INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Minggu, 25 Maret 2018

Maafkan Kami, Miss Endah

Makan malam yang agak terlambat – karena seharian harus mengikuti serangkaian acara Hari TB Sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret 2018, hari ini – membuatku tak begitu berselera. Selain penat, tiba-tiba muncul banyak hal yang membuatku merasa ‘bersalah’ karena kurang peduli pada masalah kesehatan di lingkungan sekitarku.
Setidaknya, dalam tiga tahun terakhir bergabung jadi relawan penanggulangan TB, membuatku makin paham bahwa ancaman bahaya kematian akibat penyakit Tuberkulosis (TB), begitu dekat dengan kita.

Dan bersamaan itu pula, sosok Endah – gadis yang pernah membantuku saat mengelola perpustakaan desa di Kabupaten Bogor – muncul dengan jelas dalam ingatanku. Tentu saja aku tidak bisa melupakan gadis lulusan Fakultas Sastra Inggris sebuah Universitas di Yogyakarta ini, karena telah banyak membantu kegiatan sosial dan usaha yang aku bina dan kelola di Cileungsi, sebuah kota kecamatan di kawasan timur Bogor.
Salah satunya, ya perpustakaan desa yang aku sebut tadi, yang berhasil menjadi juara 1 Lomba Perpustakaan Desa tingkat Kabupaten Bogor selama 2 tahun berturut-turut dan menyabet juara 2 untuk tingkat Propinsi Jawa Barat.
Endah Ernawati, begitu nama lengkap penyuka budaya Korea – layaknya remaja Indonesia kebanyakan saat ini – aku kenal saat dia melamar menjadi staf administrasi koperasi yang aku bina, sekitar pertengahan tahun 2011. Aku agak ragu untuk menerima, karena pendidikannya yang tinggi dan statusnya yang masih guru honorer di salah satu SD Negeri di Cileungsi, jangan-jangan malah nanti meminta gaji yang tinggi.
Tetapi Pak Subur, Kepala Bagian Umum Koperasi meyakinkan aku bahwa, “Miss Endah sudah sepakat dan menerima dengan standar gaji yang kita tawarkan, Pak. Miss Endah juga ingin tantangan baru, yang bisa mengembangkan kemampuan di bidang komputer, adminsitrasi dan kemasyarakatan,” papar Pak Subur, yang memanggil gadis 28 tahun itu dengan sebutan ‘Miss’, karena sebagai guru Bahasa Inggris memang dipanggil demikian di sekolah. Aku menerima argumen tersebut dan menerima Miss Endah jadi Staf Koperasi.
Di saat yang hampir bersamaan, aku juga mendapat amanah untuk membina dan mengepalai perpustakaan desa – sebuah kegiatan sosial kemasyarakatan, diluar pekerjaan utamaku di sebuah perusahaan swasta, di Jakarta Timur – yang tak bisa aku tolak. Karena perlu tenaga muda dan handal, Endah sementara aku tarik dan perbantukan di perpustakaan desa untuk menangani administrasi, IT dan Humas.
Bahkan untuk mengasah kemampuan dan profesionalitas kerja, Endah dan Ryan (anak muda potensial, juga staf di koperasi) aku kirim untuk magang di Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor, selama 2 minggu.
Nyatanya aku tidak salah merekrut Endah. Semangatnya yang luar biasa, ditunjang kemampuan untuk menterjemahkan program dan visi yang aku sampaikan, membuat pengembangan perpustakaan desa tidak sulit dilakukan. Dalam waktu tidak lebih dari 6 bulan, perpustakaan desa sudah cukup dikenal dan mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar, khususnya anak-anak usia sekolah tingkat dasar dan menengah.
Di tangan Endah, administrasi dan dokumentasi perpustakaan – mulai dari data anggota, koleksi buku, kliping berita, sampai surat keluar dan masuk – tertangani cukup rapi. Apalagi dibantu Ryan yang membantu di operasional komputer dan IT.
Puncaknya, ketika perpustakaan desa yang aku kelola ditunjuk untuk berlomba di tingkat Kabupaten Bogor, perpustakaan tidak ada kesulitan ketika menjalani penilaian administrasi. Demikian juga saat penilaian faktual lapangan, semua operasional perpustakaan berjalan normal tanpa direkaya, pengelola bekerja seolah tidak ada tim penilai dari kabupaten yang datang.
Ini semua karena Endah dan Ryan – dibantu 2 ibu-ibu dari masyarakat sekitar yang diberdayakan jadi penjaga perpustakaan – telah menerapkan sistem dan standar operasional secara konsisten. Dan gelar Perpustakan Desa Terbaik tingkat Kabuapten Bogor pun kami raih.
Pun demikian saat maju ke tingkat propinsi, mewakili Kabupaten Bogor. Tidak ada persiapan khusus, kecuali berkolaborasi dengan ibu-ibu yayasan yang ada di lingkungan perpustakaan desa, yang menjadi mitra pemberdayaan masyarakat untuk pengembangan ketrampilan kaum perempuan. Endah berperan sebagai penghubung perpustakaan dengan mitra, yaitu Yayasan dan Koperasi, yang dijalankan dengan cukup baik. Hasilnya, gelar Juara 2 tingkat Propinsi Jawa Barat dapat kami raih.
Diluar semangat luar biasa dan kemampuannya dalam bekerja, sebenarnya penampilan Endah – yang ceria dan enerjik khas anak muda – secara fisik kurang mendukung. Badannya yang tidak terlalu tinggi, juga postur tubuhnya pun bisa dibilang kurus. Ditambah lagi wajahnya yang jarang memakai make-up, sehingga nampak pucat. Sekilas, Endah terkesan sedang menderita sakit. Meski kenyataannya, di koperasi Endah tidak pernah izin sakit, walau hari Sabtu dan Minggu sering dihabiskan di perpustakaan.
Memang, setelah lomba perpustakaan, Endah aku kembalikan ke koperasi dan hanya jika diperlukan saja datang ke perpustakaan, yang jaraknya tidak lebih dari 25 meter dari kantor koperasi.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya liburannya di perpustakaan saja, bisa ketemu dan melayani anak-anak yang berkunjung ke perpustakaan, hitung-hitung obat kangen pada anak murid saya,” begitu alasan Endah, saat aku ingatkan agar memanfaatkan waktu libur kerjanya untuk istirahat.
Kebiasaan Endah yang menghabiskan waktu seminggu untuk aktivitas di koperasi dan perpustakaan itu pula, yang sering menjadi bahan ledekan teman sejawatnya di koperasi ataupun perpustakaan. Karena sampai usia 30-an, masih juga belum ada tanda-tanda punya pendamping hidup ataupun pacar. Kalau ditanyapun, jawabannya selalu sama, “Rahasia, pokoknya ada!” tanpa pernah memberi penjelasan siapa atau dimana calonnya sekarang.
Tentu saja, Endah juga tidak bisa berkumpul keluarga besarnya – ayah, ibu, adik-adik dan kakaknya – setiap saat, karena sejak ayahnya pensiun dari sebuah perusahaan semen yang ada di Bogor, keluarga besarnya pindah ke Yogyakarta.
Endah tinggal sendiri di Cileungsi, nge-kost di kompleks perumahan dekat perpustakaan, sehingga malam minggupun lebih sering ada di perpustakaan untuk menjalankan program pemutaran film edukasi. Yaitu program penayangan film layar lebar untuk anak-anak yang tinggal di sekitar perpustakan, agar mereka tidak bermain dan berkeliaran di jalanan atau mall. Tentu saja anak-anak ini didampingi orangtuanya saat menonton.
Suatu saat, dalam sebuah rapat di koperasi, dan perpustakaan di hari berikutnya – aku mengadakan rapat evaluasi setiap hari Sabtu di koperasi dan hari Minggu di perpustakaan – aku lihat Endah memakai masker, dan sesekali batuk. Badannya juga kelihatan makin kurus dan wajahnya agak pucat. Menurut penuturannya, dia kecapekan.
Dan saat malam harinya aku konfirmasi pada Pak Subur, atasan Endah di koperasi, dijelaskan bahwa Endah punya riwayat penyakit paru-paru. “Sudah sembuh sih, Pak. Hanya kadang-kadang kalau kecapekan batuk dan demamnya juga kambuh,” begitu Pak Subur menjelaskan, yang langsung aku minta untuk memberi cuti Endah selama satu minggu.
Kesibukan di pekerjaan utamaku – yang memerlukan konsentrasi tinggi – dan juga koperasi serta perpustakaan yang aku anggap sudah berjalan stabil, membuat frekuensi kehadiranku sebagai pembina mulai aku kurangi. Hanya setiap awal bulan aku mengadakan rapat untuk mendengarkan laporan dari pengelola.
Sekitar pertengahan 2014, menjelang bulan Ramadhan, aku mendapat laporan dari Pak Subur kalau Endah mengajukan surat pengunduran diri, karena berniat pulang kampung dan menetap di Yogyakarta. “Saya diminta membantu Om untuk menjadi admin di showroom mobilnya. Sekalian biar bisa kumpul kembali dengan keluarga di Yogya, Pak,” ungkap Endah, ketika menghadap aku langsung di kantor koperasi. Aku tidak bisa menahan, meski koperasi dan perpustakaan masih memerlukan tenaganya.
Sejak itu aku tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Endah. Kalau toh sepintas tahu, itu hanya dari laman facebook-nya yang berisi penawaran penjualan mobil, dari showroom tempatnya kerja. Sampai akhirnya, di suatu siang akhir Juni 2016, melalui WA istriku mengabarkan kalau di kompleks perumahan tersebar berita Endah meninggal dunia di Yogyakarta, karena sakit paru-paru.
Ya, gadis lajang penggemar acara cosplay tokoh animasi dan komik Jepang itu meninggal di usia 33 tahun, tepat 11 hari setelah perayaan ulang tahunnya.
***
Aku terjaga dari lamunanku tentang Endah, dan perasaanku semakin sedih. Ya, tentu saja sedih, karena aku merasa terlambat mengetahui tentang tata cara penanganan penyakit TB. Aku baru aktif jadi Relawan TB ketika Endah sudah kembali ke Yogyakarta.
Meski saat itu Endah tidak bercerita tentang pengobatan penyakit TB-nya yang katanya sudah tuntas – kecuali dari Pak Subur – tapi aku yakin penyakit TB Endah saat itu kambuh kembali. Tanda-tanda penurunan berat badan drastis, sering demam, batuk tak berkesudahan dan nafsu makan berkurang adalah gejala utama penyakit TB.
Meski mematikan, penyakit TB yang banyak menyerang paru-paru tetaplah bisa disembuhkan, dengan pengobatan intensif selama 6-8 bulan. Tak ada alasan untuk menyerah, apalagi penularan penyakit ini juga cepat, hanya melalui air ludah yang keluar dari penderita saat bicara atau batuk.
Kasus yang menimpa Endah, tentu sebuah pembelajaran yang sangat berharga bagiku. Setidaknya, selain peduli dan tanggap akan kondisi keluarga, teman ataupun lingkungan sekitar, juga sudah saatnya diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap penyakit yang sudah menjadi musuh nomor satu penyebab kematian di masyarakat, yaitu TB. Semoga tidak ada kejadian atau Endah Endah berikutnya di lingkungan kita, yang akan memunculkan rasa bersalah dan menyesal di kemudian hari.
Selamat jalan, Miss Endah. Terima kasih atas bantuan, kerjasama, dedikasi dan loyalitas yang sudah total diberikan. Mohon maaf kalau kami – aku dan teman-teman – kurang paham penyakit yang Miss Endah derita saat itu. Beristirahatlah dengan tenang dan damai di sisi Allah, Miss!
***
Catatan:
** Sebuah tulisan yang aku dedikasikan buat sahabat dan rekan sejawat (Alm) Endah Ernawati (17 Juni 1983 – 28 Juni 2016)
Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com