INSPIRASI PAGI SEMBARI MINUM TEH

Kamis, 14 Juni 2018

Memaknai Wejangan Sunan Kalijaga pada Mantan Begal

Di tengah hingar bingar acara hiburan di puluhan televisi swasta nasional – yang saling bersaing merebut perhatian pemirsanya – di jam makan sahur, saya justru terkesima dengan salah satu tayangan di stasiun televisi daerah yang ada di pinggiran Jakarta. Yaitu sebuah features kehidupan para orang tua yang ditinggal anaknya merantau, entah kemana, yang sudah beberapa kali lebaran tidak pulang, bahkan tanpa kabar.
Sungguh membuat hati trenyuh siapapun yang melihatnya. Apalagi salah satu orang tua – yang anaknya katanya pamit kerja di Malaysia, tapi sudah 5 tahun tak ada kabar – sambil menangis sesenggukan minta kepada siapapun yang menonton televisi dan pernah melihat atau bertemu ananknya, agar menghubunginya melalui stasiun televisi yang mewawancarainya.

“Setiap menjelang lebaran, saya selalu meratapi dan menangis sedih, ingat anak saya. Saya ingin ia pulang, ingin bertemu walau sebentar..,” ujar ibu di televisi itu, dengan suara parau. Tak ketinggalan di layar ada teks yang menampilkan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Entah cara berpikir saya yang terlalu jauh – atau terhanyut oleh suasana tayangan di televisi itu – yang pasti saya jadi teringat sebuah tulisan di salah satu buku Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun, yang saya baca berulang kali saat kuliah dulu. Yaitu kisah Sunan Kalijaga yang berhasil menakhlukkan seorang begal dan memberi penyadaran tentang hakikat seorang anak.
Dalam tulisan tersebut, Cak Nun dengan gaya tulisannya yang khas Jawa Timuran, menceritakan bahwa suatu ketika Sunan Kalijaga berhasil membuat seorang begal kejam yang beroperasi di kawasan hutan dan jalanan sekitarnya bertekuk lutut.
Dan setelah melalui proses penginsyafan yang dilakukan Sunan Kalijaga, yang membuat si begal merasa menjadi manusia normal yang mempunyai rasa berdosa, teringatlah ia akan istri dan anaknya yang sudah ditinggalkan bertahun-tahun. Rasa menyesal membuat begal itu menangis setiap malam, dan pamit pada Sunan Kalijaga untuk menemui mereka kembali.
Apa daya, menurut penduduk di desanya, istrinya telah lama meninggal. Sedang anaknya dibawa pergi seseorang, entah siapa dan kemana tujuannya. Dalam kecamuk hatinya yang marah, sedih, juga hancur, menyeret langkah si begal itu pergi mengembara, menjelajah puluhan desa, sambal meratap, “Dimanakah engkau wahai anakku?”
Singkat cerita, si mantan begal yang sudah amat kurus, berwajah pusat dan hatinya hancur itu suatu ketika ditemukan Sunan Kalijaga di tepian hutan, dalam keadaan yang sudah diujung stres.
Dengan bijak Sunan Kalijaga berucap, “Nak, semua anak di muka bumi ini berasal dari Allah, dan senantiasa dijaga-Nya. Ia bukan milikmu dan tak berhak menguras tangismu sampai habis. Bahkan sesungguhnya engkau sendirilah yang memeras jiwa dan tangismu sendiri. Kini berhentilah mengembara. Berbuatlah baik kepada siapa saja, maka engkau akan memperoleh perbuatan baik juga.”
Dan Sunan Kalijaga melanjutkan ucapannya, “Santunilah setiap anak, maka anakmu insha Allah disantuni oleh orang entah siapa yang diutus-Nya. Perbuatan baikmu kepada setiap anak adalah undangan bagi pertemuanmu dengan anakmu, di dunia ini atau di akhirat nanti…”
Seketika si mantan begal mendapat ketenangan jiwa yang luar biasa mendengar wejangan dari Sunan Kalijaga tersebut.
Nah, kalau Anda – pembaca tulisan ini – lantas bertanya apa hubungannya antara ibu yang menangis sesenggukan di acara televisi daerah, dengan si mantan begal yang sudah dalam level stres tingkat tinggi tadi? Jawabannya sederhana, ‘sama-sama kehilangan anak’. Meski dalam perspektif yang berbeda.
Lalu, kalau Anda memaksa mau jawaban yang tidak sederhananya, jawabannya adalah bahwa sesungguhnya segala hal yang kita punya adalah ‘titipan’ Allah. Jadi, janganlah sombong kalau memiliki hal yang berlebih, dan jangan bersedih kalau kehilangan hal yang kita sayangi. Begitu kira-kira.
***
Share:

0 komentar:

Page View

Mas Prie

Mas Prie
Aku suka menulis sejak SD. Bahkan, ketika sudah berkeluarga -- dan dikaruniai 3 orang putra putri -- hobi menulis tetap aku lakukan. Sebagai wiraswasta yang tinggal di Bogor, aku sangat menikmati dunia tulis menulis ini.

Popular Posts

Cari di Blog Ini

@SUGENG PRIBADI. Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Blog

  • SEO Stats powered by MyPagerank.Net
  • Google PageRank Checker Powered by  MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net My Ping in TotalPing.com

    "LIKE" Blog ini

    Pengikut

    Follow by Email

    Copyright © Secangkir Teh Mas Prie | Powered by Blogger Design by PWT | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com