantik sejak hamil anak pertama kami.
Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai karyawan swasta yang tinggal di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com