INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 11 Maret 2018

Jangan Menyerah, Yasmin!

Seperti selalu berulang, kisah nyata yang rutin aku tulis di fanpage – dengan tujuan untuk menginspirasi pembaca – menarik beberapa teman, agar perjalanan hidupnya juga bisa dimuat di rubrik ini. Meski sudah aku jelaskan bahwa ada kriteria khusus untuk bisa masuk di rubrik yang memasuki tahun ke-3 ini, tapi rata-rata meyakinkan aku bahwa kisah hidupnya juga bisa dijadikan pelajaran dan menginspirasi orang lain.
Tak terkecuali Yasmin – aku memanggilnya begitu, alasannya nanti ada di bagian lain tulisan ini – yang untuk kedua kalinya mengingatkan aku, untuk menuliskan kisah hidupnya. “Sebagai kado istimewa ulang tahun Yasmin, Mas,” begitu tulis perempuan yang minggu ini memang berulang tahun ke-40, melalui media sosial WhatsApp (WA). Aku sangat paham, kata ‘istimewa’ adalah untuk menggambarkan betapa berat beban yang harus dipikul perempuan yang bekerja sebagai Head Officer di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, terutama masalah kehidupan pribadinya.
Aku mengenal Yasmin cukup lama, bahkan ketika usianya masih remaja, sekitar 22 tahun, di tahun 2000-an. Saat itu ia baru diterima sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan ternama di kawasan Jakarta Timur, tempatku bekerja. Yasmin yang berpenampilan ceria khas gadis seusianya – ditopang tubuh langsing, dengan tinggi badan sekitar 170 centimeter, dan berambut lurus sepunggung – memang cepat dikenal di lingkungan kantor, apalagi wajah cantiknya mirip-mirip remaja Jepang atau Korea.
Dan aku makin mengenal pribadi Yasmin – secara tidak langsung – dari teman sejawatku, yang berhasil menjadi pacar Yasmin setelah berjuang beberapa bulan untuk mendapatkan cintanya. Budiman, temanku itu, sering curhat setiap ada masalah dengan Yasmin, mulai dari hal yang kecil-kecil sampai rencana masa depan mereka berdua. Budiman merasa nyaman curhat padaku, mungkin karena selain seusia, ia juga mempunyai level jabatan yang sama denganku, meski departemen yang berbeda.
Sayangnya, ketika Budiman – yang usianya lebih tua 8 tahun dari Yasmin – siap melangkah ke jenjang pernikahan, petaka justru terjadi. Hubungan mereka bubar. Menurut Budiman, pihak keluarga Yasmin-lah yang memutuskan sepihak. Kekecewaan Budiman yang sangat mendalam terus berlanjut, sampai memilih untuk resign dari perusahaan dan langsung menikah dengan gadis lain, yang kabarnya masih satu kampung dengannya. Sebelum meninggalkan perusahaan, Budiman sempat banyak cerita tentang sisi negatif Yasmin. “Dia keras kepala, egois dan cenderung materialistik,” begitu sebagian yang sempat diucapkan Budiman.
Sejak itu, hampir empat atau lima tahun aku tidak lagi mendengar kabar tentang Yasmin, meski dalam kesempatan acara tertentu di perusahaan aku masih sesekali melihatnya. Sampai akhirnya aku pindah ke departemen baru, yang mengharuskan berhubungan dengan departemen tempat Yasmin, untuk urusan perizinan produk.
Karena urusan pekerjaan itu pula, aku mulai mengenal Yasmin secara langsung, yang ternyata banyak berseberangan dengan apa yang diceritakan Budiman sebelumnya. Boleh dikata Yasmin adalah pribadi yang menyenangkan, suka bercanda dan cepat familiar dengan teman sekerja. Aku menyimpulkan demikian karena seringnya bertemu Yasmin, terutama saat akan meregistrasi produk-produk yang akan di edarkan di pasaran. Tentu saja hubunganku dengan Yasmin sebatas profesional kerja semata, apalagi saat itu aku sudah berkeluarga dan mempunyai satu orang putri cantik berusia 7 tahun.
Sayangnya, meski mempunyai penampilan dan wajah yang terbilang cantik, Yasmin sangat tertutup untuk masalah hubungan asmara. Berbeda jauh dengan rekan sekerja lain yang seusia, yang sangat terbuka dengan hal-hal seperti ini. Bahkan, hampir enam tahun sebagai mitra kerja, aku belum pernah mendengar cerita tentang hubungan pribadi Yasmin dengan lawan jenisnya. Dan kalau aku tanya tentang hal ini, Yasmin hanya menjawab singkat, “Belum ada yang mau Mas, lagian Yasmin juga mau sendiri dulu kok,” begitu alasannya, dan selalu berulang.
Sampai suatu saat, sekitar tahun 2010 – usia Yasmin saat itu 32 tahun – aku bertemu di acara pernikahan teman kantor, yang kebetulan aku diminta ikut membantu tuan rumah. Yasmin datang bersama orang tuanya. Pada satu kesempatan di acara hajatan itu, secara bergurau aku menanyakan kesendirian Yasmin pada ibunya yang sudah aku kenal, “Coba Bu, hanya tinggal Reny itu saja teman Yasmin di kantor yang masih bujangan, dan hari ini dia menikah. Terus kapan nih Yasmin menyusul?” aku berkata sambil menunjuk Reny yang duduk di pelaminan. Ibu Yasmin hanya tersenyum sedikit hambar, sambil melirik anaknya yang duduk di sebelahnya.
Sejenak kemudian, “Ibu sudah tidak kurang minta Yasmin segera menikah. Umurnya sudah cukup, pekerjaan sudah mapan, terus terang ibu dan bapak juga pengen segera menimang cucu dari Yasmin,” ibu Yasmin bicara dengan nada serius. Dan seperti biasa, Yasmin langsung berucap, “Iya Ibu, tapi belum ada yang mau serius sama Yasmin. Ya sabar dong, masa mau dipaksain sih?” Yasmin sedikit merajuk. Dan nampaknya, itu pertemuan terakhirku dengan Yasmin, sebagai teman sekerja. Karena sebulan kemudian Yasmin resign dari perusahaan.
Entah berapa lama, sudah agak lupa – mungkin lima atau enam tahun kemudian – saat aku juga sudah resign dari perusahaan lama, secara kebetulan aku melihat akun facebook (FB) Yasmin yang lama tidak di update, yang langsung aku inbox untuk menanyakan kabar beritanya. Sengaja via FB, karena nomor telepon dan WA-nya tidak pernah aktif saat aku hubungi. Dari jawaban yang ditulis satu minggu kemudian, aku mendapat informasi bahwa Yasmin sudah menduduki posisi yang cukup bagus di tempat kerjanya, meski di sisi lain ternyata dia masih belum juga mendapatkan jodoh. “Sedih juga Mas, teman-teman seusia sudah pada menikah, tapi Yasmin belum juga mendapatkan pendamping,” tulisnya, seperti curhat.
Dari komunikai berikutnya, via telepon maupun WA, Yasmin sering mengungkapkan bahwa dia tidak kurang-kurang melakukan ikhtiar agar cepat mendapatkan jodoh, “Mulai dari sharing pengalaman dengan teman-teman yang sudah menikah, minta pendapat ke ustadz ataupun ustadzah, datang ke orang pintar, sampai dikenalkan pada cowok yang dianggap cocok sama Yasmin, tapi semuanya mentok. Setiap ada yang dekat dan sudah siap ke hubungan serius, selalu berakhir putus dengan alasan yang tidak jelas. Padahal Yasmin tidak pernah menuntut yang macam-macam ataupun pilih-pilih. Sampai Yasmin kadang bertanya sendiri, ada apa pada diri Yasmin sebenarya? Dosa apa yang sudah Yasmin lakukan?” papar Yasmin dengan panjang lebar, suatu ketika dengan nada emosi bercampur sedih.
Hingga, karena aku sudah kehabisan saran, Yasmin sempat aku tanya, apakah pernah ada upaya lain seperti ruqiyah misalnya – karena aku pernah punya teman sampai usia 48 tahun belum menikah, tapi setelah di ruqiyah akhirnya dapat jodoh – Yasmin justru mengatakan bahwa sudah banyak juga yang menyarankan begitu. “Kalau menurut Mas gimana?” tanya Yasmin kemudian, balik bertanya. Yang langsung aku jawab, “Hanya Yasmin yang bisa menjawab perlu atau tidaknya, dan sebaiknya konsultasikan juga dengan ibu dan bapak. Tak ada salahnya untuk mencoba, kalau itu demi kebaikan Yasmin.”
***
Begitulah, sejak peristiwa 18 tahun silam gagal melangkah ke pelaminan bersama Budiman, Yasmin seperti jauh dari jodoh. Berbagai upaya telah dilakukan, baik olehnya maupun orang tuanya, tetapi tetap kandas setiap akan menuju jenjang pernikahan. Aku juga tak paham, faktor apa yang membuatnya seperti itu, apakah ada faktor non teknis ataukah hal diluar nalar, aku juga tidak tahu.
Nyatanya, meski boleh dibilang akrab – kalau dihitung saat masih satu kantor dulu – dan dimataku Yasmin adalah gadis ideal yang sepertinya tidak sulit untuk mencari jodoh, realitanya memang berbeda seratus delapan puluh derajat. Ia selalu gagal mendapatkan jodoh, tepat menjelang hubungan serius ke pelaminan.
Yang pasti, Yasmin – aku memanggilnya demikian, karena suara khasnya yang agak sengau dan manja mirip-mirip Jasmine Pratiwi, penyiar TPI (MNC-TV), idolaku – meski terkesan pasrah perihal jodohnya yang tak juga datang, nyatanya masih punya satu harapan dan optimisme untuk mendapatkan jodoh, meski entah kapan. “Aku gak tahu Mas, kapan jodohku itu akan datang, biarlah aku sabar menunggu, sampai kapanpun..,” begitu yang ditulis Yasmin via WA, awal pekan lalu.
Ya, jangan menyerah, Yasmin. Setidaknya, dengan ditulis di rubrik ini, ada harapan untuk mendengar suara dari pembaca – yang siapa tahu berempati – untuk berbagi saran. Dan itu, tentu bisa menjadi masukan yang berharga bagi Yasmin. Mudah-mudahan!
Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai karyawan swasta yang tinggal di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com