INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Senin, 11 Juni 2018

Hormati Orang yang (Tak) Berpuasa

Tanpa terasa lebaran sudah tinggal menghitung hari, tak lebih dari jumlah jari tangan sebelah kanan atau kiri. Suasana puasa bulan Ramadhan pun nyaris tak terlihat di sekeliling kita. Di kantor, di terminal, di pasar, ataupun di mal-mal sudah bukan pemandangan aneh lagi kalau melihat beberapa orang sedang merokok, ataupun dengan santainya melahap makanan. Tanpa sungkan.
Padahal, di beberapa tempat strategis – terutama di tempat-tempat yang saya sebut tadi itu – jelas-jelas bisa dilihat dan baca dengan kasat mata, banyak terpasang spanduk yang mengingatkan agar menghormati orang yang sedang berpuasa. Lantas, perhormatan macam apa yang sudah dilakukan orang-orang yang makan minum di area terbuka tersebut terhadap muslim yang sedang berpuasa?

Tenaaang.., seperti biasa – dalam tulisan di Secangkir Teh Mas Prie – saya tidak akan membahas hal serius dan sensitif masalah puasa ini, yang memang bukan porsi saya. Kalau boleh jujur, saya hanya ingin mengungkapkan keprihatinan atas melunturnya nilai tepo seliro (baca: saling menghormati) pada masyarakat kita. Tidak lebih.
Memang, seperti yang saya baca di media sosial, beberapa orang mengajukan argumen yang tak dapat disangkal – karena mengacu pada pedoman agama – bahwa seseorang diperbolehkan tidak puasa karena 1) musafir atau dalam perjalanan, 2) sedang sakit, 3) anak-anak, 4) sedang menyusui, 5) sedang haid, 6) orang jompo, 7) orang-orang non-muslim. Dengan kata lain, Allah memberi privilege langsung untuk mereka.
Cuma, saya tetap belum sreg di hati – ini uneg-uneg yang tidak memerlukan jawaban sebenarnya – karena esensi pertanyaan saya adalah mengapa makin luntur budaya menghormati orang yang sedang berpuasa di negeri ini?
Saya masih ingat, di desa saya – saat saya masih usia SD, akhir tahun 70-an – hanya untuk membeli rujak cingur dan bubur sumsum untuk ibu di warung Mbah Mantri, saya harus tengok kanan kiri dulu sebelum jalan ke warung. Dan saya harus lewat pintu belakang warung, karena selama bulan Ramadhan warung Mbah Mantri yang sangat terkenal itu tutup untuk umum. Ibu tidak berpuasa karena sedang menyusui.
Kalau toh para tetangga masih bisa membeli rujak cingur ataupun bubur, itu karena Mbah Mantri mengikuti permintaan warga sekitar yang minta tetap jualan secara terbatas untuk melayani para ibu yang sedang hamil, menyusui, atau warga yang sakit semata. Itupun dengan syarat membelinya harus lewat pintu belakang dan tidak menyolok dari pandangan warga yang sedang berpuasa.
Itu hanya contoh kecil semata. Karena kenyataannya, selama bulan Ramadhan memang di desa saya yang menjadi ibukota kecamatan itu tidak ada satupun warung yang buka, dan akan semarak dengan penjual makanan pinggir jalan ketika menjelang maghrib tiba. Juga, jangan harap menemukan orang yang dengan seenaknya merokok di tempat umum seperti terminal, pasar, kantor, ataupun melihat anak-anak sekolah yang jajan di sekolah. Benar-benar suasana puasa sangat kental terasa.
Dan itu, berubah drastis ketika saya menyempatkan pulang kampung 20 tahun kemudian. Tak beda dengan di Jakarta – tempat saya mencari sesuap nasi – saya tidak menemukan suasana bulan puasa yang khidmat. Yang ada justeru suasana persis seperti apa yang saya tulis diawal.
Saya tidak pandai untuk membuat kesimpulan. Tapi, menghormati orang yang tidak puasa adalah sebuah keniscayaan, mengingat yang diperintahkan puasa hanyalah umat muslim saja. Pun demikian, masih ada istisna’ (baca: pengecualian), Allah membolehkan beberapa kategori orang untuk tidak berpuasa. Ini artinya, juga boleh makan atau membuka warung bagi mereka yang gugur kewajiban puasa di bulan Ramadhan.
Ya sudahlah, mungkin zaman telah berubah, budaya tepo seliro sudah terkikis. Kalau toh kemudian yang banyak bertebaran justru tulisan “Hormati orang yang tidak berpuasa” itu mungkin sudah dianggap biasa. Lagipula, setidaknya saya masih bisa bersyukur, karena pernah hidup di zaman “orang puasa benar-benar dihormati”. Ya, syukur Alhamdulillah!
Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com